Suarindonesia -Tak puas hanya status nasional, Pemprov mengincar status geopark internasional melalui pengakuan UNESCO.
Geopark Pegunungan Meratus seperti diketahui sudah bersertifikasi nasional.
Melalui Menteri Pariwisata, Arief Yahya belum lama tadi.
Usulan Geopark Nasional ini terbilang cepat, tidak lebih dari satu tahun sebelum ditetapkan.
Bukan tak mungkin, tahun depan status geopark internasional sudah didapatkan.
“Akan kami usulkan menjadi geopark internasional,’’ beber Gubernur Kalsel, H Sahbirin Noor baru-baru tadi.
Saat ini di Indonesia baru ada 6 geopark yang diakui oleh UNESCO.
Ke enam geopark itu adalah Danau Toba Sumatera Barat, Gunung Rinjani Nusa Tenggara Barat, Gunung Batur Bali, Ciletuh Palabuhanratu Jawa Barat, Gunung Sewu Yogyakarta, dan Marangin Jambi.
Menurut Dosen Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral UPN `Veteran’ Yogyakarta yang juga konsultan pembangunan geopark, Jatmika Setiawan, bukan hal mustahil Kalsel mengajukan diri menjadikan Geopark Pegunungan Meratus Internasional. “Peluangnya tentu sangat terbuka, tinggal melengkapi semua persyaratan,’’ bebernya.
Dikatakan Jatmiko, ada beberapa keuntungan ketika menjadi geopark internasional.
Salah satunya adalah dipromosikan di jaringan geopark dunia.
“Foto-foto geopark akan disebarluaskan melalui jaringan geopark dunia, sehingga orang-orang luas akan semakin cepat mengetahui.
Selain itu pembinaan juga dilakukan oleh UNESCO,’’ katanya.
Sebelumnya, Jumat (30/11) lalu Asisten II bidang Ekonomi Pembangunan Setdaprov Kalsel, Hermansyah Manaf menerima sertifikat geopark nasional dari Menteri Pariwisata, Arif Yahya di lokasi Geopark Pongkor Kabupaten Bogor.
Kepala Bidang Air Tanah Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM) Kalsel, Ali Mustofa menjelaskan, ke depan pihaknya membuat program pengembangan geopark atau rancangan pada geosite.
Pada tahun depan, ujarnya, pihaknya menyiapkan dokumen untuk penetapan kawasan cagar alam geologi (KCAG) bersama dengan Kementerian ESDM.
“Salah satu tugas utamanya mengerjakan dokumen geoharitage,’’ kata Ali.
Di samping itu, sambung Ali, pihaknya juga akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar geosite atau destinasi wisata.
“Kami juga akan membuat web, poster/baleho, dan banyak lagi hal hal lain yanh pada akhirnya untuk mencapai tujuan utama, yaitu terciptanya ekonomi yang berkelanjutan yang berbasis masyarakat,’’ urainya.
Dokumen georharitage yang akan disiapkan salah satunya terkait sejarah kejadian alam atau bumi di geosite.
Menurut Ali, sejarah kejadian bumi akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Sebab, wisatawan selain menikmati keindahan alam juga akan mengetahui sejarah terjadinya alam tersebut.
“Salah satu sejarah kejadian bumi di Pegunungan Meratus adanya ofiolit atau penggalan kerak samudera tertua di Indonesia. Sejarah kejadian bumi ini juga akan menjadi tujuan untuk peneliti,’’ bebernya.
Tidak semua hamparan Pegunungan Meratus menjadi geopark, hanya sebagian di antaranya.
Total ada 36 geosite yang tersebar di 10 kabupaten/kota.
Luasnya Geopark Meratus 328,034 meter kali 9,691,948 meter.
Geopark Meratus di antaranya Air Terjun Haratai, Lembah Kahung, Goa Batu Hapu, Bukit Kayangan, Air Panas Batumandi dan lainnya. “Pembinaan terhadap masyarakat sekitar geosite nanti juga melibatkan Dinas Pariwisata, karena mereka yang lebih berwenang menangani kelompok sadar wisata (Pokdarwis),’’ tambah Ali.(RW)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















