Suarindonesia – Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Sultan Adam DR H Abdul Halim Shahab SH, MH yang menggantikan H Nanang Hermansyah bertekad membawa STIHSA terdepan dan menjadi kampus hukum terbaik di Kalsel.
Tekad tersebut ditegaskan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Sultan Adam DR H Abdul Halim Shabab SH, MH, setelah dilantik oleh H Riduan Syahrani selaku ketua yayasan, yang disaksikan tamu undangan, di Kampus STIHSA Jalan Sultan Adam Banjarmasin, Selasa (20/08/2019).
Bahkan Halim yang berlatar belakang Pengacara Kondang ini mengaku mendapatkan amanah sebagai Ketua STIHSA ini tak pernah dibayangkan. “Mimpi pun tidak hanya karena model bekerja dengan tulus, ikhlas, ulet, dan rajin menjadi motto saya, akhirnya mampu mengantarkan di dunia pendidikan,’’ ucap Halim Shahab.
Halim yang berlatar belakang advokat setelah dilantik sebagai Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Sultan Adam tak pernah akan meninggalkan dunia yang digelutinya. Malah, melalui amanah yang diberikan akan berjuang dan mendidikannya serta menduplikasi keberhasilannya ke anak didik maupun mahasiswa ke depannya.
“Saya akan melahirkan banyak pengacara yang jujur dan benar-benar membela keadilan. Karena sebagai ketua di perguruan tinggai tentu saja tak harus mampu menjadi pendidik sekaligus bapaknya orang banyak,’’ ucap Halim.

Karena itulah, ujarnya, dalam jangka waktu dekat pihaknya akan mengandeng banyak pihak termasuk membuka pengobatan gratis bagi warga Sultan Adam selama sehari setiap bulan dan membuka klinik konsultasi hukum gratis serta melakukan banyak penelitian dan kegiatan ilmiah lainnya yang membantu warga bersama mahasiswa hukum tentunya.
Dari catatan yang pernah dilalui Halim Shahab di antaranya melakoni beberapa pekerjaan selama masih berstatus pelajar hingga mahasiswa S1. Pekerjaan itu dilakukan untuk membiayai kuliah dan menghidupi diri dan keluarganya.
Siapa yang menduga, pekerjaan di masa lalu yang pernah ditekuninya adalah sebagai penarik becak.


Profesi itu dijalaninya selama 2,5 tahun menuntut ilmu di Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat (ULM, sebelumnya disingkat Unlam), yakni di kampus Unit Satu yang sekarang menjadi bangunan Bank Mandiri.
Sebab, Halim berpikir, menarik becak tidak memerlukan modal. Dengan kata lain, hanya mengandalkan kemampuan dan tenaga.
Halim sebelumnya menjadi tukang ojek dengan menggunakan sepeda motor milik istrinya, yaitu sepeda motor jenis bebek. Saat itu, istri Halim juga masih kuliah di Fakultas Hukum ULM.
“Sebelumnya, saya menjadi tukang ojek. Itu pun motor milik istri. Kemudian oleh sekumpulan penarik becak, saya disarankan untuk menarik becak saja karena tidak memerlukan biaya, melainkan hanya tenaga,” tutur Halim Shahab.
Kesuksesan Halim Shahah juga terlihat sejak masuk halaman Perguruan Tinggi yang diketuainya banyak hiasan karangan bunga yang dikirimnya sebagai ucapan, di antaranya juga Gubernur Kalsel H Sahbirin Noor, Jajaran Kopolisian, Kejaksaan, para Pengacara dan Hakim Pengadilan, Bupati, Politisi hingga kalangan pengusaha.
Pengalaman yang membekas di antaranya ketika sedang menarik becak malam hari membawa dipan (ranjang). Halim berpapasan dengan polisi yang sedang berpatroli. Kemudian becaknya ditendang. Pada waktu itu Halim mendengar ucapan beberapa polisi yang menyebut, “363” (pasal 363 KUHP- pencurian dengan pemberatan).
Pada waktu itu Halim hanya tersenyum dan menjelaskan bahwa ranjang itu bukan barang curian. Pada akhirnya petugas itu paham dan Halim melanjutkan pekerjaannya hingga pukul 00.00 WITA atau 12 malam.
Selain pengalaman pahit, tentu ada pula hal-hal manis yang dirasakan. Misalnya, Halim pernah menjadi saksi kisah percintaan seorang polisi. Saat itu, Halim dengan becaknya mengantarkan sang polisi dari bioskop ke rumah sang kekasih, yang kini menjadi istrinya.
Lebih menarik lagi, Halim pernah mengantarkan teman satu SMA-nya dan teman kuliahnya dengan becaknya.
Kenangan lainnya adalah bersama anak tertuanya, Saskia Justicia. Saskia, yang saat itu masih berusia 1 tahun, kerap dibawa Halim dalam becaknya ketika menjemput istri.
Nadan Saskia diikat Halim dengan sarung agar tidak terjatuh ketika berada di dalam becak.
Memori tersebut kini terukir di hati Halim sekeluarga. Masa-masa itu terus diingat dan dijadikan renungan serta motivasi. Bahwa segala sesuatu harus diperoleh melalui perjuangan keras, kesabaran, dan keuletan.
Kini, Abdul Halim Shabab dan keluarganya telah memetik buah dari kegigihan itu. Salah satunya keberhasilan Halim mengantarkan putrinya menjadi seorang dokter dan kini termasuk tim medis jemaah haji Kabupaten Banjar. (Tulisan yang akan datang akan menulis kiprah Halim yang memulai karir sebagai advokat).(SU)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















