Sampah Plastik Ancam Ekologi Laut, 80 Persen dari Daratan

Sampah Plastik Ancam Ekologi Laut, 80 Persen dari Daratan

Suarindonesia- Menteri Kordinator Kemaritiman Republik Indonesia Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan 80 persen sampah plastik di laut pada umumnya berasal dari darat. Karena itulah, menjadi kekhwatiran bersama karena sampah plastik mengancam ekologi kelautan.

Dari catatan Kementerian Kordinator Kemaritiman Republik Indonesia, 38 Juta ton sampah setiap tahunnya tercatat 80% sampah jenis plastik berasal dari darat dan 30% dari sampah yang berasal dari darat tersebut bocor ke laut.

“Biasanya sampah plastik, tak mudah terurai yang kita khawatirkan kalau dimakan ikan, sehingga akan terkontaminasi biota perairan. Karena mikroplastik dapat menyerap dan melepaskan bahan kimia yang beracun dan berbahaya, di mana konsumen akhirnya adalah manusia,” ujar Luhut pada dalam rangka rapat kordinasi bersama Pemerintah Kota Banjarmasin untuk membahas penanganan sampah padat di kawasan regional perkotaan dan destinasi pariwisata, di Kota Calamus Hottel Rattan In Rabu (31/10).

Di hadapan Walikota H Ibnu Sina dan SKPD di lingkungan Pemko Banjarmasin, Politisi Partai Golkar ini juga mengatakan, jika sudah demikian, akan sangat bahaya. Jika ikan yang makan, kemudian dikonsumsi manusia, karena tak bisa diurai yang berpotensi penyakit stunting atau tumbuh pendek. “Kita ngak mau terjadi hal ini karena itulah sampah plastik menjadi musuh bersama,’’ katanya.

Karena itu, Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengapresiasi Pemko Banjarmasin yang turut mendukung dalam mensosialisasikan kepada warganya guna mengurangi sampah plastik yang menjadi musuh bersama.

“Makanya perlunya sosialisasi pemerintah ke masyarakat demi menjaga generasi selanjutnya agar tidak terkontaminasi. Kita harus lakukan bersama-sama, supaya masyarakat kita sadar tak membuang sampah plastik disungai atau mengalir sampai laut,” kata Luhut.

Menteri yang akrab disapa LHP ini, mengaku meminta kepala daerah di Indonesia berupaya menangani sampah yang baik dan tepat. Misalnya, dengan mengumpulkan, memilah hingga mendaur ulang.

Karena, menurut Luhut, limbah sampah bisa dimanfaatkan untuk campuran aspal dan menjadi energi listrik yang dialirkan ke rumah-rumah atau pabrik. “Banyak yang bisa dilakukan, di samping mengurangi sampah,” ucapnya.

Malah, untuk menangani permasalahan tersebut, Luhut ingin mengganti kantong plastik dengan bahan baku alami seperti menggunakan bahan singkong, rumput laut, dan minyak kelapa. Dengan begitu, diharapkan plastik dengan mudah bisa terurai.

Sedangkan Walikota Banjarmasin, H Ibnu Sina menyebutkan Banjarmasin sebagai kota pioner di Kalimantan Selatan dalam penerapan larangan pemakaian kantong plastik pada retail modern sudah berjalan sejak 2016 lalu.

“Kami sudah menerapkan larangan penggunaan sampah berdasar Perwali No 18 tahun 2016 dan ini sebagai pencegahan pengurangan atas kouta sampah yang semakin bertambah baik di lokal maupun nasional,” ucap Ibnu Sina.

Sementara Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin, Drs H Muchyar menyampaikan siap mendukung pengurangan sampah terutama di regional Kota Banjarmasin, untuk menjadikan Kota Banjarmasin sebagai percontohan kota bebas sampah.

“Kita sudah lakukan pengurangan 1 ton sampah per harinya untuk kota Banjarmasin. Semoga ke depan semakin berkurang dan Banjarmasin bisa menjadi percontohan kota bebas sampah se Indonesia,” ungkap Muchyar.

Selain melakukan rapat kordinasi, Menteri Luhut juga meninjau retail retail modern di KOta Banjarmasin seperti Giant Express yang terletak di Jalan A Yani KM 5, Banjarmasin Timur sekaligus memantau dan memastikan larangan kantong plastik apakah diberlakukan, kemudian dilanjutkan meninjau TPS 3 R di Komplek Aldi Citra Persada di Mantuil.(SU)

 198 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: