SuarIndonesia – Kecaman warganet atas tindakan Edy Mulyadi juga menyasar kepada Uhaib As’ad, pria yang berprofesi sebagai dosen Uniska Banjarmasin.
Pasalnya, pria bergelar doktor tersebut ikut mendampingi Edy saat membuat pernyataan maaf.
Bukan hanya mendampingi, Uhaib juga menyatakan mewakili warga Kalimantan pada video yang diunggah melalui akun youtube Bang Edy Channel tersebut. Tindakan Uhaib tersebut ternyata memantik reaksi masyarakat.
Ia dikecam warganet di dunia sosial media. Berbagai komentar miring dan bernada kecaman dilayangkan kepada dirinya.
Pada akun instagram yang diduga milik Uhaib As’ad @dr.uhaib seratusan komentar membanjiri positingan foto yang bersangkutan.
“Oolh ni dosen yg bilang biasa saja klo ngomong jin buang anak ..genderowo kuntilak .monyet .. .pak pak .ko ngomong sama teman sendiri bgtu masih mungkin ..tapi klo sudah ngomong bgtu didepan media .di surot di rekam masih di bilang biasa,” tulis akun @rindi__i0906.
“Pian jangan mentang mentang bisi gelar lalu ai bepadah mewakili Kalimantan wkwk…kadeda yg butuh diwakili lawan Pian…kada menyangka anggapan nya Menghianati Kalimantan Pian tuh,” timpal @yantiireal_.
“Yg mengangkat anda perwakilan Kalimantan siapa? Ko bisa bisa nya rasisme di anggap candaan.
Kalau itu kalimat ucapan orang jakarta ya ucapkan itu di jakarta aja jangan depan publik yg bisa di tonton banyak orang.
Sekalas dosen gini amat pola pikir nya. Pak saya ini lulusan SMP doang. Tapi tau cara berkomunikasi depan publik yg tanpa menyinggung ras atau suku lain.
Meskipun konteks nya candaan. Karena mau di negara manapun gak bisa di benarkan candaan bernada rasime. Harus nya sampean tau karena gelar sampean tinggi,” tegas @ferdyaskal.
Sebelumnya, pada video klarifikasi permintaan maaf Edy Mulyadi, Uhaib As’ad menilai bahwa perkataan Edy Mulyadi hanyalah sebagai suatu kelucuan politik saja.
Ia mengatakan apa yang dikatakan oleh Edy Mulyadi standar-standar saja, tidak ada yang tersinggung, karena menurutnya isu politik saat ini merupakan isu yang tengah hangat diperbincangkan.
“Isu politik kan jadi isu yang hangat, trending. Apapun ucapan itu bisa diinterpretasi dengan berbagai macam cara.
Saya sebagai akademisi, saya menilai ini itu standar-standar aja dalam bahasa jurnalistik, tidak ada yang tersinggung, biasa-biasa saja,” jelasnya.(RW)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















