PRESIDEN JOKOWI: BPOM Tak Ribet soal Aturan Izin Edar Obat dan Vaksin di RI

- Penulis

Selasa, 20 Agustus 2024 - 22:42

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala BPOM Taruna Ikrar. (Okezone/Fadli Ramadan)

Kepala BPOM Taruna Ikrar. (Okezone/Fadli Ramadan)

SuarIndonesia — Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) meminta agar Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) tidak terlalu rigid soal penerbitan izin edar obat maupun vaksin di Indonesia.

Permintaan itu disampaikan Jokowi usai memanggil Kepala BPOM yang baru Taruna Ikrar di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (20/8/2024).

Taruna baru saja dilantik Jokowi menggantikan Kepala BPOM sebelumnya, Lucia Rizka Andalusia, pada Senin (19/8/2024).

“Beliau [Jokowi] mengatakan bahwa kadang juga ada obat dalam negeri sangat lama untuk disahkan,” kata Taruna menjelaskan pertemuannya dengan Jokowi kepada wartawan di Istana Kepresidenan Jakarta.

Taruna menyebut Jokowi dalam hal ini menganggap inovasi obat dan vaksin harus didukung guna mewujudkan kemandirian farmasi dalam negeri.

“Jadi beliau menginstruksikan untuk guidance percepatan yang disebut dengan clinical trial, obat-obat yang seharusnya cepat kenapa harus lambat disahkan,” imbuhnya.

Selain itu, Jokowi menurutnya juga meminta agar BPOM terus berinovasi menciptakan obat yang mirip dengan beberapa obat yang selama ini impor dari Jepang hingga Jerman.

Baca Juga :   5 FAKTA Gubernur Kalsel Kabur Usai tak Terjaring OTT KPK

Sebab menurutnya, beberapa obat penting dari negara-negara maju itu terdampar di negara tetangga, sehingga warga Indonesia yang membutuhkan obat itu harus membeli ke luar negeri.

“Jadi saya melihat mungkin ada hubungannya dengan mafia obat internasional, hubungannya dengan bisnis pelayanan kesehatan internasional. Kita tidak menuduh negara lain tetapi nampaknya seperti itu,” jelas Taruna mengutip CNNIndonesia.

Oleh sebab itu, BPOM menurutnya harus lebih aktif bekerja sama lintas kementerian/lembaga dalam capaian kerjanya. BPOM perlu bekerja sama dengab Kementerian Kesehatan terkait kontrol harga obat yang mahal di Indonesia.

BPOM pun menurut Taruna perlu bekerja sama dengan BKKBN dan BPJS Kesehatan.

“Tentu bisa saja dengan Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan. Kalau bicara obat masuk ke Indonesia, Keimigrasian,” ujarnya. [*/UT]

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

KALSEL BERDUKA, Tokoh Ulama KH Husin Naparin Wafat di Usia 78 Tahun
DISEJUTUI Pembentukan CDOB Kabupaten Tanah Kambatang Lima, Penyangga IKN
PEMDA Diminta tidak Lengah Meski Inflasi Terkendali
KETUA KPRP: Pengangkatan Kapolri Tetap Lewat Persetujuan DPR
PRESIDEN Putuskan Pembatasan Jabatan Polri di Luar Institusi
PEMERINTAH Kaji CNG sebagai Pengganti LPG 3 Kg
PANGDAM XXII/Tambun Bungai Berkolaborasi “Gerak Bersama” di Banjarmasin
GO NASIONAL Sasirangan Todak Persit Kartika Chandra Kirana PD XXII/Tambun Bungai

Berita Terkait

Rabu, 6 Mei 2026 - 13:15

KALSEL BERDUKA, Tokoh Ulama KH Husin Naparin Wafat di Usia 78 Tahun

Selasa, 5 Mei 2026 - 22:45

DISEJUTUI Pembentukan CDOB Kabupaten Tanah Kambatang Lima, Penyangga IKN

Selasa, 5 Mei 2026 - 22:21

DPRD KALSEL Beri Rekomendasi LKPj 2025 dan Restui Pemekaran

Selasa, 5 Mei 2026 - 22:05

NYARIS TAWURAN, Polisi Amankan Delapan Remaja dan Sejumlah Sajam

Selasa, 5 Mei 2026 - 21:31

KETUA KPRP: Pengangkatan Kapolri Tetap Lewat Persetujuan DPR

Selasa, 5 Mei 2026 - 21:21

PRESIDEN Putuskan Pembatasan Jabatan Polri di Luar Institusi

Selasa, 5 Mei 2026 - 15:10

PANGDAM XXII/Tambun Bungai Berkolaborasi “Gerak Bersama” di Banjarmasin

Selasa, 5 Mei 2026 - 00:52

MENURUN Kunjungan Wisata Geopark Meratus, Ini Penyebabnya

Berita Terbaru

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca