SuarIndonesia – Warga RT 27, Simpang Sungai Jelai, Kelurahan Basirih Selatan, Kecamatan Banjarmasin Selatan sudah lama memimpikan memiliki akses yang mudah di lingkungannya.
Tidak muluk-muluk, mereka hanya ingin ada akses berupa jalan berbahan cor beton atau urukan tanah yang bisa digunakan dalam beraktivitas sehari-hari.
Benar saja, impian warga di kawasan tersebut ternyata bukan sekadar isapan jempol saja. Pasalnya saat mendatangi kawasan tersebut, sama sekali tidak ada jalan yang kokoh untuk dilalui warga.
Di sana hanya ada jalan setapak yang bisa dibilang masih serabutan. Beberapa hanya berupa titian kayu tua dan tumpukan jerami padi.
Sebagian lain, hanya tanah bekas rawa yang ditumpuk warga secara gotong royong. Yang bila air pasang, maka jalan lingkungan akan terendam. Dan genangan, bisa sampai teras rumah.
Kondisi itu sudah rupanya sudah dialami warga sekitar susah sejak puluhan tahun.

Bahkan, Junaidi salah satu warga di Simpang Sungai Jelai menceritakan, jika air sudah memasuki fase pasang tinggi, jalanan di permukiman tersebut sudah pasti terendam sekitar mata kaki orang dewasa.
Setelah surut, kondisi jalanan di permukiman itu becek dan licin akibat terendam air.
“Mungkin, sekitar empat hari ke depan, air bakal kembali pasang. Kalau sudah seperti itu, jalan ini pasti terendam. Bila sudah kembali surut, yang tersisa tinggal beceknya. Jalanan pun jadi lembek,” ungkapnya, Jumat (5/11/2021).
Lelaki yang sejak lahir di tahun 1972 sudah tinggal di situ, terlihat sedang asyik mengangkut padi hasil panen miliknya yang dijemur di halaman rumah.
Maklum, warga yang bermukim di situ, mayoritas adalah petani dan pekerja bangunan.
Dituturkannya, sejak ia lahir dan menetap di RT 27, seingatnya tak pernah ada perbaikan jalan lingkungan yang dilakukan oleh pemerintah setempat.
Kalaupun ada perbaikan, hanya pada dua buah jembatan lingkungan RT 27 yang dihuni sebanyak 90 kepala keluarga, itu.
“Perbaikan jembatan itu pun dua tahun yang lalu. Kebetulan, saya salah satu yang dipekerjakan,” tukasnya.
Hal itu dibenarkan oleh Mansyah. Lelaki 62 tahun itu mengatakan bahwa dahulu jalan lingkungan di situ dibuat oleh warga sendiri dan dibantu TNI.
Bahkan dahulu, menurut Mansyah, jalanan yang dibuat sampai tembus ke SDN Basirih 10. Namun seiring berjalannya waktu, jalan itu pun terputus.
Maka jangan heran, bila kini anak-anak SD tersebut lebih memilih menaiki sampan atau menumpang perahu mesin kecil untuk bisa sampai ke sekolah.
“Setelah itu, perbaikan jalan hanya swadaya masyarakat. Misalnya, di atas jalanan ini dihamparkan kulit kelapa, dan lain-lain,” jelasnya.
Disinggung apakah pernah ada pejabat yang datang, atau ada instansi terkait yang melakukan pengecekan, Mansyah mengaku ada.
“Entah mereka datang dari mana. Tapi, seingat saya, mereka mengukur luas dan panjang jalan lingkungan. Itu bahkan dilakukan berkali-kali,” jelasnya.
Lebih lanjut, saat kampanye pun menurutnya ada pejabat yang datang. Seingat Mansyah, Ibnu Sina (Wali Kota Banjarmasin periode kini) datang ke sana.
“Saat itu, kami meminta perbaikan jalan. Dan Pak Ibnu, berjanji untuk menindaklanjuti. Itu yang saya ingat. Alhamdulillah, setelah dilantik sampai sekarang realisasinya tak ada,” tambahnya.
“Kami sebenarnya tidak ingin muluk-muluk. Seperti apa pun bantuan untuk jalan ini, kami terima. Yang penting dibuatkan alias diperbaiki. Yang penting jalanan nyaman,” tutupnya
Padahal lokasi pemukiman warga pinggiran tersebut hanya berjarak belasan kilometer dari Balai Kota Banjarmasin dan masih bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua, waktu maksimal yang dibutuhkan bisa sampai setengah jam.
Dari informasi warga, kawasan tersebut berkali-kali sudah dipantau dan diukur oleh petugas Pemko Banjarmasin. Namun jalan lingkungan Simpang Sungai Jelai RT 27 tak kunjung tersentuh perbaikan. (SU)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















