Suarindonesia – Program revolusi hijau sudah lama dilaksanakan Pemprov Kalsel melalui Dinas Kehutanan (Dishut).
Program ini, disebut cukup efektif untuk mengantisifasi banjir dan longsor.
Hal ini disampaikan Kepala Dishut Kalsel, Hanif Faison Nurofiq, Jumat (1/2) pada Rapat Konsultasi RHL dan Penanggulangan Banjir Tanah Longsor di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2019.
Hanif mengatakan, revolusi hijau merupakan gerakan moral terencana, terpadu, dan melibatkan seluruh komponen masyarakat dan instansi terkait untuk melaksanakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) di Daerah Aliran Sungai (DAS) dan lahan kiritis yang menjadi prioritas.
Dikatakannya, revolusi hijau bertujuan memulihkan kondisi sumberdaya hutan dan lahan yang rusak, sehingga berfungsi optimal dan lestari.
“Revolusi hijau ditujukan pada DAS yang kondisinya kritis, yang mencakup kawasan hutan konservasi, hutan lindung, hutan produksi, dan areal penggunaan lain (APL) serta di lahan masyarakat,” ujarnya.
Ia menyampaikan, masalah penting berkaitan dengan hutan dan rehabilitasi lahan salah satunya banjir.
Jika di suatu DAS yang banyak dilakukan konversi hutan menjadi non-hutan seperti daerah Puncak atau Lembah, meningkatkan resiko terjadinya banjir menjadi besar bahkan banjir bandang.
“Resiko terjadinya banjir dapat dipertinggi oleh faktor curah hujan yang tinggi, ditambah dengan topografi daerah pegunungan pendek dan terjal serta rendahnya penutupan lahan merupakan kombinasi faktor penting terjadinya banjir bandang.
Adanya hutan yang lebat di suatu wilayah tertentu bukan jaminan tidak dapat terjadi banjir, hutan mengurangi resiko terjadinya banjir serta meningkatkan resapan air tanah.
Sebaliknya di daerah yang gundul dan permukaan tanahnya padat resiko terjadinya banjir sangat besar, ” urainya.
Ditambahkannya, selain faktor geologi dan curah hujan, hutan mempunyai peranan terjadinya tanah longsor.
Pengaruh hutan tersebut dilakukan oleh akar-akar pohon. Pada tanah yang tidak stabil penebangan hutan manaikkan hampir lima kali kejadian longsor dan hampir tiga kali volume tanah yang longsor.
“Pada tanah yang stabil pengaruh tersebut tidak terlalu nampak. Sehingga hutan sangatlah penting untuk pengendaliaan tanah longsor khususnya di daerah yang tidak stabil,” jelasnya.(RW)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















