SuarIndonesia — Kepala Basarnas Mohammad Syafii meminta masyarakat dan pihak-pihak di luar tim SAR gabungan untuk mengosongkan area reruntuhan bangunan Pondok Pesantren Al-Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur, guna menjaga konsentrasi dan efektivitas operasi penyelamatan.
“Bukan berarti kami tidak ingin masyarakat atau media melihat langsung, tetapi karena kami sedang menggunakan teknologi pendeteksi korban hidup, maka area harus clear agar alat dapat bekerja optimal,” katanya dalam rekaman suara konferensi pers yang diterima di Jakarta, Rabu (1/10/2025).
Di hadapan puluhan pewarta di tenda media center darurat itu, Syafii menjelaskan bahwa penanganan operasi SAR dilakukan dengan metode khusus, karena struktur bangunan runtuh berbentuk “pancake collapse”, yakni tumpukan material beton yang saling menindih.
Basarnas selaku kepala operasi mengerahkan 379 personel dari 65 instansi yang tergabung dalam operasi SAR gabungan.
Untuk mendeteksi korban, Basarnas menggunakan peralatan modern, seperti drone thermal, detektor suhu tubuh, dan sistem pencarian berbasis teknologi.
Namun, ia mengakui kondisi lapangan sangat menantang. Struktur bangunan yang rapuh, getaran kecil, dan galian sempit selebar 60 sentimeter menjadi kendala utama. Selain itu, reruntuhan berasal dari fondasi lama yang berpotensi longsor saat digali.
“Lalu, kalau terlalu banyak orang di lokasi, alat-alat ini tidak bisa bekerja dengan baik,” ujarnya.
Syafii menegaskan operasi pencarian dan penyelamatan masih berfokus pada mengejar golden time 72 jam, periode krusial untuk menyelamatkan korban dalam kondisi hidup, sementara saat ini sudah memasuki hari ketiga operasi diambang waktu kritis 72 jam.
Tim gabungan juga sudah berupaya menyalurkan suplai berupa minuman, vitamin, bahkan infus kepada korban yang berhasil dijangkau. Berdasarkan data sementara tim di lapangan ada sebanyak 15 orang santri yang terdeteksi ada di bawah runtuhan.
“Basarnas bekerja profesional dengan standar internasional. Setiap perkembangan akan kami laporkan secara berkala melalui SAR Mission Coordinator di lapangan,” kata Syafii.
Posisi santri sudah kian terhimpit di bawah runtuhan beton
Sementara itu, dilansir dari AntaraNews, Basarnas mengungkapkan kondisi sejumlah santri yang masih tertimbun reruntuhan bangunan Ponpes Al-Khoziny semakin kritis karena posisi tubuh mereka kian terhimpit beton.
“Kami menemukan satu korban masih bisa merespons suara, tetapi posisinya sudah sangat sempit. Bordes bangunan yang runtuh turun signifikan 10–12 sentimeter, sehingga ruang gerak korban semakin terbatas,” kata Kepala Subdirektorat Pengarahan dan Pengendalian Operasi (RPDO) Basarnas, Emi Freezer, dalam rekaman suara konferensi pers yang diterima di Jakarta, Rabu (1/10/2025).
Dihadapan puluhan pewarta di tenda media center darurat itu, Emi menjelaskan bahwa pola runtuhan bangunan berbentuk “pancake collapse” menyulitkan tim SAR untuk menembus ruang sempit di antara kolom utama. Maka walaupun sudah menggunakan peralatan berteknologi modern akses menuju lokasi korban sangat terbatas.
“Dari 15 titik yang sudah teridentifikasi, delapan berstatus hitam (tidak responsif) dan tujuh masih merah (masih ada respons). Tantangan kami adalah bagaimana mempertahankan nyawa korban, dengan kondisi struktur yang rapuh,” ujarnya.
Basarnas bersama 375 personel gabungan tetap mengutamakan fase “golden time” 72 jam untuk penyelamatan.

Mensos apresiasi kerja cepat Basarnas
Mensos Saifullah Yusuf mengapresiasi kerja cepat Basarnas dalam mengevakuasi korban selamat dalam musibah robohnya bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur.
“Kami menyaksikan sendiri bagaimana kepala Basarnas dan tim bekerja sungguh-sungguh. Itu patut diapresiasi,” kata dia setelah menyaksikan langsung proses evakuasi seorang korban selamat dari musibah itu bernama Haikal di Ponpes Al-Khoziny Buduran di Sidoarjo, Rabu (1/10/2025).
Ia tiba di lokasi sekitar pukul 16.00 WIB disambut Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii.
Gus Ipul –sapaan akrab Mensos Syaifullah Yusuf — yang mengenakan helm pengaman tampak berdialog dan memberi semangat kepada tim SAR bekerja dengan penuh kehati-hatian di tengah reruntuhan beton bertulang.
Ia mengatakan medan yang berat membuat penyelamatan harus dilakukan dengan hati-hati, terlebih di bawah reruntuhan diperkirakan masih ada beberapa santri yang terjebak. (*/ut)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















