Sisa Kesedihan dari Penghuni Kolong Jembatan Antasari

Sisa Kesedihan dari Penghuni Kolong Jembatan Antasari

Suarindonesia – Menyusul pemagaran kolong Jembatan Antasari depan Swiss Bell Hotel Banjarnasin yang dilakukan Dinas PUPR Kota Banjarmasin, Rabu (12/12) pagi hingga tengsh menyisakan kesedihan bagi 8 Kepala Keluarga atau 20 jiwa yang tinggal di kolong jembatan.

Apalagi dengan ketatnya penjagaan Satpol PP, sehingga membuat kawasan tersebut harus digusur paksa. Karena sejak hari ini resmi dipagar besi oleh Pemerintah Kota Banjarmasin yang dikomandoi Kabid Jalan dan Jembatan PUPR Kota Banjarmasinn Ir H Rustam.

Siti Julaiha, seorang penghuni mengaku kebingungan dan pasrah terhadap pemagaran yang dilakukan oleh pihak Dinas PUPR. Pasalnya kolong jembatan tersebut tempat ia bertahan hidup selama satu tahun terakhir.

“Saya tidak tahu lagi harus apa. Saya ini cuma janda yang tidak punya pekerjaan. Sehari-hari saja saya bertahan hidup dari mengais sampah plastik di sungai yang kemudian dijual ke pengepul sampah,” ucap Julaiha kepada awak media, Rabu (12/12).

Menurut Julaiha, pemerintah meski memperhatikan warganya yang terlantar. Ia mengaku pernah menyewa rumah di Teluk Kelayan dan akhirnya tidak mampu membayar lagi lalu memilih tinggal di kolong jembatan. “Kalaupun ini ingin dibersihkan dan dipagar seperti ini mau tinggal di mana lagi saya,” ujar Julaiha.

Julaiha berharap ada belas kasih dari pemerintah kota setidaknya untuk menyewakan rumah atau menempatkan di panti sosial. “Bukan malah menelantarkan warga yang tinggal di kolong,” keluhnya.

“Kami berharap, saya mewakili teman-teman agar pemerintah bisa sedikit melirik kami.Tak perlu dibuatkan rumah, kami hanya minta sewakan rumah untuk sementara dan minta bantu memperkerjakan kami agar kami dapat menjalani kelangsugan hidup,” harapnya.

Warga yang lainnya Diang sangat bersedih karena kehilangan tempat tinggal. Terlebih ia tidak punya siapa-siapa di Banjarmasin, senasib dengan Julaiha. Diang juga seorang janda yang ditinggalkan suaminya entah ke mana tanpa ada kabar.

“Saya ini janda, saya tidak bisa apa-apa lagi kalau seperti ini, tempat tinggal hilang untuk bertahan hidup, ini apa lagi dipagar besi. Saya sangat bersedih, mudah-mudahan pemerintah bisa mendengar jeritan kami dan memberi kami perhatian agar tidak ada lagi warga yang terlantari,” kata Diang.

Sebelumnya pemagaran kolong jembatan tersebut dimaksudkan oleh pemerintah agar tidak ada lagi yang diam menetap di kolong jembatan karena dinilai sangat berbahaya.

PLT Kepala Dinas PUPR melalui H Rustam mengatakan, pemagaran tersebut menyusul adanya program pemerintah untuk membersihkan kawasan kolong jembatan agar tidak ada lagi aktivitas di bawah kolong jembatan yang dinilai sangat berbahaya.

Sementara itu Kadis Sosial Kota Banjarmasin Drs H Elsya Zain hendak melakukan konfirmasi ke Dinas Sosial belum mendapat balasan melalui pesan singkat aplikasi WhatsApp dan telepon seluler.(SU)

 223 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: