Walikota Tak Buatkan Rumah, Silahkan Tinggal di Rumah Singgah

Walikota Tak Buatkan Rumah, Silahkan Tinggal di Rumah Singgah

Suarindonesia – Memasuki hari kelima,setelah dibongkar, 20 warga yang sebelumnya tinggal di bawah kolong Jembatan Antasari, dan mereka pun bertahan di sana, ternyata tak membuat Walikota H Ibnu Sina melemah.

Bahkan petinggi Pemko Banjarmasin dengan tegas tak akan menyediakan rumah buat mereka. Jika tetap bertahan hidup di sebelah pagar kolong jembatan, Pemko Banjarmasin dengan tegas mengusir mereka karena sudah ada pemasangan pagar di kolong Jembatan Antasari.

Walikota Banjarmasin, H Ibnu Sina, yang dikonfirmasi mengatakan Satpol PP tetap menindak tegas terhadap 20 orang itu yang masih bertahan di bawah Jembatan Antasari itu.

Menurut Ibnu, pemasangan pagar demi menekan kekumuhan di kawasan bantaran sungai di Kota Banjarmasin.

“Jika mau silahkan di rumah singgah, kalau membuatkan rumah pun, Pemko ngak ada anggaran,’’ ucap Ibnu Sina.

“Kita masih dalam tahap pembicaraan bersama para pihak terkait. Dalam waktu dekat akan ada tindakan penertiban untuk wilayah sisi jembatan maupun kolong jembatan untuk disterilkan.

Mereka akan diangkut oleh Sapol PP “Entah kemana ini masih dikordinasikan,” ucap Walikota H Ibnu Sina kepada wartawan, Minggu (16/12).

Ibnu mengaku sempat membaca berita soal penghuni kolong minta dibangunkan rumah. Ibnu berkata keinginan itu sebuah gagasan yang sulit dieksekusi.

Kalaupun dipenuhi, kata Ibnu, ada kemungkinan masyarakat yang lain menuntut hal yang sama.

Solusinya, kata dia, kemungkinan mereka akan ditaruh di rumah singgah. “Jika tidak, mereka akan ditawarkan tinggal di rusunawa eks Bagau. Ini relatif murah harga sewanya. “Pokoknya secepatnya mereka harus dijauhkan dari kawasan yang akan disterilkan, mungkin besok atau lusa,” ujar Ibnu Sina.

Sebelumnya, Julaiha, salah seorang warga kolong jembatan, meminta Pemerintah Kota Banjarmasin menyalurkan bantuan berupa tempat tinggal dan pekerjaan bagi warga yang tinggal di kolong Jembatan Antasari.

“Saya ini tidak mau tinggal di rusunawa. Jauh soalnya dengan kerjaan saya memulung sampah di kawasan Jembatan Antasari ini,” ungkap Julaiha.

Julaiha dan kawannya lebih memilih menetap di bawah jembatan karena bingung harus ke mana dan berbuat apa.

Julaiha keberatan ongkos sewa di rusunawa. Apalagi Julaiha cuma mengumpulkan sampah plastik yang larut di sungai untuk dijual ke pengumpul sampah.
“Tidak bisa kami di rusunawa, itu kan sewa mana bisa kami bayar,” kata Julaiha. (SU)

 186 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: