SuarIndonesia — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendeteksi ribuan titik panas atau hotspot di wilayah Kalimantan. Dari ribuan hotspot yang terdeteksi itu, paling banyak berada di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.
Dikutip detikKalimantan dari detikNews, Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan menjelaskan bahwa hotspot tersebut terdeteksi melalui Satelit NOAA-20. Hingga Kamis (20/8), tercatat ada 1.487 hotspot di seantero Kalimantan.
“Jumlah tersebut tersebar dengan konsentrasi tertinggi berada di Kalimantan Tengah sebanyak 767 titik, disusul Kalimantan Barat 560 titik. Sementara itu, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing terpantau 74 titik, sedangkan Kalimantan Utara sebanyak 3 titik,” papar Berton.
Sementara itu, menurut catatan detikKalimantan, jumlah hotspot di tiap daerah bervariasi dan lebih tinggi daripada hotspot yang dilaporkan BNPB. Di Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, BPBD mencatat ada 2.207 hotspot terdeteksi. Namun, temuan hotspot itu masih memerlukan verifikasi lapangan.
“Kota Besi menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi, mencapai 512 titik. Disusul Teluk Sampit sebanyak 451 titik, Seranau 296 titik, Mentaya Hilir Utara 289 titik, Mentawa Baru Ketapang 262 titik, dan Baamang 230 titik,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, Senin (17/8/2026) lalu.

Sementara itu di Kotawaringin Barat, data titik panas dari SiPongi Kementerian Kehutanan mencatat 527 hotspot. Jika dilihat dari perkembangan bulanan, peningkatan kasus paling terasa memasuki Juli dan Agustus. Sepanjang Juli tercatat 62 kejadian karhutla. Sementara hingga 20 Agustus, jumlah kejadian yang tercatat sudah mencapai 94 kasus.
“Lonjakan juga terlihat pada jumlah hotspot. Dari total 527 titik panas sepanjang periode pemantauan, sebanyak 400 hotspot terdeteksi hanya pada Agustus hingga 20 Agustus,” kata Kepala BPBD Kotawaringin Barat Samuel.
BNPB mengimbau pemerintah daerah bersama masyarakat bersinergi untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan serta meningkatkan potensi bencana hidrometeorologi selama musim kemarau. Pemda diminta memperkuat pemantauan dan deteksi dini potensi karhutla serta memastikan ketersediaan sarana dan prasarana untuk upaya pemadaman.
Pemerintah juga terus memperkuat koordinasi lintas sektor untuk mengantisipasi meluasnya karhutla. Berton menyampaikan, BNPB terus memperbarui informasi titik panas dan memetakan wilayah rawan. Informasi ini akan menjadi rujukan untuk menentukan langkah penanganan dan koordinasi antarlembaga.
Masyarakat diminta secara proaktif melaporkan munculnya titik kebakaran kepada otoritas setempat sehingga dapat mencegah api membesar. BNPB mengimbau masyarakat tidak melakukan aktivitas pembakaran khususnya di wilayah yang rawan terbakar seperti lahan gambut. (*/ut)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















