GEGARA Dibom Israel, Alma Kehilangan Seluruh Keluarga dalam Semalam!

- Penulis

Minggu, 31 Maret 2024 - 23:55 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Alma Jaroor (12). [bbc]

Alma Jaroor (12). [bbc]

SuarIndonesia — Dalam video yang direkam oleh petugas keselamatan Palestina, sebuah teriakan terdengar dari bawah tumpukan beton yang hancur.

“Nama saya Alma,” terdengar teriakan dalam video itu.

“Jangan bantu saya dulu. Bantu ibu dan ayah saya. Dan tolong bantu adik saya, Tarazan. Dia masih bayi, usianya 18 bulan,” sambungnya.

Saat itu masih pagi, 2 Desember 2023, Alma Jaroor yang berusia 12 tahun terperangkap di bawah puing-puing bangunan lima lantai di pusat kota Gaza selama lebih dari tiga jam.

“Saya ingin bertemu saudara laki-laki dan perempuan saya,” teriaknya.

“Saya merindukan mereka,” ujarnya.

Namun petugas penyelamat menghampiri Alma terlebih dahulu. Ia berhasil memanjat keluar tanpa bantuan petugas dari lempengan beton bergerigi dan batang logam bengkok.

Ia berselimut debu, namun tidak menderita luka-luka serius. Para petugas bertanya di mana keluarganya. Alma menunjuk ke arah puing-puing di kanan dan kirinya.

‘Tubuh keluarga saya membusuk di bawah reruntuhan’
Tiga bulan kemudian, Alma menceritakan kisahnya kepada BBC secara rinci dan mendalam.

Pamannya, Sami, duduk di dekatnya. Alma sedang berlindung bersama pamannya dan keluarganya di sebuah tenda di Rafah, Gaza selatan.

Kata-kata yang diucapkan Alma dipenuhi kengerian dan kehilangan.

“Saya mengingat diri saya terbangun di bawah reruntuhan. Saya memeriksa iPad saya, dan melihat saat itu pukul 09.00. Saya berharap saudara laki-laki saya Tarazan masih hidup.

“Saya memanggilnya, dan tetap berharap bahwa salah satu dari mereka ada yang masih hidup.

“Saya bisa mencium bau darah yang menetes di atas saya. Saya berteriak minta tolong kepada siapa pun untuk menyelamatkan kami. Saya mendengar orang lain berteriak-teriak juga. ”

Namun setelah Alma diselamatkan, dia melihat jenazah Tarazan.

Alma Jaroor (kiri) bersama dengan Almarhum Tarazan, adik lelakinya yang berusia 18 bulan. [bbc]
“Saya mengangkat selimut yang menutupi adik saya. Saya menemukannya dalam keadaan yang tak terbayangkan,” katanya, “kepalanya terpenggal.”

Setelah mengucapkan itu, Alma terdiam. Ia dihantui oleh kejadian yang tidak bisa ia lupakan.

“Saya ingin mati setelah melihat saudara laki-laki saya dalam keadaan itu,” katanya.

“Dia baru berusia 18 bulan. Apa yang telah dia lakukan dalam perang ini?”

Tarazan bukan satu-satunya anggota keluarganya yang tewas.

Alma Jaroor (kanan) bersama saudara perempuannya Almarhumah Reehab (tengah) dan saudara lelakinya Almarhum Ghanem (kiri). [bbc]
Seluruh keluarganya meninggal, mereka terbunuh berdampingan orang tuanya Mohammed (35) dan Naeema (38) dua saudara laki-lakinya Ghanem (14) dan Kinan (6) dan saudara perempuannya Reehab (11).

Orang tua Alma telah berusaha keras untuk menghindari pengeboman Israel dan menjaga anak-anak mereka supaya aman.

Alma memberi tahu kami tempat pertama tempat keluarganya melarikan diri telah dibom, dan yang kedua pun bernasib sama. Di tempat ketiga, bom mendarat tepat di atas mereka.

