Suarindonesia – Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin berencana melakukan penggabungan (Regrouping) beberapa sekolah dasar (SD) di Banjarmasin pada saat memasuki awal tahun ajaran 2019/2020 mendatang, karena dianggap tidak memenuhi kouta pada pelaksanaan penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun 2019.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin, Drs H Totok Agus Daryanto mengatakan ada rencana dari dinas untuk menggabungkan beberapa SD yang minim peminat saat PPDB berlangsung dengan syarat sudah mengalami kekurangan siswa minimal tiga tahun berturut-turut.
“Kalau baru tahun ini saja yang mengalami maka tidak akan dilakukan penggabungan, namun kalau sudah tiga tahun berturut turut ini minim siswa maka akan dilakukan penggabungan nantinya atau yang sering disebut regrouping,” ujar Totok kepada awak media, Selasa (25/06/2019).
Mantan Kadis Pariwisata HSU ini menyebut sedikitnya 207 SD yang terdapat di Banjarmasin, ada sekitar 34 SD yang mengalami kekurangan siswa pada saat PPDB, namun Totok tidak menyebutkan secara detail SD mana saja yang mengalami kekurangan siswa pada saat PPDB tahun 2019.
Totok hanya membeberkan beberapa contoh seperti SDN Basirih 10, SDN Melayu 5 dan SDN Kelayan Timur, “Ini merupakan contoh sekolah yang masih kekurangan siswa pada saat proses PPDB tahun 2019 ini berlangsung,” katanya.
Meski demikian, Totok mengungkapkan masih ada sedikit harapan agar kouta PPDB SD dapat terpenuhi, mengingat berdasar analisa dari Dinas Pendidikan sendiri, Ia berasumsi tak sedikit orang tua siswa yang mendaftarkan anaknya saat tahun ajaran dimulai.
“Oleh karena itu kita tunggu awal tahun ajaran nanti saja, kalau memang tetap kurang maka akan kita lakukan penggabungan pada sekolah yang mengalami kekurangan siswa secara tiga tahun berturut turut,” ucap Totok.
Ia menambahkan kouta peneriman siswa SD di Banjarmasin mencapai 9.000 siswa, namun sampai saat ini fakta lapangan berdasarkan dapodik.
“Di Banjarmasin hanya sekitar 5636 siswa saja yang baru mendaftar SD, Artinya ini ada penurunan, kalau menurut analisa saya ini akibat pengaruh pada program KB yang berhasil mengendalikan pertumbuhan penduduk,” beber Totok.
Kemudian ia melanjutkan faktor lainnya yang menyebabkan kouta SD di Banjarmasin masih kurang adalah kecenderungan orang tua di Banjarmasin memasukkan anaknya sedari usia SD ke sekolah berbasis agama.
“Terlepas dari agama Islam atau non, masing-masing analisa ini dibuktikan dengan pihak sekolah berbasis agama setiap tahunnya tidak pernah kekurangan siswa,” demikian Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin, Drs H Totok Agus Daryanto Totok.
Walikota H Ibnu Sina mengaku menerima laporan SD yang kekurangan murid dan akan dilakukan penggapan. Hal ini merupakan efisiensi dan hasilnya diharapkan sangat baik dalam mendukung rencana penggabungan.(SU)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















