SuarIndonesia- Keracunan massal usai santap Makan Bergizi Gratis (MBG) di Martapura, hingga Jumat (10/10/2025), sebanyak 130 siswa tercatat menjalani perawatan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ratu Zalecha Martapura.
Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel), H Muhidin, angkat bicara menyebut kebersihan dan kualitas makanan yang disajikan oleh penyedia atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) adalah kunci keberhasilan program nasional ini.
“Kasus keracunan MBG bbisa disebabkan banyak faktor. Namun yang paling penting, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG harus menjaga kebersihan peralatan dan tempat pengolahan makanan,” kata Muhidin, Jumat (10/10/2025).
Di satu sisi, Gubernur Muhidin menegaskan perlunya pengawasan lebih ketat terhadap kebersihan dan kualitas makanan yang disediakan bagi siswa penerima manfaat.
Ia meminta SPPG agar tidak abai terhadap standar kebersihan dapur dan peralatan masak.
Menurut Muhidin, Polda Kalsel telah memberikan arahan agar seluruh penyedia makanan menggunakan bahan pembersih tertentu sesuai standar yang dianjurkan.
Langkah ini dinilai penting untuk mencegah kasus serupa terulang kembali.
“Kadang masalah juga akan muncul, karena makanan dibuat terlalu pagi atau dimasak dengan peralatan yang tidak higienis. Hal-hal seperti ini yang perlu diperhatikan,” tegas Muhidin.
Sembari menunggu hasil pemeriksaan sampel, Pemprov Kalsel juga akan memberikan tindakan tegas kepada SPPG yang tidak mematuhi standar kebersihan dan pengolahan makanan.
“Kalau penyedia tidak memperhatikan kebersihan atau cara memasak yang sesuai, kami tidak segan melakukan penutupan sementara,” ujar Muhidin.
Kasus dugaan keracunan ini sebelumnya menimpa puluhan siswa SIT Assalam Martapura yang mengalami gejala mual, muntah, dan pusing setelah menyantap menu MBG berupa nasi kuning, sayur, dan ayam suwir.
Sementara Wakil Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan (Wakapolda Kalsel), Brigjen Pol Dr. Golkar Pangarso Rahardjo Winarsadi melihat langsung kondisi korban serta berdialog dengan orang tua mereka di RSUD Ratu Zalecha Martapura.
Ia mengungkapkan, penyelidikan masih berlangsung dan pihaknya belum dapat memastikan penyebab pasti dari kejadian tersebut.
“Kami belum bisa memastikan penyebabnya. Sampel makanan sudah kami ambil dan saat ini sedang dilakukan pemeriksaan laboratorium di Surabaya,” ujarnya pada awak media, Jumat (10/10/2025).
Ia juga menerangkan, nantinya hasil uji laboratorium akan menjadi dasar untuk menentukan sumber penyebab dugaan keracunan tersebut. (RW)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















