WASPADA KLB Campak, IDAI Serukan Imunisasi dan Tindakan Pencegahan

- Penulis

Selasa, 10 Maret 2026 - 22:43 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pelaksanaan imunisasi campak di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. (Antara/Rizal Hanafi)

Pelaksanaan imunisasi campak di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. (Antara/Rizal Hanafi)

SuarIndonesia — Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan peringatan terkait telah terjadi peningkatan kasus campak yang signifikan hingga minggu ke-7 tahun 2026, yakni tercatat 8.224 kasus suspek, 572 kasus terkonfirmasi, dan 4 kematian.

Sementara pada tahun 2025, terdapat 63.769 kasus suspek campak dengan 11.094 kasus terkonfirmasi dan 69 kematian. IDAI menyerukan kepada seluruh orangtua, tenaga kesehatan, dan pemerintah untuk bergerak bersama dalam upaya kejar imunisasi.

“Kita harus bertindak cepat untuk melindungi anak-anak Indonesia. Imunisasi adalah hak dasar anak dan kewajiban kita untuk memastikan setiap anak terlindungi.” ujar Ketua Pengurus Pusat IDAI, DR Dr Piprim Basarah Yanuarso SpA Subsp Kardio(K), melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa (10/3/2026).

Piprim menegaskan bahwa situasi darurat ini memerlukan langkah luar biasa dari seluruh pemangku kepentingan. Secara global, Indonesia menempati urutan kedua kasus campak tertinggi di dunia dengan 10.744 kasus, di bawah Yaman dan di atas India berdasarkan data WHO yang dirilis CDC per Februari 2026.

IDAI merekomendasikan enam langkah strategis yang menekankan tiga titik fokus untuk mengatasi masalah campak. Pertama, kejar imunisasi campak rubela bagi anak berusia 9 bulan hingga kurang dari 15 tahun yang belum imunisasi.

Kedua, tingkatkan surveilans penyakit campak dan rubella. Cakupan imunisasi campak rubella dosis kedua (MR2) saat ini hanya mencapai 82,3 persen pada tahun 2024, jauh di bawah target nasional 95 persen, sehingga kekebalan kelompok (herd immunity) belum terbentuk optimal. Ketiga, perkuat kapasitas laboratorium diagnostik campak dan rubella.

Ketua Satgas Imunisasi IDAI, Prof Dr dr Hartono Gunardi, SpA(K) menjelaskan pentingnya upaya mengejar ketertinggalan imunisasi pascapandemi.

“Pandemi COVID-19 telah menyebabkan disrupti layanan imunisasi rutin yang sangat signifikan. Banyak anak yang melewatkan jadwal imunisasinya, dan ini menciptakan kantong-kantong kerentanan di berbagai daerah. Yang perlu dipahami bahwa imunisasi campak rubella aman dan efektif. Isu-isu tentang keamanan vaksin yang beredar di masyarakat tidak berdasar secara ilmiah.” imbuhnya.

Hartono mengatakan, vaksin MR yang digunakan di Indonesia telah melalui proses evaluasi ketat dan mendapatkan izin edar dari BPOM.

Ia mengajak masyarakat untuk tidak ragu membawa anak untuk imunisasi. Selain imunisasi lengkap, IDAI juga menekankan pentingnya tata laksana dan pengendalian infeksi.

“Dalam menangani campak, tata laksana bersifat suportif dan simptomatik karena belum ada antivirus spesifik. Namun ada satu intervensi yang sangat penting dan terbukti menurunkan angka kematian hingga 50 persen, yaitu pemberian vitamin A sesuai rekomendasi WHO.” kata Hartono Gunardi, melansir dari Antaranews.com.

Selain itu, isolasi pasien sangat penting untuk mencegah penularan. Pasien campak menularkan virus sejak empat hari sebelum hingga empat hari setelah ruam muncul. Di rumah sakit, pasien harus dirawat di ruang isolasi airborne dengan ventilasi baik, dan petugas kesehatan harus menggunakan alat pelindung diri yang sesuai.

Imunisasi sangat penting, karena menurut IDAI, campak dapat menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia, ensefalitis, bahkan kematian.

IDAI juga menginstruksikan seluruh dokter anak untuk meningkatkan surveilans Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) terutama campak dan rubella dengan melaporkan setiap kasus ke dinas kesehatan setempat melalui sistem measles-case based surveillance (surveilans campak berbasis kasus), pendekatan sistematis untuk memantau campak dengan mencatat, menginvestigasi, dan mengambil sampel laboratorium pada setiap kasus individu yang diduga (suspek) campak.

“Kematian akibat campak adalah kematian yang seharusnya tidak terjadi. Kita memiliki alat pencegahan yang aman, efektif, dan tersedia gratis di fasilitas kesehatan,” kata dr Piprim.

Aspek komunikasi dan edukasi masyarakat menjadi pilar penting dalam rekomendasi ini. IDAI mendorong seluruh tenaga kesehatan baik dokter umum maupun dokter spesialis anak yang telah mengikuti pelatihan Immunization champion untuk aktif memberikan edukasi tentang bahaya campak dan komplikasinya yang dapat berakibat fatal, baik melalui praktik sehari-hari maupun media sosial.

“Kematian akibat campak adalah kematian yang seharusnya tidak terjadi. Kita memiliki alat pencegahan yang aman, efektif, dan tersedia gratis di fasilitas kesehatan. Pemerintah telah menyediakan vaksin, tenaga kesehatan siap melayani, sekarang tinggal kesadaran dan kepedulian kita bersama sebagai bangsa. Mari lindungi anak-anak Indonesia dari campak. Jangan tunda imunisasi, jangan abaikan gejala, dan jangan ragu untuk segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika ada tanda-tanda penyakit.” kata Piprim. (*/ut)

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

ICT: Mekanisme Akumulasi Kuota Internet Harus Dibuat Sederhana
FIRMAN YUSI Bantu Operasional Tiga UPBS di Tabalong dan Bagikan Masker
SOSPER Penyelenggaraan Kesehatan, Begini Himbauan Ketua Dewan Kalsel
KEGIATAN Sosial Kemanusiaan Kejati Kalsel Donor Darah
AKSI Tanggap Lingkungan Dipimpin Kapolsek Banjarmasin Selatan
LANJUT BAHAS Ranperda Penyelenggaraan Kesehatan
KABUT ASAP di Kalsel Rentan Meningkat Penyakit ISPA, Polisi Bagikan Masker
WASPADAI Risiko ISPA Selama Musim Kemarau

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 22:31

1.000 BOUGENVILLE Lindungi Ekologis Kota Banjarmasin

Jumat, 4 September 2026 - 22:12

RAKOR KARHUTLA, Polda Kalsel Kenalkan Inovasi Cairan Pemadam dan Kolam Portable untuk Lahan Gambut

Jumat, 4 September 2026 - 20:16

WARGA Sambut Antusias Hujan di Sebagian Wilayah Pontianak

Jumat, 4 September 2026 - 20:06

KARHUTLA Kalsel Capai 12.339 Hektare

Jumat, 4 September 2026 - 19:55

BANJIR Nepal-China: Korban Tewas Bertambah 1.280 Orang, 5.260 Masih Hilang

Jumat, 4 September 2026 - 00:54

PERKUAT SINERGI Media Lewat Media Gathering, Begini Penekanan Direktur Operasional Bank Kalsel

Jumat, 4 September 2026 - 00:41

DUGAAN SUAP Pajak PT Adaro di KPP Madya Banjarmasin

Jumat, 4 September 2026 - 00:32

KENDALA Penanganan Karhutla di Batola Digali Pasis Sesko TNI

Berita Terbaru

Uji coba cairan Shabodama inovasi UPR untuk tangani karhutla Kalteng. (Foto: HO-Polda Kalteng)

Kalteng

BUSA SABUN Jadi Senjata Lawan Karhutla

Jumat, 4 Sep 2026 - 22:08

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca