SuarIndonesia — Kementerian Kesehatan menyiapkan ratusan fasilitas rumah oksigen serta layanan mobil keliling guna memberikan pertolongan cepat bagi masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan akibat paparan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Dr dr Ten Suyanti di Jakarta, Kamis (22/10/2026), menjelaskan bahwa rumah oksigen dihadirkan dalam bentuk ruangan atau bangunan khusus yang dilengkapi dengan pasokan oksigen, baik menggunakan oksigen konsentrat maupun tabung oksigen konvensional.
“Fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan oleh masyarakat yang merasakan keluhan sesak napas, penurunan saturasi oksigen, atau ketidaknyamanan akibat polusi asap karhutla untuk segera mendapatkan pertolongan pertama,” kata dia.
Dia menjelaskan bahwa dalam operasionalnya, keberadaan rumah oksigen di berbagai daerah tidak hanya menyediakan pasokan oksigen, tetapi juga disiagakan tenaga kesehatan berupa perawat untuk melakukan pemantauan kondisi pasien serta memberikan obat-obatan simtomatis apabila diperlukan.
Layanan darurat tersebut kini telah diperluas hingga menjangkau sekitar 491 titik lokasi di daerah terdampak asal karhutla, khususnya di enam provinsi prioritas yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Adapun penyebaran rumah oksigen dapat dipantau oleh masyarakat secara real-time melalui aplikasi https://ictwatch.id/digital/karhutla/ yang khusus yang disiapkan oleh pemerintah.
“Bisa dicek lokasinya melalui aplikasi itu, titiknya di mana saja, dan ini bebas diakses publik ya,” kata dia.
Selain fasilitas bangunan menetap yang sebagian besar terintegrasi di fasilitas kesehatan seperti puskesmas, dia memastikan bahwa pemerintah daerah juga mengoperasikan layanan jemput bola berupa mobil keliling bergerak yang dilengkapi dengan perangkat oksigen konsentrat untuk menjangkau warga.
Dia berharap keberadaan ratusan titik rumah oksigen dan armada mobil keliling ini dapat mempermudah akses pelayanan kesehatan darurat bagi masyarakat di daerah, khususnya kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak yang rentan mengalami gangguan pernapasan parah di tengah gempuran kabut asap karhutla.
Kemenkes mencatat akumulasi kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat dampak karhutla telah mencapai 333.470 kasus. Dari total kasus kumulatif tersebut, jumlah penderita harian tercatat masih sebanyak 4.522 kasus, 75.172 kasus pada kelompok balita di bawah usia lima tahun serta 258.258 kasus pada kelompok usia di atas lima tahun.
Tangani 333.470 kasus ISPA dampak karhutla
Sementara itu, dilansir dari Antara, Kemenkes mencatat akumulasi kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah terdampak telah mencapai 333.470 kasus.
Dr dr Ten Suyanti, mengatakan bahwa dari total kasus kumulatif tersebut, jumlah penderita harian tercatat masih sebanyak 4.522 kasus.
“Perhatian khusus juga difokuskan pada kelompok rentan yang meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma atau PPOK, serta para pekerja di luar ruangan,” kata dia.
Dia memaparkan bahwa berdasarkan pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) terkini kualitas udara di sejumlah wilayah dilaporkan berada pada kategori berbahaya, khususnya enam provinsi prioritas karhutla yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah. (*/ut)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