Kerabat Alma mengatakan bangunan tempat mereka tidur roboh akibat serangan udara Israel. Tentara Israel mengatakan kepada kami bahwa mereka tidak dapat mengomentari klaim ini tanpa titik koordinat bangunan tersebut.

“Kami bahagia bersama sekeluarga,” Alma menuturkan.

“Kami biasa saling berpelukan ketika kami merasa takut. Saya berharap saya bisa memeluk mereka semua. Saya tidak punya cukup waktu dengan mereka.”

Kini, ia masih menunggu agar bisa menguburkan mereka. Hanya jasad Tarazan yang ditemukan.

“Ada 140 pengungsi [warga Gaza yang berpindah akibat perang] di gedung itu, dan hanya beberapa mayat yang ditemukan,” katanya.

“Tubuh keluarga saya membusuk di bawah reruntuhan. Saya rindu melihat mereka dan menguburkan mereka dengan layak.”

Anak-anak Gaza menjadi yatim piatu perang
Terkadang, Alma dapat melupakan meski hanya sesaat semua yang telah hilang darinya.

Baca Juga :   TAIPEI OPEN 2026: Leo/Daniel Juara Sikat Wakil Malaysia

Ia duduk di lantai tenda yang dingin bersama sepupu-sepupu mudanya.

Mereka membuat layang-layang dari potongan plastik dan dengan imajinasi. Alma bergabung, mengobrol dan tersenyum.

Ia tak lagi menangis sepanjang waktu, katanya, karena dia tahu bahwa orang tuanya “bahagia di surga”.

Dia telah menemukan kenyamanan dengan keluarga pamannya Sami, tetapi bukan keamanan.

Seperti anak-anak lain di Gaza, dia bisa tewas kapan saja.

Mereka yang berada di Rafah tergolong rentan, karena Israel terus mengancam melakukan serangan darat.

Rafah merupakan tempat berlindung bagi 1,4 juta warga Palestina.

Perang di Gaza dipicu oleh serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober, yang menewaskan sekitar 1.200 warga Israel, kebanyakan dari mereka adalah warga sipil.

Sejak itu, anak-anak Gaza telah membayar harga yang mengerikan.

Lembaga anak-anak PBB, Unicef, mengatakan sebanyak 13.000 anak di Gaza telah dibunuh oleh Israel sejak perang dimulai, mereka menyebut tingkat pembunuhan itu “mustahil”.

Alma Jaroor sekarang tinggal bersama dengan pamannya, Sami, dan sepupunya. [bbc]
Pejabat kementerian kesehatan yang dikelola Hamas mengatakan bahwa jumlah korban tewas secara keseluruhan dalam perang setidaknya mencapai 31.923 jiwa.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganggap angka mereka “kredibel” dan mengatakan angka sebenarnya bisa lebih tinggi lagi.

Israel mengatakan pihaknya melakukan semua yang bisa dilakukan untuk meminimalisir korban sipil.

Warga Palestina membantah klaim Israel dengan mengatakan banyak bom telah dijatuhkan di bangunan tempat tinggal yang penuh dengan pengungsi, membunuh keluarga-keluarga seperti keluarganya Alma.

Kerabatnya membagikan foto dengan kami. Foto itu menunjukkan Alma tersenyum lebar, dikelilingi oleh enam sepupu mudanya. Semua sudah mati, kecuali dia.

Mereka tewas dalam serangan 2 Desember 2023, bersama dengan keluarga intinya.

Dan sekarang ada berapa banyak lagi anak seperti Alma yang harus kehilangan ayah dan ibu mereka?

Perang telah membuat setidaknya 20.000 anak menjadi yatim piatu pada akhir Februari, menurut informasi awal yang dikumpulkan oleh para peneliti dari Pusat Hak Asasi Manusia Palestina, organisasi sipil independen yang didukung oleh Uni Eropa yang beroperasi langsung di Gaza.

Jumlah sebenarnya mungkin lebih tinggi, menurut organisasi tersebut, namun itu tidak dapat dikonfirmasi karena kesulitan dan risiko mengakses informasi di Gaza.

Apa yang diharapkan Alma?
Di sepetak tanah, di antara deretan tenda, Alma bermain jingkat dengan anak-anak pamannya Sami, melompat dari persegi ke persegi.

Ia terlihat bahagia dan santai. Ini juga merupakan momen ketika ia bisa melupakan rasa kehilangannya.

Sebelum perang mengambil segalanya, Alma suka bernyanyi, dan bercita-cita menjadi dokter seperti yang diinginkan ayahnya.

Keluarga Alma Jaroor  berdiri di tengah (Alma), bersama sepupu-sepupunya yang juga tewas dalam serangan udara yang dilaporkan. [bbc]
“Saya memiliki impian yang ingin saya capai,” tutur Alma.

“Tetapi sekarang saya tidak memiliki mimpi lagi. Saya merasakan sakit di hati saya dan itu akan tinggal bersama saya sepanjang sisa hidup saya.

“Karena mereka adalah keluarga saya, orang tua saya, saudara perempuan dan saudara laki-laki saya. Dan mereka semua hilang, dalam satu malam.”

Sekarang, Alma hanya ingin melarikan diri dari Gaza dan menghubungi neneknya, yang tinggal di luar negeri.

“Saya ingin mendatanginya, memeluknya, dan merasa aman,” katanya. [*/UT]

*) BBC Indonesia – detikNews

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

VICTOR DENMARK OPEN 2026: Fajar/Fikri Juara!
RACE MotoGP Mandalika 2026: Marco Bezzecchi Juara, Rider Aprilia Dominan
FIFA ASEAN Cup 2026: Timnas Indonesia Juara Lewat Drama Adu Penalti
RACE MotoGP Jepang 2026: Marc Marquez Tempel Jorge Martin, Beda 2 Poin
RACE MotoGP Austria 2026: Kemenangan Perdana Pedro Acosta!
MOTOGP San Marino 2026: Marc Marquez Juara dan Puncaki Klasemen
BANJIR Nepal-China: Korban Tewas Bertambah 1.280 Orang, 5.260 Masih Hilang
BANJIR Nepal-China: Korban Tewas 919 Orang dan 4.800 Hilang

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 23:06

LIGA 2 CHAMPIONSHIP: Barito Putera Kandaskan PSBS Biak 3-0

Jumat, 23 Oktober 2026 - 20:21

KASUS EMPAT PELABUHAN: KPK Periksa Mantan Kepala KSOP Samarinda

Jumat, 23 Oktober 2026 - 20:13

26 OKTOBER, Korlantas Polri Gelar Operasi Patuh 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 - 20:08

243 ORANG dan 13 Korporasi jadi Tersangka Karhutla

Kamis, 22 Oktober 2026 - 22:19

PERUSAHAAN ASING Dicurigai sebabkan Karhutla Kalimantan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 22:04

RATUSAN BUMN DIPANGKAS Demi Hemat Anggaran Rp50 Triliun

Kamis, 22 Oktober 2026 - 21:56

PENERTIBAN KAWASAN HUTAN tetap Lanjut Meski Ada Perlawanan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 21:40

DISIAPKAN Ratusan Titik Rumah Oksigen-Mobil Keliling Karhutla

Berita Terbaru

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) A Muhaimin Iskandar batau Cak Imin dalam rangka Peringatan Hari Santri di Pondok Pesantren Al Falah Putera Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Sabtu (24/10/2026). (Foto: Kemenko PMK)

Kalsel

MENKO PM: Pelibatan Pesantren untuk Mencegah Karhutla

Minggu, 25 Okt 2026 - 22:14

Tim mempersiapkan pelaksanaan OMC di Kalteng. (Foto: Istimewa)

Kalteng

MEMBURU HUJAN TURUN, 7,2 Ton Bahan Semai Ditaburkan

Minggu, 25 Okt 2026 - 21:05

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca