Ini Dia, Simbol dan Makna Prosesi Penyambutan Kapolda Kalsel Baru

- Penulis

Sabtu, 8 September 2018 - 15:28

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suarindonesia – Kesultanan Banjar sejak berabad-abad sangat mengagungkan dan menghormati kedatangan tamu atau pembesar yang memberikan kebaikan bagi Kesultanan beserta rakyatnya.

Dalam rangka pengagungan dan penghormatan terhadap tamu kebesaran dan atau pembesar kerajaan, Sultan Hidayatulah 1 Raja Banjar ke-3, mengkonstruksi tata adab penghormatan tamu kebesaran dengan sambutan seni Haderah sebelum memasuki gerbang Istana dengan kumandang shalawat nabi, hingga tamu kebesaran diagungkan dengan bersama memakan sirih, jamuan hingga tapung tawar di ruang utama Istana.

Menghormati dan memuliakan tamu bagian dari anjuran dalam agama Islam yang menjadi falsafah kerajaan.

Gambaran prosesi penyambutan tamu kebesaran terlihat jelas pada penyambutan Kapolda Kalsel yang baru Irjen Pol Drs Yazid Panani Msi. Disambut dengan sekapur sirih yang diberikan Sultan Khairul Saleh, kemudian dikunyah kapolda.

Djelaskan oleh Datu Cendekia Hikmadiraja Dr. Taufik Arbain, MSi tentang simbol dan makna prosesi tersebut Memakan sirih di awal bertemu Tamu Kebesaran dimaknai sebagai ungkapan kebersamaan dan permakluman kepada Tamu Besar untuk

merasakan pahit, getir manisnya dalam menjalankan amanah, tugas dan tanggung jawabnya. Rasa kebersamaan yang diungkapkan di awal pertemuan memakan sirih bagian dari rasa saling memahami, menghormati dan saling memuliakan adalah pesan kepada rakyat untuk turut mendukung kepada tamu dan atau pembesar dalam menjalankan amanahnya.

Datu Cendekia Hikmadiraja Dr. Taufik Arbain, MSi

Setelah itu Sultan Khairul Saleh memberikan Mandau Talabang sebagai cindera hati. Menurut Taufik, pemberian cindera hati memiliki makna tersendiri sesuai dengan cindera hati dan kepada siapa penerimanya. Pemberian cindera hati berupa Mandau Talabang, biasanya diberikan kepada Tamu/Pembesar yang memiliki kekuasaan dalam pemerintahan dan atau keamanan dan ketertiban.

Mandau Telabang disimbolkan sebagai Jati diri Kegagahan, Kecakapan, Kekuatan,Keadilan dan amanah untuk melekat kepada Tamu/Pembesar tersebut. Prosesi penyerahan dimulai dengan mencabut separuh tarikan kemudian menghentakkannya sebanyak tiga kali, hingga menarik penuh dan menjunjungkannya menghadap langit

Baca Juga :   POLDA KALSEL Kerahkan Pengamanan Debat "Pamungkas" Paslon Gubernur dan Wakil

sembari mengumandangkan Syahadat “Asshaduallahilahailallah,

Waashaduanna Muhammaddarrasulluah”, disertai setelahnya dengan ucapan Shalawat sebanyak 3 kali oleh Pembesar Kesultanan Datuk Astaprana Hikmadiraja.

Penghentakkan Mandau Talabang sebanyak tiga kali dimaknai sebagai kedaulatan, dan ketegasan dalam mengambil keputusan serta ketegasan berpihak kepada keadilan. Mengacungkan Mandau Talabang menghadap langit dengan kumandang syahadat, adalah simbol kesaksian dan keberserahan segala keputusan, takdir kepada Allah SWT penguasa Alam semesta. Harapan keberserahan ini agar dalam menjalankan amanah selalu mendapatkan perlindungan dari Allah SWT.

Mengumandangkan shalawat bagi bangsa Banjar adalah sebaik-baiknya kebaikan dalam penyerahan diri dan harapan rahmat dari penguasa Alam semesta Allah SWT (dengan melambungkan beras kuning simbol kegembiraan dan harapan).

Kemudian prosesi tapung tawar dilakukan kepada Tamu/Pembesar oleh Datuk Astaprana Hikmadiraja Drs Sirajul Huda. Papaian air tapung tawar di pundak kanan dan pundak kiri dimaknai sebagai pesan bahwa Tamu/Pembesar akan selalu terjaga kemuliaannya, terjaga kepangkatannya dan kekuasaannya serta terjaga kebahagiaannya selama menjalankan amanah dengan baik.

Papaian air tapung tawar pada kedua telapak tangannya dimaknai sebagai pesan agar selalu terbuka menerima siapa pun yang mengharapkan kebaikan pada dirinya dan menerima apapun yang membawa kebaikan pada dirinya, keluarga dan kekuasaannya. (Artikel ini ditulis oleh Datu Cendekia Hikmadiraja Dr. Taufik Arbain, MSi)

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

PELAKU DAN PENADAH Penggelapan Motor Diringkus Team Reskrim Polsek KPL Banjarmasin
GEISZ CHALIFAH Diperiksa KPK Jadi Saksi Kasus Mantan Bupati Kukar
KEBERANGKATAN UMRAH TERTUNDA, Syakira Tour Tawarkan Reschedule atau Refund kepada Jemaah di Kalsel
AMBAPERS Tunggu Restu Kemenhub Naikkan Tarif Alur Sungai Barito
MASYARAKAT tidak Boleh Main Hakim Sendiri
DIPANGGIL Gubernur Muhidin Jajaran PLN Daerah dan Pusat
DISITA Rokok Ilegal dan MMEA di Kalsel, Selamatkan Kerugian Negara 15 MIliar Lebih
RIBUAN Ekor Ayam Mati Gegara Listrik Padam, Peternak Ancam Buang Bangkai ke Kantor PLN

Berita Terkait

Rabu, 29 Juli 2026 - 22:52

VIRAL! Emak-emak Diikat dan Dianiaya Massa

Rabu, 29 Juli 2026 - 22:49

PELAKU DAN PENADAH Penggelapan Motor Diringkus Team Reskrim Polsek KPL Banjarmasin

Rabu, 29 Juli 2026 - 22:45

BERTAHUN-Tahun Diperkosa Ayah Kandung

Rabu, 29 Juli 2026 - 22:34

GEISZ CHALIFAH Diperiksa KPK Jadi Saksi Kasus Mantan Bupati Kukar

Rabu, 29 Juli 2026 - 22:33

KEBERANGKATAN UMRAH TERTUNDA, Syakira Tour Tawarkan Reschedule atau Refund kepada Jemaah di Kalsel

Rabu, 29 Juli 2026 - 22:07

BUAYA 4,5 Meter Diamankan TRC Balai PK

Rabu, 29 Juli 2026 - 22:04

AMBAPERS Tunggu Restu Kemenhub Naikkan Tarif Alur Sungai Barito

Rabu, 29 Juli 2026 - 21:58

MASYARAKAT tidak Boleh Main Hakim Sendiri

Berita Terbaru


Foto Ilustrasi. (SI/UT/@Gemini.AI)

Kaltim

VIRAL! Emak-emak Diikat dan Dianiaya Massa

Rabu, 29 Jul 2026 - 22:52

Ketua TRC PPA Kaltim, Rina Zainun (kiri). (Foto: detikKalimantan/M Budi K)

Hukum

BERTAHUN-Tahun Diperkosa Ayah Kandung

Rabu, 29 Jul 2026 - 22:45

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca