PANGERAN Khairul Saleh Minta Kapolda Sultra Hati-hati dalam Memberikan Pernyataan

PANGERAN Khairul Saleh Minta Kapolda Sultra Hati-hati dalam Memberikan Pernyataan
Anggota Komisi III DPR RI, Pangeran Khairul Saleh, Supriansa , Habiburahman dan Santoso saat mengelar konfrensi pers. (Foto: Humas Press Room DPR)

SuarIndonesia – Empat Anggota Komisi III DPR RI, Pangeran Khairul Saleh, Supriansa, Habiburahman, dan Santoso menggelar konferensi pers, Selasa (17/3/2020), di Jakarta, meminta Kapolri Jenderal Idham Aziz memberikan klarifikasi secara terbuka terkait polemik pernyataan Kapolda Sulawesi Tenggara (Kapolda Sultra) Brigjen Polisi Merdisyam atas video berdurasi 58 detik, yang merekam kedatangan 49 tenaga kerja asing (TKA) asal Cina di media sosial.

Menurut para Anggota Komisi III, Kapolri harus bertanggung jawab atas pernyataan kontroversial tersebut dan memberikan penjelasan atau klarifikasi secara terbuka dan komprehensif mengenai permasalahan Kapolda Sultra.

Serta mengingatkan kepada Kapolri dan jajarannya untuk melakukan tugas pokok dan fungsinya secara akuntabel, transparan, dan berdasarkan prinsip kehati-hatian sesuai dengan ketentuan perundang-undangan, kata mereka saat jumpa pers di Pressroom DPR RI.

Menurut mereka, hal ini penting untuk menghindari perdebatan dan tidak menimbulkan keresahan di masyarakat. Ini dilakukan supaya tidak ada lagi perbedaan-perbedaan pendapat dari Kementerian Hukum dan HAM dengan aparat penegak hukum di semua wilayah Indonesia terkait virus corona ini.

Dalam jumpa pers tersebut, empat Anggota Komisi III DPR adalah Pengeran Haerul Saleh dari Fraksi PAN, Supriansa dari Fraksi Golkar, Habiburahman dari Fraksi Gerindra, dan Santoso dari Fraksi Demokrat.

Dalam.kesempatan terpisah, saat ditanya SuarIndonesia.com, Pangeran Khairul Saleh meminta Kapolda Sultra untuk hati-hati dalam mengeluarkan statement atau pernyataan serta meningkatkan koordinasi dengan instansi lain seperti Kemenkumham Sultra sebelum mengambil kebijakan. “Dengan demikian kebijakan yang diambil lebih akuntabel dan memberikan kenyamanan dan ketenangan bagi masyarakat banyak,” tegasnya.

Hal itu menanggapi Kapolda Sultra yang menyebut 49 TKA China yang baru tiba di Bandara Haluoleo merupakan pekerja di PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) Morosi Kabupaten Konawe. Ia mengklaim para TKA ini dari Jakarta untuk memperpanjang visa yang telah habis menyusul larangan keluar masuknya TKA.
Di mana, pada 15 Maret 2020 di Bandar Udara Haluoleo, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, terjadi polemik terutama di masyarakat setempat, yakni adanya video yang merekam kedatangan WNA asal China yang kemudian viral di media sosial dan meresahkan masyarakat.

Merespon hal itu, selanjutnya Kapolda Sulawesi Tenggara kemudian memberikan keterangan kepada media massa bahwa para WNA tersebut adalah TKA yang datang dari Jakarta usai mengurus perpanjangan dan izin kerja dan kembali ke Morosi untuk kembali bekerja. Bahkan Kepolisian telah melakukan penangkapan terhadap pelaku penyebaran video tersebut.

Akan tetapi selanjutnya pernyataan tentang TKA tersebut diralat Kemenkumham. Kepala Kantor Wilayah Sulawesi Tenggara Kemenkumham melalui press release pada 16 Maret 2020 menyatakan bahwa 49 TKA tersebut adalah TKA baru yang berasal dari Provinsi Henan, China dan baru tiba di Kendari dengan menumpang pesawat Garuda Indonesia dengan melakukan transit di Thailand.

Para TKA ini selanjutnya diperbolehkan masuk karena dinilai telah sesuai dengan persyaratan dokumen perjalanan dan izin tinggal. Para TKA ini dibekali surat kesehatan (medical certificate) yang berasal dari Pemerintah Thailand dan telah dikarantina sejak 29 Februari 2020 hingga 15 Maret 2020. Para TKA tersebut juga telah mengantongi Kartu Kewaspadaan Kesehatan oleh petugas Karantina Kesehatan dan Rekomendasi dari KKP Soekarno Hatta.(RA)

 1,245 total views,  3 views today

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: