KASUS DBD Meningkat Saat Covid-19 Turun

Bagikan :
KASUS DBD Meningkat Saat Covid-19 Turun

SuarIndonesia – Kasus Covid-19 atau virus Corona di Banjarmasin memang menunjukkan penurunan angka, namun kondisi tersebut bertolak belakang dengan kasus penyakit lainnya yang tak kalah mematikan.

Pasalnya, Ibukota Kalimantan Selatan ini tengah diterpa penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Hal itu ditandai dengan melonjaknya kasus penyakit yang diakibatkan oleh gigitan nyamuk tersebut.

Hal itu dibenarkan oleh Kasi Keperawatan Rawat Inap, RSUD Sultan Suriansyah, Ahdiat Shobari. Saat dikonfirmasi, ia membeberkan hingga kini sudah ada puluhan pasien yang menjalani rawat inap di rumah sakit milik Pemerintah Kota Banjarmasin tersebut.

“Untuk di tahun 2021 sampai Oktober ini sudah ada 26 kasus. Rinciannya 11 pasien dewasa, 15 pasien anak-anak. Bahkan di antaranya sudah ada 4 orang yang meninggal dunia akibat DBD,” bebernya saat ditemui awak media, Kamis (21/10/2021) siang.

Lantas, apakah saat ini masih ada pasien DBD yang dirawat di rumah sakit plat merah tersebut?

Terkait hal itu, Shobari mengatakan, bahwa sekarang masih ada satu anak yang menjalani perawatan akibat tetular penyakit demam berdarah.

“Saat ini masih ada satu anak yang dirawat di RSUD Sultan Suriansyah. Dan Alhamdulillah untuk kondisinya sudah mulai membaik,” ungkapnya.

Padahal menurutnya, tahun 2020 hanya terjadi 20 kasus DBD yang dirawat di Kota Seribu Sungai ini. Satu di antaranya telah meninggal dunia.

“Dari 20 kasus itu terbagi ada dua perawatan di antaranya 9 perawatan dewasa dan 11 pasien anak-anak,” ungkapnya.

Ia menilai, peningkatan kasus DBD yang terjadi kali ini dikarenakan Kota Banjarmasin tengah memasuki musim penghujan, dan waktu itulah yang menyebabkan perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus yang membawa virus Dengue mengalami lonjakan.

“Maka dari itu kita mengimbau masyarakat agar benar-benar memperhatikan prinsip 3M Plus sebagai upaya pencegahan DBD,” katanya.

Adapun yang dimaksud dengan 3M Plus itu seperti menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan, menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk serta menggunakan kelambu saat tidur.

Selain itu ia juga menyarankan untuk memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk di tempat penampungan air, menanam tanaman pengusir nyamuk, mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah, menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk, dan lain-lain.

“Yang terpenting agar masyarakat memperhatikan kebersihan lingkungan, agar perkembang biakkan nyamuk pembawa penyakit ini bisa ditanggulangi. Karena DBD juga berbahaya jika kita tidak melakukan pencegahan dengan baik,” pungkasnya

Maka dari itu, pihaknya meminta masyarakat agar terus menjaga kebersihan lingkungannya, terutama dari tempat-tempat yang membuat genangan air yang dimanfaatkan nyamuk untuk bersarang.

“Kita mengimbau masyarakat agar benar-benar memperhatikan prinsip 3M Plus sebagai upaya pencegahan DBD,” katanya.

Adapun yang dimaksud dengan 3M Plus itu seperti menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan, menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk serta menggunakan kelambu saat tidur.

Selain itu ia juga menyarankan untuk memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk di tempat penampungan air, menanam tanaman pengusir nyamuk.

Kemudian mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah, menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk.(SU)

 210 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!