PENGAMAT Menilai, Pembangunan Jembatan Apung Proyek Terkesan Dipaksakan

SuarIndonesia – Pembangunan jembatan penghubung antara Siring Sungai Baru dengan Siring Piere Tendean oleh Pemerintah Kota (Pemko) melalui bidang sungai Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Banjarmasin dipastikan terus berlanjut.

Namun, proyek itu ternyata dijalankan tanpa ada ekspos dan paparan dari Dinas PUPR Kota Banjarmasin kepada Komisi III DPRD Banjarmasin.

Anggota DPRD Kota Banjarmasin Afrizaldi pun langsung menyoroti adanya proyek pembangunan jembatan apung tersebut.

Wakil Ketua Komisi III itu menilai pembangunan itu bukan sesuatu hal urgen untuk masyarakat jika dibandingkan dengan tugas utama Bidang Sungai di Dinas PUPR dalam penanganan masalah sungai di Banjarmasin.

“Bidang sungai ini harusnya fokus penanganan pada sungai yang tidak berfungsi dengan baik, misalkan perbaikan pendangkalan dan penyempitan sungai harusnya kesitu fokusnya, termasuk untuk menanggulangi banjir, bukan ikut-ikutan membangun itu,” ungkapnya saat dihubungi awak media belum lama tadi.

Bukan tanpa alasan, hal itu diutarakannya lantaran kinerja bidang sungai sendiri masih belum tuntas dalam melaksanakan tugas mereka.

“Mereka menangani kewajiban mereka saja masih belum beres, sekarang tiba-tiba bikin jembatan apung dengan kelayakan dan kajiannya belum tentu bermanfaat dan benar-benar urgen untuk dibangun, apalagi menelan anggaran sampai Rp4 miliar,” tegasnya.

Tidak sampai di situ, ia membeberkan pihaknya dari komisi tiga pun belum pernah mengetahui detail terkait proyek miliaran rupiah tersebut. “Sampai sekarang kami komisi tiga belum pernah disuguhkan terkait kegiatan ini, baik dari segi ekspose dan lain-lain belum tahu,” ujarnya.

Karena itu pihaknya akan menyurati Dinas PUPR khususnya bidang sungai untuk memanggil dan mengkonfirmasi soal pelaksanaan proyek jembatan apung yang membentang di bawah Jembatan Dewi tersebut.

PENGAMAT Menilai, Pembangunan Jembatan Apung Proyek Terkesan Dipaksakan-2

“Kita akan pertanyakan kinerja mereka, yang masih belum beres, tiba tiba bangun jembatan itu,” pungkasnya.

Selain dari Komisi III, pembangunan jembatan apung yang menelan anggaran hampir Rp4,5 itu juga mendapat kritik dari pengamat tata kota Banjarmasin, Hamdi.

Menurutnya, anggaran daerah yang dikucurkan untuk pembangunan jembatan penghubung Siring Piere Tendean dengan Siring Sungai Baru itu dinilai cukup fantastis untuk membangun jembatan penghubung berbahan plastik silinder apung dengan panjang 40 meter dan lebar 2 meter tersebut.

“Tentu belum terlalu mendesak, dari pembangunan jembatan ini prioritas nya di bawah, dibandingkan kebutuhan pembenahan drainase dan sungai-sungai kita yang masih banyak evaluasi,” ungkapnya melalui sambungan telepon, Sabtu (16/07/2022).

Bahkan dirinya tak menampik bahwa proyek pembangunan jembatan apung terkesan dipaksakan. “Iya betul sekali,” tukasnya.

Di sisi lain dirinya juga menyayangkan DPRD Kota Banjarmasin justru tidak mengetahui adanya proyek pembangunan jembatan apung dengan anggaran besar tersebut.

Baca Juga :

MULAI 27 Juli, Akses Jembatan Sulawesi 2 Ditutup

“Bagi saya aneh kalau dewan tidak mengetahui, bukankah pada saat pengajuan APBD biasa nya sudah muncul, atau mungkin karena banyaknya usulan kegiatan sehingga tidak tercermati,” pungkasnya.

Di sisi lain, Hamdi pun juga menyoroti kinerja Pemko Banjarmasin khususnya bidang sungai PUPR yang justru belum efektif dalam mengatasi problematika sungai.

“Di Tempat kita ini cenderung dibangun siring beton kiri dan kanan termasuk sungai di pinggiran kota. Jadinya bukan lagi sungai tapi seperti parit sehingga tidak natural,” tegasnya.

Selain itu mantan Kadis DLH Kota Banjarmasin itu menyebut Pemerintah Kota Banjarmasin seharusnya belajar membuat sungai ini hidup secara alami dan mengefisiensikan anggaran untuk hal yang lebih penting.

“Berkaca di Eropa siring-siring beton dihancurkan dan dibuat alami, di tempat kita bisa penanaman pohon ditepi sungai disitu bisa terjadi pemijahan anak ikan sehingga ikan berkembang biak dan itu anggarannya sedikit, kalau kita malah sebaliknya,” tandasnya.

Sebelumnya, Dinas PUPR khususnya bidang sungai bersama pihak kontraktor dan konsultan telah melakukan pengukuran awal ke lokasi pembangunan, pada Selasa (12/07/2022) lalu.

“Sebenarnya Ini masuk dalam program revitalisasi dan penataan bantaran sungai yang dimulai tahun 2008 yang sempat terhenti,” kata Solikin, Sub Koordinator Teknik Pengairan Muda Bidang Sungai Dinas PUPR Banjarmasin, Kamis (14/07).

Pembangunan siring di pinggiran sungai itu sebenarnya dibangun secara bersambung dari siring RK Ilir hingga Pasar Lama, namun karena struktur bawah jembatan yang berbeda-beda sehingga membuat pihaknya membuat jalur penghubung.

“Kalau di jembatan Merdeka itu jaraknya di bawah jembatan bisa disambung dengan titian ulin dan cukup untuk pejalan kaki, tapi jembatan Dewi tidak bisa, karena struktur bawah jembatan sangat rendah, jadi pengguna tidak bisa jalan kalau pakai ulin,” jelasnya.

Ia menilai, bahwa dengan dibangunnya jembatan penghubung berkonsep apung tersebut bisa mempermudah masyarakat untuk menyeberang dari Siring Piere Tendean ke Siring Sungai Baru ataupun sebaliknya.

Kemudian, Jembatan apung itu juga akan menambah daya tarik pengunjung wisata di area sekitar. (SU)

 127 kali dilihat,  3 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!