KURANG MEMAHAMI Nilai Seni dan Ekspresi Publik, Penghapusan Mural

- Penulis

Jumat, 27 Agustus 2021 - 23:03

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SuarIndonesia Penghapusan mural sindiran yang dilakukan aparat Satpol PP Kota Banjarmasin masih menjadi isu hangat di masyarakat. Tak sedikit yang menentang keputusan tersebut meski Pemko Banjarmasin mengaku tak anti kritik.

Tanggapan tersebut juga datang dari Kurator Seni Rupa di Banjarmasin, Hajriansyah menilai penghapusan mural itu terjadi lantaran kurangnya pemahaman melihat mural sebagai karya seni atau ekspresi publik.

“Belum lagi menyangkut soal kebebasan bersuara. Dalam berdemokrasi, sah-sah saja. Bahkan mereka yang menyampaikan aspirasi mestinya justru dilindungi,” ucapnya pada awak media melalui pesan singkat, belum lama tadi.

Pria yang menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Kota Banjarmasin itu juga menegaskan, ketika penghapusan mural terjadi lantaran kalimat yang ditulis dianggap menyindir pemerintah, maka ia merasa bahwa penghapusan mural justru adalah sebuah tindakan yang berlebihan.

“Karena saya melihat tulisannya itu sifatnya netral. Itu bisa menjadi media refleksi bagi siapa saja yang melihatnya. Saya melihat tulisan itu tidak ditujukan khusus untuk pemerintah,” jelasnya.

 

 

KURANG MEMAHAMI Nilai Seni dan Ekspresi Publik, Penghapusan Mural (2)

 

 

Hajriansyah menilai akan lebih bagus jika mural dilihat sebagai karya seni saja. Padahal menurutnya, sebelum melakukan tindakan yang berlebihan tersebut djalankan, pemerintah bisa berdiskusi dengan para seniman.

“Pemerintah bisa bertanya kepada para seniman. Toh di Banjarmasin, ada dewan kesenian,” sarannya.

Hajriansyah pun kembali menekankan. Agara pemerintah seyogyanya memahami media-media ekspresi, aspirasi seperti mural atau grafiti dan lain sebagainya sebagai bagian bentuk kesadaran masyarakat.

“Pemerintah mesti memahami, bagaimana seni itu bisa menjadi bagian kontribusi para seniman terhadap pembangunan,” tutupnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Dosen filsafat dan seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Sumasno Hadi.

 

 

KURANG MEMAHAMI Nilai Seni dan Ekspresi Publik, Penghapusan Mural (3)

 

 

Ia menilai bahwa fenomena “booming” mural yang bertendensi kritik sosial publik terhadap tatanan sosial, khususnya pemerintah atau penguasa akhir-akhir ini dipandang cukup menarik.

Lantaran berpotensi penguatan apresiasi seni atau edukasi publik bagi masyarakat.

Baca Juga :   PEMKO BANJARMASIN Luncurkan Super Apps Pintar v3.0.0

Melihat yang viral terjadi di berbagai daerah di Indonesia, termasuk penghapusan mural oleh aparat Pemko Banjarmasin beberapa waktu lalu, setidaknya menurut Sumasno, memberikan sejumlah hal yang dapat dipahami.

“Pertama, dari kasus mural sebenarnya menunjukkan bahwa publik kita cukup peduli dan partisipatif terhadap kondisi sosialnya. Kepedulian itulah yang kemudian diekspresikan secara publik melalui seni visual-urban. Pada bentuk mural di tembok-tembok atau bangunan publik,” jelasnya.

Kedua, karena bernilai publik, maka mural yang pada bentuknya adalah kreativitas artistik (karya seni, red) pun terbawa pada norma sosial (undang-undang, peraturan paerah, peraturan wali kota dan sebagainya).

