SuarIndonesia – Gubernur Kalsel, H. Muhidin, meminta program tukar sampah dengan sembako harus berjalan secara berkelanjutan dan tidak hanya dilaksanakan saat kegiatan seremonial.
“Saya mengingatkan agar upaya mengampanyekan pengelolaan sampah dimulai dari lingkungan perkantoran pemerintah sendiri.
Jangan sampai kita menggaungkan tukar sampah dengan sembako, tetapi kantor kita sendiri masih banyak sampah. Lingkungan perkantoran harus menjadi prioritas dalam menjaga kebersihan,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Rahmat Prapto Udoyo, mengatakan tujuan utama program tersebut bukan sekadar menukarkan sampah dengan kebutuhan pokok.
Melainkan membangun kesadaran masyarakat bahwa sampah memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan baik. “Kami ingin mengubah cara pandang masyarakat bahwa sampah bukan sesuatu yang berakhir sebagai limbah, melainkan memiliki nilai manfaat dan nilai ekonomi,” ujarnya.
Rahmat menjelaskan, hanya jenis sampah tertentu yang memenuhi kriteria untuk ditukarkan dengan sembako.
Program ini bukan kegiatan baru, melainkan telah berjalan secara berkelanjutan di berbagai daerah, seperti Banjarbaru, Banjarmasin, Kabupaten Banjar hingga sejumlah desa dan komunitas yang mengundang DLH.
Pendanaan program berasal dari Bank Sampah Induk DLH melalui pengelolaan ekonomi sirkular. Sampah yang terkumpul diolah sehingga hasilnya kembali dimanfaatkan untuk menyediakan paket sembako.
Selain itu, program juga mendapat dukungan dari sejumlah pelaku usaha.“Program ini akan terus berlanjut. Hampir setiap minggu atau dua minggu sekali selalu ada kegiatan, baik yang diselenggarakan oleh kabupaten, kota maupun komunitas,” katanya.
Ia menambahkan, paket sembako yang disediakan antara lain beras, minyak goreng, gula dan kebutuhan pokok lainnya.
Jumlah paket disesuaikan dengan volume sampah yang berhasil dikumpulkan masyarakat. Jika persediaan di lokasi kurang, stok akan ditambah dari Bank Sampah Induk DLH.
Menurut Rahmat, antusiasme masyarakat terhadap program tersebut selalu tinggi di setiap pelaksanaan.
Bahkan, DLH telah mendorong pembentukan kios sampah di sejumlah wilayah, seperti Sungai Rangas, yang memungkinkan masyarakat menukarkan sampah dengan sembako secara lebih mudah.
Bagi masyarakat yang ingin menukarkan sampah di luar kegiatan lapangan, DLH membuka layanan setiap hari melalui kantor Bank Sampah Induk.
“Masyarakat bisa langsung datang ke kantor Bank Sampah Induk. Konsepnya seperti bank, hanya saja yang ditabung adalah sampah dan hasilnya bisa ditukar dengan sembako,” jelasnya.(RW)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















