Suarindonesia – Pemerintah Prorovisi Kalimantan Selatan (Pemrpov Kalsel) melalui program revolusi hijau dan Pemerintah Pusat dengan Gerakan Nasional Pemulihan Daerah Aliran Sungai (DAS) melalui Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL).
Direktur Jendral Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Hudoyo menjelaskan, program RHL dilaksanakan sebagai upaya menanggulangi terjadinya degradasi sumberdaya hutan dan lahan kritis.

Dikatakannya, berdasarkan Rencana Teknik Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RTk-RHL) DAS tahun 2014 sasaran prioritas I pada DAS Barito seluas kurang lebih 741.519 hektare, sedangkan prioritas II seluas 1.789.963 hektare.
“Pada tahun 2019 ini melalui Satuan Kerja Balai Pengelolaan DAS-HL Barito ditarget pembuatan tanaman RHL dalam rangka pemulihan DAS seluas 8.300 hektare sebagai bagian dari target nasional seluas 206.000 hektare,” bebernya di sela Lokakarya Nasional Gerakan Nasional Pemulihan DAS Berbasis Bisnis Tanaman Kehutanan Provinsi Kalsel di Banjarmasin, Selasa (2/7).
Ia mengatakan, pembuatan tanaman RHL ini dilaksanalan di lima Kelompok Pengelolaan Hutan (KPH) di wilayah Kalsel, yaitu KPH Balangan, KPH Hulu Sungai, KPH Kayutangi, KPH Tanah Laut, dan KPH Pulau Laut Sebuku.
Ia menjabarkan, rehabilitasi hutan dilaksanakan dengan pola intensif dan agroforesti.
Pola intensif terdiri dua sistem, yakni dengan perincian 1.100 batang perhektare dengan total luas 1.248 hektare dan 626 batang per hektare dengan total luas 6.175 hektare, sedangkan pola agroforesti seluas 877 hektare.
“Pelaksanaan RHL melalui tahun jamak atau multiyears tahun 2019 sampai 2021. Jenis yang ditanam kayu-kayuan, buah-buahan, dan tanaman sela antara lain meranti, keruing, sengon, karet, kayu kuku, beringin, pulai, jabon, kayu manis, kayu putih, bambu, jengkol, durian, kemiri, aren, cempedak, langsat, mangga, nangka, pampakin, petai, rambutan, kopi, dan rotan.
“Jenis buah-buahan bisa ditanam di kawasan lindung, dan jenis kayu-kayuan di kawasan budidaya,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Hanif Faisol Nurofiq menambahkan, semua pihak harus terlibat untuk mengatasi penanganan 511 lahan kritis di Kalsel.
Menurut Hanif lahan kritia tersebut harus ditangani dengan cepat. “Kalau bisa cepat ngapain lambat,” ujarnya.
Hanif mengatakan, tahun ini pihaknya kembali dibebankan melakukan penanaman di lahan seluas 32 ribu hektare.
Hanif mengaku optimis bisa mencapai angka itu, sebab realisasi tahun lalu penanaman mencapai 29.500.
“Angka itu data riil penanaman. Makanya tahun ini harus digenjot lagi agar bisa mencapai angka 32.000 hektare, jika setiap tahun kita konsisten menanam di angka tersebut maka dalam jangka waktu 20 tahun lahan kritis di Kalsel bisa teratasi,” tegasnya.
Pada semester pertama 2019 realisasi penanaman telah mencapai 6.820,12 hektare dengan jumlah bibit yang telah didistribuaikan sebanyak 731.830 batang. Guna memastikan program berjalan dengan lancar, stok bibit yang tersedia sebanyak 833.582 batang. (mns/K-2)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