“Ketiga, dalam hal edukasi atau apresiasi seni kita, persoalan itu semestinya dikembalikan pada substansinya. Bahwa, pendapat atau pikiran warga yang diekspresikan secara publik pada media tertentu dilindungi oleh undang-undang. Kuncinya ada pada pilihan medianya. Apakah mural-mural itu dituangkan pada medium yang tidak menabrak undang-undang atau peraturan hukum lainnya,” tegasnya.

Terakhir, Sumasno lantas mengajak seluruh lapisan masyarakat, untuk bertanya pada diri sendiri. Apakah sudah ada wadah atau medium tertentu bagi warga, sebagai jaminan atas kebebasan menuangkan pikiran dan berpendapatnya di ruang publik, baik secara ilmiah maupun artistik?

“Jadi, saya kira kasus mural dan segala penertiban sosialnya akhir-akhir ini menjadi fenomena masyarakat modern demokratis biasa. Yang di dalamnya tak dapat kita kelak, menghadapi persoalan relasional antara ekspresi individu, norma sosial, dengan kebijakan publiknya,” tambahnya.

“Suara rakyat pada mural-mural yang boleh jadi dihapus dari tempat itu, tetap dapat kita dengarkan dengan jelas. Tinggal kualitas suaranya saja yang dapat kita telusuri. Apakah itu suara-suara yang jujur, suara yang merdu, atau malah suara latah bak burung beo?” tanyanya. (SU)

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

JEMAAH HAJI Kloter 12 Debarkasi Banjarmasin Tiba
BEKANTAN Pulau Curiak Lahirkan Anak Kembar
BERGEMA SENI BUDAYA Dilantunkan Ratusan Peserta di Banjarbaru, Kapolda Kalsel : Ini Komitmen Nyata Polri Menjaga Kearifan Lokal
MEMBARA Rumah Tingkat Dua di Kawasan Jafri Zam-zam Banjarmasin
TIGA PRIA Diamuk Warga, Diduga Ingin Curi Kabel Telkom di Banua Anyar
BPDLH-TIM PMU NC Evaluasi RHL FOLU Net Sink
BEM Menuntut Kehadiran Anggota DPR RI Dapil Kalsel
DIBEDAH Bapperida Balangan Indikator Makro Daerah

Berita Terkait

Minggu, 21 Juni 2026 - 21:47

MOTOGP CEKO 2026: Marc Marquez Juara, Ogura dan Bagnaia Finis 2-3

Jumat, 19 Juni 2026 - 22:06

DIPERSIAPKAN Pemkab Balangan Skema Nonton Bareng Piala Dunia

Jumat, 19 Juni 2026 - 21:17

IRAN BEBASKAN BIAYA Melintas di Selat Hormuz selama 60 Hari

Jumat, 19 Juni 2026 - 20:47

PIALA DUNIA 2026: Kanada Bantai Qatar 6-0

Kamis, 18 Juni 2026 - 21:05

PIALA DUNIA 2026: Hasil dan Klasemen Piala Dunia 2026 Usai Matchday 1

Rabu, 17 Juni 2026 - 21:24

PIALA DUNIA 2026: Hasil dan Klasemen Usai Match ke-20

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:40

PIALA DUNIA 2026: Hasil dan Klasemen Grup Saat Ini

Selasa, 16 Juni 2026 - 20:26

PIALA DUNIA 2026: Spanyol vs Tanjung Verde Imbang tanpa Gol

Berita Terbaru

Kedatangan jamaah haji Kloter 12 asal Hulu Sungai Selatan di asrama haji Debarkasi Banjarmasin di Kota Banjarbaru, Minggu (21/6/2026). (Foto: PPIH Debarkasi Banjarmasin)

HSS

JEMAAH HAJI Kloter 12 Debarkasi Banjarmasin Tiba

Minggu, 21 Jun 2026 - 23:00

Bekantan. (Foto: detikcom/Pradita Utama)

Kalsel

BEKANTAN Pulau Curiak Lahirkan Anak Kembar

Minggu, 21 Jun 2026 - 22:54

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca