SuarIndonesia – Masyarakat petani daerah tapin kaum milenial yang tergabung dalam Forum Komunikasi Petani Muda Tapin keluhkan soal biaya usaha tani yang semakin tinggi, kurangnya ketersediaan Alsintan modern, kesulitan menjual produk usai panen dan lainnya.
“Saya menilai sebenarnya ini adalah masalah klasik, yang tidak kunjung selesai, dan seharusnya Pemerintah Daerah dan Provinsi lebih banyak merangkul untuk berkomunikasi dengan para petani sehingga program lebih tepat sasaran,” ucap Anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Selatan (Kalsel) Wahyudi Rahman, saat reses, senin (16/5/2022)
Menurut Wahyudi Rahman, padahal, sebagian besar penduduk Tapin menggantungkan hidupnya di bidang pertanian.
Dirinya meminta agar pemegang kebijakan jangan terlalu memaksakan program yang diadopsi daerah lain tanpa memperhatikan kearifan lokal.
“Akibatnya produk tidak laku dan petani tidak tahu harus menjual kemana. Kemudian produk pertanian lokal juga harus di dorong,” ujarnya
Permasalahan ini menurutnya akan menjadi bahan dalam rapat koordinasi di DPRD Kalsel ke depannya. Kemudian ia juga akan meminta relasinya di daerah mendorong dan melanjutkan permasalah ini di tingkat Kabupaten.
“Mengingat ini mandat dari rakyat dan untuk kepentingan masyarakat, kami akan secepatnya membawa ke DPRD Tapin,” tutupnya. (*/HM)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















