SuarIndonesia – Diceritakan, dalam riwayat tubuh Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datu Kelampayan suatau malam saat tidur, badannya terangkat.
Diketahui, Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, ulama besar dari tanah Kalimantan lahir di Lok Gabang, Martapura, Banjar, pada 17 Maret 1710 masehi atau 1122 hijriyah.
Syekh Muhammad Arsyah bin Abdullah Albanjary dilahirkan malam Kamis 15 Safar tahun 1222 Hijrian bertepatan dengan 19 Maret 1710 Masehi dimasa kerajaan Sultan Tahlillah yang bermakam di Martapura.
Datu Kalampayan wafat 3 Oktober 1812, saat usia 105 tahun dan dimakamkan di Desa Kelampayan, Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar.
Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary memiliki sifat rendah hati, tawadu dan penuh kasih sayang terhadap keluarga dan santri dan selalu menanamkan berkasih sayang kepada sesama umat.
Dikenal, juga mewanti-wanti muridnya jangan menjelekkan satu sama lain dan selalu diingatkan anak cucu saling menghormati dan saling menghargai.
Pernah diceritakan Zuriat Datu Kalampayan, H Ahmad Daudi mengatakan, Datu Kelampayan memiliki keutamaan yang luar biasa dan sudah mendapatkan pendidikan agama dari kedua orangtuanya yakni ayahnya bernama Abdullah dan ibundanya Aminah.
Semasa kecil banyak kecerdasan dan kepandaian tentang agama, sehingga Sultan membawanya tinggal di istananya.
Diasuh oleh Sultan yang penuh kasih sayang dan banyak keajaiban yang terjadi sewaktu di istana.
Diceritakan Guru Daudi, suatu malam saat Datu Kalampayan tidur, badannya terangkat dari tempat tidur sekitar sehasta dan dilihat oleh pengawal dan para menteri yang langsung terkejut dan langsung memegangnya.
Kemudian Datu Kelampayan terbangun dan menangis.
Ketika ditanya kenapa menangis, Datu Kalampayan menjawab sedang bermimpi bertemu dengan seorang tua yang ingin membawanya ke langit.
Sultan pun bertambah sayang kepada Datu Kalampayan karena mengetahui bahwa pertanda akan menjadi seorang ulama besar.
“Beliau menggali ilmu di Mekkah selama 30 tahun lamanya, sehingga dibukakan Allah SWT pintu ilmu dan beliau mengamalkannya dan banyak memberikan fatwa di daerah Banjar,” ujarnya.
Datu Kelampayan bermazhab Syafei dan mengajarkan ilmunya, terkenal di Indonesia bagian timur dan barat mengakui banyak ilmu dan luas pengetahuannya.
Semasa mengajarkan ilmu banyak yang datang dari kalangan pejabat, petinggi, pengusaha ke kampung Dalam Pagar.
Beliau adalah murid waliullah Syekh Muhammad Bin Abdul Karim Assaman Almadani dikenal Syekh Samman dan mendapat peringkat pertama sebagai khalifah Syekh Samman Almadani.
Datu Kelampayan mempunyai anak sebanyak 27 orang, selain sebagai ulama juga dikenal sebagai petani yang mempunyai tanggungan dan beberapa istri serta adil kepada istri-istrinya dalam memberikan nafkah.
Diriwayatkan, Datu Kelampayan mempunyai murid Sultan Tahmidillah II bin Sultan Tamzidilillah.
Dengan demikian tertanamlah kasih sayang Sultan dengan Datu Kelampayan, sehingga dimasukkan dalam golongan raja-raja dan berhak mendapat tanah perkebunan.
Dan kemudian oleh Datu Kelampayan dibangun perumahan yang berdekatan sungai dan kampung itu bernama Kampung Dalam Pagar. (ZI)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















