SuarIndonesia – Menutup masa reses dengan membawa ‘daftar panjang’ keluhan dari masyarakat.
Wakil Ketua DPRD Kalsel, H. Kartoyo, SM, mengungkapkan ada beberapa permasalahan besar berpotensi mengancam keselamatan warganya di Desa Sungai Paring, Hulu Sungai Selatan (HSS).
Luapan air dari ujung Irigasi Amandit telah mengakibatkan sekitar 200 hektare lahan produktif milik warga di belakang RT 3 Desa Sungai Paring ‘tenggelam’ dan tak bisa lagi dimanfaatkan untuk berkebun maupun behuma selama empat tahun terakhir.
”Area seluas sekitar 200 hektare tersebut dulunya dapat digunakan warga untuk berkebun dan behuma, namun selama empat tahun terakhir tak lagi bisa dimanfaatkan akibat luapan air dari ujung Irigasi Amandit,” jelas Kartoyo, mengutip keluhan warga. Rabu (8/10/2025).
Menurut Kartoyo, masalah ini bukan sekadar genangan biasa, melainkan dampak sistem irigasi yang luapannya merusak mata pencaharian warga.
Lahan yang sebelumnya menjadi sumber pangan dan pendapatan kini terendam, menciptakan ‘bencana pelan’ bagi masyarakat setempat.
Melihat dampak yang meluas ini, Kartoyo menegaskan akan mengambil langkah konkret.
Ia berharap ada solusi mendesak dari pihak Balai Wilayah Sungai (BWS) dan meminta dukungan langsung dari Gubernur Kalsel untuk mengusahakan penanganan.
“Kami berharap ada solusi dari pihak Balai Wilayah Sungai (BWS), dan mudah-mudahan juga bisa diusahakan oleh Pak Gubernur,” ujarnya.
Kartoyo juga berkomitmen untuk mendesak Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan BWS demi mencari jalan keluar atas masalah genangan lahan ini.
Selain itu, urgensi perbaikan infrastruktur jalan yang sudah mendesak dan kondisi penerangan yang memprihatinkan.
Salah satu yang menjadi sorotan utama adalah perbaikan total ruas Jalan Provinsi Sungai Kupang – Singakarsa – Simpang Tiga Kompi beserta jembatan di jalur tersebut, yang dianggap sebagai akses vital antarwilayah.
Isu keselamatan menjadi alarm keras setelah Kepala Desa Sungai Paring melaporkan minimnya lampu jalan dan rambu-rambu lalu lintas di ruas jalan dari HSS menuju Margasari, yang telah berulang kali memicu kecelakaan.
“Kondisi tersebut kerap menimbulkan kecelakaan lalu lintas,” terang Kartoyo. (*/HM)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















