Kongres V PAN : Masihkah Amien Rais Jadi Penentu?

Kongres V PAN : Masihkah Amien Rais Jadi Penentu?

Oleh
Besri Nazir
Kader PAN Sumut

Setiap ajang Kongres PAN, figur Muhammad Amien Rais (MAR) Sebagai motor Pendiri dan mantan Ketua Umum PAN selalu menjadi magnet. Terutama pada dukungannya terhadap calon Ketua Umum yang akan bertarung di arena Kongres.

MAR seakan-akan menempatkan diri sebagai penentu siapa yang akan menjadi Ketua Umum. Dimulai dari Kongres II di Semarang, MAR berhasil mendudukkan Sutrisno Bachir (SB) menjadi Ketua Umum. Meskipun pada waktu itu banyak figur yang bertarung. Seperti Fuad Bawazier, orang yang cukup mendukung MAR pada era awal berdirinya PAN.

Kemudian ada Hatta Rajasa ( HR), Samuel Koto, Didiek Rachbini serta tokoh-tokoh PAN lainnya. Banyak memang yang ingin mencalonkan diri jadi Ketua Umum PAN pada saat itu.

Meskipun SB merupakan “orang baru” di PAN, namun MAR berhasil meyakinkan sebagian besar DPW dan DPD Se Indonesia untuk memilih SB menjadi Ketua Umum PAN Periode 2005 – 2010. Anti Klimaksnya Fuad Bawazier yang menjadi rival kuat SB, mengundurkan diri dari PAN, sebab utamanya karena kecewa MAR memihak kepada SB.

Selanjutnya menjelang Pilpres 2009 Hubungan MAR dengan SB mulai merenggang dikarenakan adanya perbedaan soal dukungan terhadap Capres pada saat itu, di mana MAR dan HR mendukung SBY-Budiono, sementara SB lebih merapat ke Prabowo, karena pada saat itu SB merasa memiliki peluang untuk menjadi cawapresnya Prabowo.

Kemudian SB sepertinya menjadi “kehilangan selera”, ketika dengan tanpa melibatkan dirinya sebagai Kerua Umum, ada keputusan PAN yang mendukung SBY sebagai capres. Akibatnya, pada saat itu, PAN seperti tidak memiliki Ketua Umum.

Antiklimaksnya SB setelah Kongres III seperti “keluar” dari PAN karena kecewa dengan MAR. Hal tersebut tergambar dari puisi yang dibacakan SB pada acara pembukaan Kongres III. Puisi yg sangat menyayat hati, puisi kekecewaan dan kesedihan yang dalam. Setelah membaca puisi SB langsung meninggalkan acara pembukaan dan sama sekali tidak mau terlibat dalam kongres III tersebut.

Pada kongres III PAN di Batam tahun 2010, meski tidak secara terang-terangan mendukung Drajat Wibowo (DW), namun DPW dan DPD PAN Se Indonesia bisa menangkap sinyal kalau MAR pada saat itu mendukung DW, Namun dikarenakan dukungan DPW dan DPD lebih banyak ke HR sehingga MAR pada awal Pembukaan Kongres langsung menetapkan HR sebagai Ketua Umum dan DW sebagai Wakil Ketua Umum.

Musyawarah mufakat pun terjadi. Meski keputusan itu diterima oleh peserta Kongres, namun pada saat itu sudah terlihat magnet MAR sudah mulai berkurang. Hal ini dibuktikan dengan kuatnya dukungan DPW dan DPD kepada HR.

Pada masa kepemimpinan HR merupakan puncak prestasi PAN di mana pada Pemilu 2014 perolehan suara PAN naik dan perolehan kursi PAN di DPR RI juga naik. Posisi HR sebagai Menko Perekonomian pada saat itu mungkin berpengaruh atas peningkatan suara dan kursi PAN.

Namun meski prestasi yang dicapai HR cukup baik tidak menjadi alasan MAR utk mendukung HR pada Kongres IV tahun 2015 di Bali. Malah justru MAR mendukung Zulkifli Hasan (ZH) dan mengkritik HR habis-habisan.

Pada Kongres di Bali Magnet MAR semakin berkurang, hal ini terlihat ketika HR hampir saja menjadi Ketua Umum dua Periode karena hanya kalah tipis dari ZH. Sebagian besar DPW dan DPD PAN Sudah berani mulai “melawan” titah MAR untuk mendukung calonnya.

Anti Klimaks Kongres IV ini HR mengambil sikap di luar Kepengurusan PAN karena kecewa dengan MAR.

Menjelang Kongres V pada tahun 2020 ini, kembali daya magnet diuji. MAR yang terlibat langsung mendukung Mulfahri Harahap (MH) kini mendapat perlawanan dari sebagian besar Pengurus Harian DPP dan DPW PAN yang masih mendukung ZH untuk Periode kedua serta para pendukung Asman Amnur (AA) yang kelihatannya juga didukung penuh oleh HR.

Kenapa kelihatan Magnet MAR mulai berkurang? Mungkin dikarenakan ada 2 faktor penyebab: Pertama, karena figur (calon) Ketua Umum yang didukung MAR selalu akan “dianggap salah” oleh MAR di kemudian hari. Kedua, sepertinya, figur MH yang digadang-gadang oleh MAR sebagai caketum, bukanlah figur yang populer di kalangan DPW/DPD serta kader PAN, minim prestasi ketika MH menjabat sebagai ketua fraksi PAN DPR RI.

Nama MH sama sekali tidak beredar di kalangan elit politik nasional, sangat berbeda ketika fraksi PAN DPR RI dipimpin oleh Tjatur Sapto Edi (TSE).

Kali ini MAR harus sangat bekerja keras untuk memenangkan MH dikarenakan dukungan terhadap ZH masih sangat besar, begitu juga AA. AA sepertinya juga memiliki peluang yang cukup besar jika HR benar-benar turun full mendukung. HR dianggap masih punya pengaruh cukup besar di kalangan DPW/DPD.

Meski MAR dalam setiap kampanye MH terkesan menyudutkan ZH atas penurunan kursi. Namun itu tidaklah bisa menjadi alasan, karena HR yang dianggap berhasil pada periodenya tetap juga tidak didukung MAR untuk dua periode.

MAR tetap bertahan kalau Ketua Umum PAN hanya 1 periode, meski AD/ART PAN tidak ada melarang. Seakan akan AD/ART hanya pajangan belaka.

Kongres kali ini akan menjadi taruhan MAR apa masih menjadi penentu Ketua Umum PAN selanjutnya atau tidak? Lets wait n see…

 750 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: