KAMPANYE HITAM Berbasis Artificial Intelligence, Waspada !!!

- Penulis

Senin, 28 Agustus 2023 - 16:46 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SuarIndonesia – Sosial media adalah wadah komunikasi efektif yang mudah diakses, terukur, dan siapapun bisa menjadi produsen dan sekaligus konsumen informasi.

Jika dilihat dari aspek penggunaan sosial media tentu sangatlah penting untuk memenuhi kebutuhan informasi dalam menambah wawasan dan pengetahuan, termasuk kebutuhan akan hal yang menyenangkan, kebutuhan akan kredibilitas dan kepercayaan status individu.

Di sisi lain juga untuk memenuhi kebutuhan sosial manusia menjalin kekerabatan yang mendasari seseorang berinteraksi antar personal atau kelompok untuk mengenali lingkungannya.

Disamping itu juga untuk memenuhi kepuasaan karena keingintahuan atau penyelidikan.

Berbicara dalam konteks politik menjelang perhelatan pesta demokrasi pada 2024, dewasa ini keterbukaan informasi di sosial media mewadahi lahirnya komunitas dan konektivitas yang dapat mengundang massa berkontribusi dari segala generasi.

Juga menjadi opsi efektif sebagai sarana branding untuk menggantikan kampanye konvensional dalam melancarkan strategi politik melalui konten yang mempengaruhi akuntabilitas publik sebagai bagian dari partisipan politik.

Partisipan politik adalah individu dalam kelompok yang memiliki visi misi mempengaruhi kebijakan pemerintah, ideologi dalam menjalankan prinsip realisasi demokrasi pada Pemilihan Umum dan Kepala Daerah (Pemilukada).

Beberapa konsep tersebut dapat dijadikan landasan dalam kegiatan kampanye aktif untuk menggalang opini, membangun antusias tinggi dari publik agar terpenuhinya harapan buzzer.

Namun sayangnya dalam hal ini peran buzzer sering kali dipergunakan dalam black campaign (kampanye hitam) yang merujuk pada aktivitas penggiringan opini, menjatuhkan lawan pasangan calon dengan menebarkan benih isu negatif yang tidak berdasar.

Terlebih lagi, kebebasan pengguna sosial media yang memungkinkan seseorang memiliki banyak identitas serta jenis avatar membuka kesempatan bagi siapapun dapat bersembunyi di balik anonimitas yang merujuk pada sifat ketidakpastian atau ketidakjelasan sehingga berujung pada disinformasi.

Disinformasi adalah kesimpangsiuran informasi yang sengaja dibuat untuk melemahkanliterasi yang mengakibatkan sulitnya membedakan opini, dan fakta.

Saat perkembangan Artificial Intelligence (AI) semakin pesat seperti sekarang ini, maka mekanisme AI akan semakin canggih untuk memanipulasi dan membodohi sesama manusia, sehingga itu menjadi alat menjamurnya disinformasi (penyebarluasan informasi palsu), hak cipta, privasi yang berkenaan dengan akses digital ilegal, dan isu hoax.

AI sendiri merupakan teknologi komputer yang mengadopsi kecerdasan manusia yang mencakupi desain, tugas, pengembangan, dan penyelesaian masalah setara dengan cara berpikir manusia dengan output yang sangat mengagumkan.

Salah satunya teknologi AI adalah Deepfake, yakni teknologi yang dapat mereplika foto, video, suara seseorang yang dapat diganti dengan milik orang lain.

Meski diketahui awalnya penggunaan AI untuk mengedit foto hanya menjadi meme namun tak jarang dijumpai pada konten atau poster yang disematkan pesan menohok yang menjadi bumbu provokasi.

Diketahui belakangan ini setidaknya ada sejumlah kasus yang muncul menggunakan konten deepfake yang kemudian menimbulkan masalah ketika sudah tersebar luas di internet atau media sosial.

Persoalan yang muncul menyebabkan timbulnya gugatan dari korban karena merasa dirugikan hingga masalah akurasi yang ternyata keliru dan tidak relevan dengan apa yang sebenarnya terjadi. Ada sejumlah kasus yang dapat mengingatkan kita.

Pertama, pada kasus unggahan video impersonate Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri yang menggendong Jokowi Widodo oleh akun Facebook bernama Welly, yang diketahui juga adalah Ketua FPI Kecamatan Galang, Sumatera Utara.

Baca Juga :   PETUGAS KEBERSIHAN Jalanan di Pasar Baru Banjarmasin Tenggelam di Sungai Martapura

Kasus yang berujung pada proses penyidikan di Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sumut dan telah ditetapkan Willy sebagai tersangka, dan proses hukumnya masih terus berjalan.

Kedua, menjelang Pilpres muncul propaganda bahwa Jokowi merupakan antek zionis yang beretnis tionghoa non muslim sementara Prabowo dituduh sebagai warga negara yang tidak setia pada Indonesia karena pernah berpindah status kewarganegaraan Yordania selama dua tahun.

Ketiga, isu negatif Jokowi hanyalah boneka dari Megawati dan antek asing sementara Prabowo disebutkan sebagai orang yang terlibat dalam kasus HAM pada 1998. Berbagai isu tersebut tersebar luas di media sosial, dipercaya sebagian masyarakat.

Ke depan cara-cara semacam ini mesti dicegah, selain dengan menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam menggunakan media sosial sehingga tidak ikut memproduksi dan menyebar hoaks, pendekatan atau penegakan hukum juga juga perlu dilakukan.

Proses hukum terhadap penyebar hoaks penting untuk menjaga kebenaran informasi, melindungi masyarakat dari disinformasi, dan meminimalisir dampak negatif yang dapat ditimbulkan oleh penyebaran hoaks.

Hal ini tentu saja juga akan membantu membangun kepercayaan terhadap informasi yang disampaikan dan mencegah ketidakpastian di masyarakat.
Penegakan hukum terhadap penyebar hoaks di media sosial memiliki

beberapa dampak positif, antara lain : Pertama, kredibilitas informasi. Dengan adanya proses hukum terhadap penyebar hoaks, pengguna media sosial dapat lebih percaya terhadap informasi yang mereka terima, karena mereka tahu bahwa ada konsekuensi bagi mereka yang menyebarkan informasi palsu.

Kedua, pencegahan disinformasi. Proses hukum dapat menjadi penghalang bagi individu yang ingin dengan sengaja menyebarkan hoax. Hal ini dapat membantu mengurangi penyebaran disinformasi di platform media sosial.
Ketiga, Perlindungan Masyarakat.

Pengguna media sosial akan lebih terlindungi dari potensi kerugian atau dampak negatif yang diakibatkan oleh penyebaran hoaks, seperti ketidakpastian, panik, atau kerusakan reputasi.

Keempat, peningkatan kesadaran. Proses hukum terhadap penyebar hoaks juga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya memverifikasi informasi sebelum membagikannya di media sosial.

Kelima, penghormatan terhadap etika digital. Penegakan hukum dapat mendorong pengguna media sosial untuk lebih mematuhi etika digital dalam berbagi informasi, yang pada gilirannya menciptakan lingkungan yang lebih positif dan informatif di platform tersebut.

Namun, perlu diingat bahwa implementasi proses hukum terhadap penyebar hoaks harus dilakukan dengan cermat dan sesuai dengan prinsip-prinsip kebebasan berbicara (hak sipil) dan politik atau hak asasi manusia. Sesuatu yang juga penting dan diperlukan dalam negara demokrasi. (**)

Oleh : Winda Andrini Wulandari
Dosen Universitas Cahaya Bangsa

 

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

TERUNGKAP Pengemudi Mobil SUV yang Tabrak Kabur Ternyata Pengedar Narkoba Lintas Kalselteng
KEBAKARAN di Komplek DPR Bandarmasih, “Renggut Nyawa” Seorang Anggota Pemadam Kebakaran
MOBIL SUV HITAM Dikejar, Diduga Tabrak Sejumlah Pengendara dan Kabur
KEMAH AKBAR Berubah Petaka, Dua Siswa MTs Al Furqan Tewas Tenggelam
SEORANG ANAK Tenggelam di Sungai Martapura
RUDY RESNAWAN tak Kuasa Tahan Tangis, Kenang Sosok Rudy Ariffin
ALMARHUM Rudy Ariffin Semasanya Sosok Karismatik, Ini Deretan Capaian Dihasilkan dari Kepemimpinan
DUGAAN SUAP Pajak PT Adaro di KPP Madya Banjarmasin
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 22:31

ASIAN GAMES 2026: Bonus Rp3 Miliar untuk Peraih Emas Perorangan

Selasa, 8 September 2026 - 20:58

HELIKOPTER CH-47 Chinook dari Jepang Tangani Karhutla Mulai 12 September

Selasa, 8 September 2026 - 20:21

KAPAL INDUK Giuseppe Garibaldi Dikerahkan Tangani Karhutla

Senin, 7 September 2026 - 23:11

SAWIT Muncul di Bekas Karhutla Kalbar

Senin, 7 September 2026 - 22:12

POLRI Tetapkan 138 Tersangka Karhutla

Senin, 7 September 2026 - 21:57

POLRI Diminta Proses Hukum Korporasi Terlibat Karhutla

Senin, 7 September 2026 - 21:45

SATU Ton Cairan Inovasi Karhutla Dikirim ke Kalteng

Senin, 7 September 2026 - 21:27

PRESIDEN Prabowo: Karhutla Jangan Sampai Masuk Zona Inti IKN

Berita Terbaru

Petugas beristirahat sejenak saat pemadaman kebakaran lahan gambut di Kecamatan Pahandut, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (2/9/2026). (Foto: Antara/Auliya Rahman)

Kalteng

HOTSPOT Menurun Terus Dipantau Ketat

Rabu, 9 Sep 2026 - 22:47

Hujan membasahi wilayah Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru, beberapa waktu lalu. (Foto: HO-MC Kominfo Banjarbaru)

Kalsel

LA Diguyur Hujan Bantu Redakan Ancaman Karhutla

Rabu, 9 Sep 2026 - 22:35

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca