Suarindonesia – Pamor Borneo 2026 yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dan mitra strategis mencatat capaian positif dalam mendorong investasi, penguatan UMKM dan perluasan digitalisasi pembayaran.
Selama pelaksanaan pada 7–9 Agustus 2026, sebanyak 12 dari 15 proyek investasi yang ditawarkan berhasil memperoleh 32 Letter of Interest (LoI) dari 15 investor dengan nilai mencapai Rp64,45 triliun.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan, Haris Munandar, mengatakan capaian tersebut menjadi gambaran kuatnya kolaborasi berbagai pihak dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan.
“Capaian Pamor Borneo 2026 mencerminkan kuatnya sinergi Bank Indonesia, pemerintah daerah, Dekranasda, OJK, perbankan, instansi vertikal, asosiasi, pelaku usaha, dan masyarakat,” kata Haris, Senin (10/8/2026).
Menurutnya, capaian LoI tersebut diharapkan tidak berhenti pada komitmen awal, tetapi dapat ditindaklanjuti menjadi realisasi investasi konkret.
Untuk mendukung hal tersebut, investor selama kegiatan juga mendapat kesempatan melakukan one-on-one meeting dengan pemilik proyek serta mengunjungi langsung sejumlah lokasi proyek investasi.
“Kita berharap sinergi ini terus dilanjutkan setelah kegiatan berakhir untuk memperkuat akselerasi perekonomian dan digitalisasi pembayaran di Kalimantan Selatan,” ujarnya.
Selain investasi, Pamor Borneo 2026 juga menjadi wadah penguatan UMKM. Lebih dari 50 UMKM unggulan hasil kurasi mengikuti kegiatan dengan menampilkan produk kriya, ready to wear, wastra dan kuliner.
Selama kegiatan berlangsung, penjualan UMKM tercatat mencapai Rp377 juta, sementara fasilitasi business deals perdagangan dalam negeri dan ekspor mencapai Rp2,2 miliar. Dari sisi akses pembiayaan, tercatat komitmen pembiayaan UMKM sebesar Rp1,05 miliar.
Pamor Borneo 2026 juga menghadirkan pameran potensi pariwisata Kalimantan yang menarik sekitar 300 pengunjung.
Di sektor ekonomi syariah, kegiatan tersebut turut mendorong masyarakat berpartisipasi dalam program wakaf produktif. Total wakaf yang terkumpul mencapai Rp14,46 juta melalui 924 transaksi menggunakan QRIS.
Sementara dari sisi sistem pembayaran, tercatat lebih dari 3.200 transaksi QRIS selama penyelenggaraan Pamor Borneo 2026.
Penguatan literasi digital juga dilakukan melalui aplikasi Buku Saku Edukasi Digital (BUDI) Bank Indonesia yang diikuti lebih dari 1.500 masyarakat.
Haris menegaskan Bank Indonesia akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif.
“Melalui kolaborasi tersebut, perekonomian Kalimantan Selatan dan wilayah Kalimantan diharapkan semakin tumbuh tinggi, inklusif, dan berkelanjutan,” jelasnya.
Menurutnya, penguatan investasi, pemberdayaan UMKM dan akselerasi digitalisasi menjadi bagian penting dalam mendukung Kalimantan Selatan sebagai gerbang logistik Kalimantan serta mendorong Kalimantan sebagai Superhub Ekonomi Nusantara.(ADV/RW)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















