SuarIndonesia – Upaya menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah terus mencari terobosan baru. Salah satu inovasi yang mulai dilirik Pemerintah Provinsi Kalteng adalah penggunaan busa sabun untuk membantu memadamkan api.
Teknologi tersebut sebelumnya telah diuji oleh peneliti Universitas Palangka Raya (UPR). Gubernur Kalteng Agustiar Sabran bahkan mengaku telah melihat dan mencoba langsung metode tersebut saat berkunjung ke UPR.
“Kita koordinasikan dulu. Kita cari dulu barang dan alatnya. Kemarin saya juga sudah melihat dan mencoba saat berkunjung ke UPR,” ujar Agustiar, Jumat (4/9/2026).
Menurut Agustiar, inovasi seperti penggunaan busa sabun layak dipertimbangkan sebagai alternatif dalam penanganan karhutla, terutama jika nantinya terbukti mampu meningkatkan efektivitas pemadaman.
Pemprov Kalteng, kata dia, membuka peluang untuk memberikan dukungan terhadap pengembangan teknologi tersebut. Namun, dukungan itu tidak serta-merta membuat metode tersebut langsung diterapkan di lapangan.
Agustiar menegaskan, teknologi baru harus melalui pengujian secara menyeluruh. Efektivitas, keamanan, kesiapan peralatan hingga ketersediaan bahan harus dipastikan sebelum digunakan secara luas.
“Bisa saja. Makanya, masalah ini tidak boleh sembarangan. Kita buktikan lagi,” tegasnya.
Pemprov Kalteng selanjutnya akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mengevaluasi hasil pengujian sekaligus melihat kesiapan teknologi tersebut jika nantinya digunakan dalam operasi pemadaman.
“Kehadiran inovasi ini diharapkan dapat menambah pilihan strategi dalam menghadapi karhutla, khususnya pada kondisi kebakaran di kawasan yang sulit dijangkau atau memiliki karakteristik lahan tertentu,” pungkasnya.
Inovasi tersebut tidak muncul secara tiba-tiba. Pengembangan pemadaman kebakaran gambut menggunakan bahan berbasis sabun telah dilakukan UPR melalui CIMTROP bersama Shabondama Soap Co, Ltd. dari Jepang sejak 2011.
Setelah sempat terhenti akibat pandemi COVID-19, pengembangan teknologi tersebut kembali dilanjutkan. Uji coba terbaru dilakukan di kawasan gambut UPR pada 3 September 2026 dengan melibatkan pihak terkait, termasuk Polda Kalimantan Tengah.
Dalam penerapannya, cairan konsentrat sabun dicampurkan dengan air. Komposisinya sekitar satu persen konsentrat sabun, kemudian digunakan untuk membantu proses pemadaman.
Penggunaan busa diharapkan membuat air lebih efektif menjangkau bagian lahan yang terbakar. Hal ini menjadi penting dalam penanganan kebakaran gambut karena api tidak selalu terlihat di permukaan, tetapi dapat menjalar dan bertahan di bawah lapisan gambut.
Hasil pengalaman di lapangan menunjukkan campuran tersebut dapat membantu proses pemadaman hingga ke bagian gambut yang terbakar.
Teknologi yang dikembangkan juga diarahkan menggunakan sistem inline. Dengan sistem ini, konsentrat sabun dapat dicampurkan dengan air ketika proses pemadaman berlangsung sehingga tidak membutuhkan proses pencampuran secara manual dalam jumlah besar.
Meski demikian, penerapannya masih membutuhkan penyempurnaan. Salah satu persoalan yang ditemukan dalam uji coba adalah sistem aliran yang berpotensi menyebabkan air kembali masuk ke wadah konsentrat sabun.
Karena itu, teknologi tersebut masih terus dievaluasi sebelum benar-benar diterapkan secara luas dalam operasi pemadaman karhutla.

3 Kasus Karhutla Kotim Naik Penyidikan
Sementara itu, dilansir dari detikKalimantan, penanganan karhutla di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, memasuki babak baru. Polisi mulai memburu fakta di balik sejumlah kebakaran dengan menaikkan tiga laporan ke tahap penyidikan.
Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zulkarnain mengatakan, selain tiga kasus yang sudah masuk tahap penyidikan, kepolisian juga masih mendalami satu kejadian kebakaran yang berlangsung di lahan konsesi.
“Tiga masuk penyidikan. Setiap kejadian karhutla yang ditemukan akan kami tindaklanjuti. Kalau dalam proses penyelidikan dan penyidikan ditemukan adanya unsur pidana, tentu akan kami proses sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” kata Resky, Jumat (4/9/2026).
Untuk mengungkap penyebab kebakaran, penyidik tidak hanya mengandalkan keterangan di lapangan. Sejumlah saksi telah diperiksa, sementara lokasi kejadian juga menjalani olah tempat kejadian perkara (TKP).
Barang bukti yang ditemukan turut dikumpulkan dan diperiksa untuk membantu penyidik merangkai kronologi sekaligus memastikan dari mana api berasal.
“Penyidik masih melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi, olah TKP dan mengumpulkan barang bukti. Semua itu dilakukan untuk memastikan bagaimana kebakaran terjadi,” jelasnya.
Sementara itu, kasus kebakaran yang terjadi di lahan konsesi masih berada dalam tahap penyelidikan. Polisi belum mengambil kesimpulan terkait penyebab kebakaran maupun kemungkinan adanya unsur pidana.
“Khusus yang terjadi di lahan konsesi, masih dalam proses penyelidikan dan pendalaman. Kami ingin memastikan penyebabnya secara jelas dan tidak ingin mengambil kesimpulan sebelum seluruh fakta dan bukti diperoleh,” ujarnya.
Di tengah meningkatnya ancaman karhutla, Resky mengingatkan masyarakat maupun perusahaan untuk tidak menggunakan api secara sembarangan.
Menurutnya, kebakaran yang awalnya hanya berasal dari titik kecil dapat dengan cepat meluas, terutama dalam kondisi lahan yang kering. Dampaknya pun tidak hanya merusak lingkungan, tetapi dapat mengganggu kesehatan serta aktivitas masyarakat.
“Jangan melakukan pembakaran hutan dan lahan secara sembarangan. Dampaknya bukan hanya kepada lahan yang terbakar, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan masyarakat, aktivitas sosial dan ekonomi,” tegasnya.
Polisi memastikan penanganan karhutla akan terus dilakukan, terutama terhadap setiap kejadian yang berdasarkan hasil penyelidikan ditemukan memiliki indikasi tindak pidana. (*/ut)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















