SuarIndonesia – Bulan Sya’ban merupakan bulan latihan, pembinaan dan persiapan diri menjadi orang yang sukses beramal shaleh untuk menghadapi bulan Ramadhan.
Dimana pada bulan Sya’ban terdapat malam pertengahan bulan yang disebut malam Nisfu Sya’ban.
Ustadz Nor Ipansyah menyebutkan, pada malam Nisfu Sya’ban amal ibadah manusia selama satu tahun kebelakang akan diangkat dan dipersiapkan lembaran baru untuk satu tahun kedepan
“Kita dianjurkan memperbanyak ibadah pada saat malam pertengahan bulan dan berpuasa sunnah di siang harinya,” ucapnya.
Malam Nisfu Sya’ban merupakan malam pada pertengahan bulan Syaban (15 Syaban) yang penuh dengan kemuliaan.
Pada malam Nisfu Syaban, malaikat yang mencatat amalan manusia menyerahkan catatannya kepada Allah SWT.
Pada malam itu, buku catatan amalan yang digunakan untuk mencatat diganti dengan yang baru. Para ulama menyatakan bahwa malam itu adalah malam pengampunan dan malam dikabulkannya setiap permohonan.
“Malam Nisfu Sya’ban bisa juga disebut dengan malam pengampunan dosa”ujarnya
Pengasuh Majelis ta’lim Nurul Iman ini juga menyebutkan, dibulan Sya’ban ini dapat diisi dengan do’a do’a dan amal yang mempertebal keimanan, dan malam nisfu sya’ban biasanya dilakukan bersama sama baik di masjid, mushola atau di rumah karena kondisi pandemi.
Adapun amaliah dan do’a yang bisa dilakukan pada malam nisfu sya’ban, yakni dimulai dengan sholat sunah.”Seperti sholat taubat, sholat hajat, sholat tasbih,” katanya
Kemudian dilanjutkan membaca surat Yasin sebanyak tiga kali. Adapun Surat Yasin yang pertama dibaca dengan niat memohon panjang umur, taat beribadah selalu istiqomah kepada Allah SWT.
Surat Yasin kedua dibaca, dengan niat memohon diluaskan rezeki yang halal dan menolak bala.
Dan Surat Yasin ketiga dibaca dengan niatan memohon ditetapkannya iman Islam hingga akhir hayat.
Selain itu, dalam mengisi bulan sya’ban memperbanyak puasa sunah sebagaimana Rasulullah SAW memperbanyak puasa sunnah.
Bahkan beliau hampir berpuasa satu bulan penuh, kecuali satu atau dua hari di akhir bulan saja agar tidak mendahului Ramadhan dengan satu atau dua hari puasa sunah. Berikut ini dalil-dalil syar’i yang menjelaskan,
عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ: وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِي شَعْبَانَ
Dari Aisyah R.A berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW melakukan puasa satu bulan penuh kecuali puasa bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa sunah melebihi (puasa sunah) di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156) (HM)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















