Suarindonesia – Memasuki musim penghujan, warga Kota Banjarmasin diminta untuk mewaspadai penyebaran deman berdarah dengue (DBD). Karena tercatat sudah ada 24 kasus DBD, juga ada satu korban akibat serang DB dinyatakan meninggal dunia.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, dr Dwi Atmi Susilastut yang dikonformasi korban DB, Selasa (4/12) membenarkan ada korban yang meninggal karena serangan DB.
Karena itulah, untuk mencegah penyebaran DBD pihaknya berkoordinasi dengan pengelola program pencegahan demam berdarah di 26 puskesmas di Kota Banjarmasin, selama 1 x 24 jam melalui jejaring media sosia (medsos).
“Penyebaran DBD masif terjadi pada musim hujan, meski sebetulnya setiap bulan ada saja kasus DBD yang dilaporkan. Kami juga telah
menginstruksikan waspada DBD,” ucap dr Dwi Atmi Susilastuti kepada wartawan.
Ia menjelaskan ada tiga program strategis pencegahan DBD. Pertama penyuluhan kewaspadaan demam berdarah dengan warga Kota
Banjarmasin. “Upaya kedua dalah kerja sama lintas sektor pemberantasan sarang nyamuk. Dan, ketiga mengarahkan warga jika ada terjangkiti demam yang tidak sembuh untuk dirujuk ke puskesmas terdekat,” ungkap Atmi.
Dia juga menjelaskan tenaga kesehatan sudah terlatih dan mampu mendeteksi dini demam berdarah. Sebab, di 26 puskesmas tersedia tes laboratorium untuk memeriksa penyebab demam. “Hal ini memudahkan tindakan medis, jika ada warga yang memang positif terjangkiti DBD,. Karena momen kritis DBD terjadi pada hari kelima hingga ketujuh pada penderita DBD,” ucap Atmi.
Ia mengungkapkan pada Desember 2018 ini, terdata ada satu warga Banjarmasin yang meninggal akibat serangan DBD. Hal ini disebabkan kondisi korban yang sudah kritis, baru dirujuk ke puskesmas. “Semua kasus kematian akibat DBD disebabkan terlambat merujuk ke puskesmas atau rumah sakit. Hal ini yang perlu diantisipasi semua pihak,” katanya.
Atmi menerangkan DBD sebenarnya bisa dicegah, jika warga terbiasa hidup bersih dan sehat. Terutama, saat air yang tergenang menjadi tempat berkembangbiaknya jentik-jentik nyamuk dengue. “Jika ada RT yang terjadi kasus DBD, dan kemudian lingkungan RT itu bisa mencegah tidak terjadi lagi kasus DBD, akan diberi penghargaan oleh Walikota Banjarmasin,” katanya.
Khusus untuk itu, Atmi mengatakan Dinkes Banjarmasin juga menggalakkan program pemeriksaan jentik nyamuk mandiri. “Kami juga urun rembug untuk pencegahan DBD dengan melibatkan ketua RT dan tokoh masyarakat,” katanya.(SU)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















