SuarIndonesia – Sebanyak 6000 anak atau siswa mulai dari jenjang SD (Sekolah Dasar) hingga SMA (Sekolah Menengah Atas) putus sekolah di Kota Banjarmasin.
Penyebabnya beragam, mulai dari anak yang tidak berkeinginan melanjutkan sekolah, persoalan kenakalan anak hingga dikembalikan kepada orang tua hingga anak yang menjadi tulang punggung keluarga.
Untuk jenis kelaminnya, sekitar 90 persen kebanyakan pria, sementara untuk jenis kelamin wanita sangat sedikit.
Persoalan anak putus sekolah ini semakin rumit karena Dinas Pendidikan hanya mengandalkan data dari Badan Statistik dan data Dapondik.
Kepala Bidang PAUD, Edi Junaidi mengatakan pendataan siswa putus sekolah di Kota Banjarmasin hanya berdasarkan data kasar, belum berdasarkan By Name By Address.
Hal ini menyulitkan dalam upaya pendataan, pendampingan, pencegahan hingga motivasi anak kembali bersekolah.
“Untuk data kami seperti meraba-raba, tidak pernah tahu mana anak yang putus sekolah mana yang tidak” tutur Edi Junaidi.
Dinas Pendidikan pun mengandeng sekitar 500 operator sekolah untuk melakukan pendataan ulang anak yang putus sekolah.
Edi Junaidi menyebutkan untuk mengatasi anak putus sekolah, Dinas Pendidikan mengarahkan kepada Kelompok Belajar (Kejar) baik paket A, B atau C atau untuk negeri disebut dengan SKB (Sanggar Kegiatan Belajar)
Hal ini untuk membantu anak yang putus sekolah akibat faktor ekonomi, karena biaya sekolah yang gratis.
Untuk anak setingkat SD hingga SMA, Dinas Pendidikan juga memberikan bantuan berupa tas dan peralatan sekolah berupa buku dan alat tulis.
Selain itu, proses belajar mengajar tidak menggunakan seragam.”Untuk belajar mereka ini bebas, boleh tidak pakai seragam, sepatu dan lainnya, tujuannya agar biaya sekolah semakin murah tanpa perlu seragam dan hal lainnya” kata Edi Junaidi.
Sementara, Walikota Banjarmasin, Ibnu Sina mengatakan anak putus sekolah harus ditangani dengan baik. Apalagi dalam visi dan misi Banjarmasin Baiman terdapat Nyaman Bersekolah.
“Jangan sampai lost learning dengan anak putus sekolah berdampak pada lost generation (generasi yang hilang) di masa mendatang” tutup Ibnu Sina. (*/SU)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















