“PEMBUKAAN Lahan Gambut dengan Pembakaran, Antara Realitas Sosial dan Risiko Ekologis”

- Penulis

Senin, 1 Desember 2025 - 16:42

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Yunita Alifah Haura

Yunita Alifah Haura

Dalam pengelolaan lahan khususnya di wilayah gambut, praktik pembukaan lahan selalu menimbulkan perdebatan panjang antara kebutuhan efisiensi ekonomi masyarakat dan potensi risiko ekologis.

Di beberapa daerah, pembukaan lahan dengan cara membakar masih dianggap sebagai metode paling cepat dan murah untuk mempersiapkan tanah sebelum musim tanam.

Namun di saat yang sama, praktik ini juga sering dinilai berbahaya karena dapat memicu kabut asap dan kerusakan lingkungan yang lebih luas.

Karena itu, pembahasan mengenai metode pembukaan lahan perlu ditempatkan secara proporsional dengan mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi, budaya, dan ekologi secara seimbang.

Dari sisi efisiensi, masyarakat di berbagai wilayah pedesaan menghadapi keterbatasan modal,
alat, dan akses teknologi.

Dalam kondisi tersebut, pembakaran menjadi pilihan praktis yang mampu mempercepat proses pembersihan lahan. Beberapa petani bahkan meyakini bahwa pembakaran dapat membantu mengurangi hama awal dan mempercepat mineralisasi unsur hara.

Teknik controlled burning juga sudah lama dikenal dalam praktik tradisional dengan mekanisme pengawasan, pembatasan area, serta pertimbangan cuaca yang ketat agar tidakberkembang menjadi kebakaran besar. Akan tetapi, kondisi lingkungan saat ini telah berubah.

Lahan gambut yang semakin kering akibat perubahan iklim, drainase, dan tekanan pembukaan lahan skala besar membuat risiko kebakaran jauh lebih tinggi.

Api yang awalnya digunakan untuk membersihkan lahan bisa merambat ke lapisan gambut dan bertahan lama di bawah permukaan. Selain faktor teknis, aspek budaya dan kearifan lokal turut memengaruhi praktik ini.

Di sejumlah daerah, pembakaran terbatas merupakan bagian dari tradisi masyarakat adat yang dilakukan pada musim tertentu dengan mempertimbangkan arah angin, kelembapan tanah, dan batasan wilayah. Akan tetapi, perlu diingat bahwa gambut menyimpan cadangan karbon yang besar.

Ketika terbakar, karbon tersebut dilepaskan ke atmosfer dan memperburuk perubahan iklim. Dampaknya tidak hanya dirasakan secara lokal, tetapi juga berkontribusi pada persoalan lingkungan global.

Dalam perspektif hukum lingkungan modern, kearifan lokal tetap memiliki ruang selama tetap berada dalam batas praktik yang dapat dikendalikan.

Perbedaannya adalah praktik tradisional yang terukur harus dibedakan dari aktivitas industri berskala besar yang sering kali menjadi pemicu utama kebakaran masif.

Baca Juga :   DISERGAP di Depan Hotel Ingin Transaksi 5 Kg Sabu dan Ratusan Ekstasi, Polda Kalsel Terus Lacak Jaringannya

Dengan mempertimbangkan berbagai aspek tersebut, pengelolaan pembukaan lahan memerlukan pendekatan yang hati-hati. Pemerintah memiliki peran penting dalam menetapkan zonasi yang jelas mengenai wilayah yang boleh dan tidak boleh dilakukan pembakaran, terutama pada kawasan gambut dalam dan area lindung.

Pelatihan terkait controlled burning, pendampingan teknis, serta pengawasan lapangan juga perlu dilakukan secara rutin agar praktik ini dapat diminimalkan risikonya.

Pendekatan semacam ini dapat membantu memastikan bahwa aktivitas pembukaan lahan tidak semata-mata bergantung pada larangan, tetapi juga menyediakan alternatif yang dapat dijangkau masyarakat.

Di sisi lain, risiko ekologis pembakaran gambut tetap harus menjadi pertimbangan utama.  Kebakaran pada gambut sulit dipadamkan, dapat berlangsung lama, dan menimbulkan berbagai dampak seperti kabut asap, gangguan kesehatan, kerugian ekonomi, serta pelepasan karbon dalam jumlah besar.

Karena itu, regulasi harus mampu membedakan secara adil antara pembakaran terbatas yang dilakukan oleh masyarakat kecil dan aktivitas pembakaran skala besar yang berdampak lebih luas.

Pada akhirnya, pengelolaan pembukaan lahan gambut memerlukan keseimbangan antara
kebutuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan.

Pembakaran tidak bisa sepenuhnya dihilangkan tanpa menyediakan teknologi atau metode alternatif yang terjangkau, tetapi juga tidak bisa dibiarkan tanpa kontrol yang memadai.

Dengan pengawasan ketat, zonasi yang jelas, dan pemberdayaan masyarakat, strategi pengelolaan lahan dapat disusun secara lebih adaptif terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan ekologi setempat.

Oleh : Yunita Alifah Haura (Opini Pengantar Lingkungan Lahan Basah/Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat)

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

TKD BERKURANG, Anggaran Dinas PUPR Kalsel 2027 Anjlok 800 Miliar
PATROLI HUMANIS Perkuat Kedekatan dengan Warga Sungai Miai Dalam
DIUPAYAKAN Penerbangan Umrah Langsung ke Jeddah
DIGELEDAH Dinkes Banjar, Puluhan Dokumen dan Satu Alat Bukti Elektronik Disita
PERKUAT KEBANGSAAN, DPRD Kalsel Sosialisasi Pancasila di Desa Liyu
PELESTARIAN Naskah Kuno Warisan Budaya Banua
KERIBUTAN di Teluk Masjid Berakhir Damai Lewat Musyawarah
DILIBATKAN BPBD Dua Sekolah di Balangan dalam MPLS

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 21:35

KONTROVERSI Pelibatan Babinsa dalam Mengawasi Kepatuhan Wajib Pajak Dikritik – ‘Bisa Menggerus Kepercayaan’

Selasa, 21 Juli 2026 - 20:42

KPK: Bupati Lombok Barat LAZ dan Dua Orang jadi Tersangka Korupsi

Senin, 20 Juli 2026 - 22:05

PERKUAT KEBANGSAAN, DPRD Kalsel Sosialisasi Pancasila di Desa Liyu

Senin, 20 Juli 2026 - 21:08

KORUPSI Pembiayaan Batu Bara Rugikan Negara Rp38 Miliar

Minggu, 19 Juli 2026 - 21:49

DILIBATKAN BPBD Dua Sekolah di Balangan dalam MPLS

Sabtu, 18 Juli 2026 - 22:57

CERITA FOTO IKONIK Lionel Messi Memandikan Lamine Yamal saat Bayi

Kamis, 16 Juli 2026 - 22:12

EDUKASI Pelajar SMPN 2 Banjarmasin Lewat Program Police Goes To School

Kamis, 16 Juli 2026 - 14:56

DIPICU SUARA KNALPOT, Pedagang Gorengan Bunuh Seorang Pemuda di Hadapan Sang Istri

Berita Terbaru

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Kalsel M Fitri Hernadi. (Foto: ANTARA/Tumpal AA)

Bisnis

DIUPAYAKAN Penerbangan Umrah Langsung ke Jeddah

Selasa, 21 Jul 2026 - 20:52

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca