Partai Advokasi Renungan dari Tanah Suci (20 Desember 2019)

Partai Advokasi Renungan dari Tanah Suci (20 Desember 2019)

Oleh
Totok Daryanto Waketum DPP PAN

Tidak semua elite partai bisa menerima gagasan Partai Advokasi. Hal ini tidak perlu membuat kita berkecil hati. Pada Bab 6 buku saya yang diterbitkan oleh LP3ES belum lama ini, tertulis judul “Pengalaman yang Menyesatkan”. Di sini saya mendiskrepsikan bahwa “ganjaran psikologis yang menyenangkan bagi seseorang cenderung menyukai pengulangan, sementara ganjaran psikologis yang menyakitkan bagi seseorang cenderung tidak menyukai pengulangan.”

Mungkin banyak elite politik yang diuntungkan dalam sistem politik kontemporer yang sangat diatur oleh kekuatan uang. Dengan demikian gagasan Partai Advokasi tidak serta merta mudah diterima.

Kyai Ahmad Dahlan dulu ketika awal memperkenalkan Muhammadiyah juga tidak serta merta diterima oleh umat Islam pada zamannya. Sang pendiri Muhammadiyah itu dengan kesabarannya, mendatangi orang per orang, dari rumah ke rumah. Berpesan dan meyakinkan bahwa ijtihad keagamaan yang diperkenalkannya sangat bermanfaat untuk masa depan umat yang berkemajuan.

Membandingkan kepeloporan sang pembaharu tersebut dengan apa yang saya gagas dalam buku “Partai Advokasi” sungguh tidak sepadan. Kyai Ahmad Dahlan melakukan pekerjaan spektakuler dan mendapat tantangan fisik yang sangat berat bahkan mempertaruhkan jiwanya. Sementara yang saya lakukan sekedar sumbangan kecil urusan politik dan tanpa risiko pertaruhan nyawa.

Gagasan Partai Advokasi yang saya perkenalkan, selain ada yang menolak, diterima kalangan politisi dan cendekiawan yang berpikiran jernih. Banyak yang berpendapat gagasan tersebut tepat momentumnya dalam politik kontemporer Indonesia dewasa ini. Banyaknya kasus korupsi di kalangan pejabat negara dan beban keuangan politisi yang semakin berat, menjadi salah satu alasannya.

Sebagian besar kader partai politik yang berdedikasi politik tinggi tetapi selalu tersisih dalam kompetisi pemilu, juga sangat merindukan perubahan tersebut. Perlu ada gerakan yang substantif agar politics back to basic. Politik harus dikembalikan ke jalan yang benar. Jalan politik bukan jalan uang.

Marilah kita buat analogi enteng-entengan. Tukang batu tupoksinya urusan pasang-memasang batu konstruksi. Tukang listrik urusannya perlistrikan. Profesi dokter tugas utamanya urusan kesehatan manusia. Sebuah profesi ketika urusan utamanya melenceng dari hakekat profesinya, sesungguhnya telah batal keprofesiannya.

Inilah anomali yang menyedihkan dalam politik nasional kontemporer yang sedang kita jalani. Politik kita urusan utamanya adalah uang dan uang. Terjadi kesalahkaprahan. Kesalahan yang dikerjakan bersama-sama seakan suatu kebenaran.

Profesi politik tugas utamanya seharusnya pekerjaan politik. Uang sekedar alat pendukung, bukan segala-galanya. Back to basic adalah jargon manajemen yang akan melipatgandakan daya saing suatu profesi. Dalam 5 tahun ke depan PAN harus mampu menginstall program-program politik yang terstruktur dan masif, dari pusat hingga daerah. Esensi program politik adalah mendengar aspirasi rakyat. Memperjuangkannya secara riil sehingga dirasakan oleh rakyat.

Saudaraku Zulkifli Hasan berkomitmen melakukan perubahan mendasar dalam tata kelola partai dalam periode kedua kepemimpinannya bila Kongres nanti memberikan mandat kembali.

 836 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: