SuarIndonesia – Nyai Balau, Panglima Dayak wanita sakti, merupakan pahlawan dari Kalimantan Tengah (Kalteng). Nama itu disematkan karena Nyai Balau memiliki rambut hitam legam yang terurai indah hingga ke pinggangnya
Perempuan itu berasal dari Tewah, sebuah wilayah di Kabupaten Gunung Mas yang dikelilingi sungai dan rimba hijau.
Namanya dikenal hingga kini bukan hanya karena kesaktiannya, tetapi juga karena keberanian dan kebijaksanaannya dalam memperjuangkan keadilan.
Pahlawan-pahlawan wanita yang membuat bangga dan bahwa perempuan juga bisa berjuang bersama pahlawan laki-laki.
Diceritakan, yang disadur dari buku Nyai Balau: Cerita Rakyat dari Kalimantan Tengah (2016) karya Tjak Basori, inilah kisah Nyai Balau, wanita sakti dari Tengah Kalimantan.
Nyai Balau seorang yang baik, sopan dalam bertutur kata serta santun perilakunya. Ia juga penurut serta taat kepada orang tuanya. Dia mempuyai seorang anak yang paling dia sayanginya yang sudah di kayau (dipenggal kepalanya) oleh Antang dari Juking Sopang.
Setelah tujuh hari tujuh malam lamanya ia bertapa untuk memohon petunjuk kepada Tuhan Penguasa Alam. Nyai Balau bertemu seorang nenek yang bilang kalau anaknya sudah meninggal dunia.
Nenek itu kemudian menurunkan kesaktian Kepada Nyai Balau serta memberikan sebuah selendang sakti sebagai senjata pamungkas.
Setelah sampai di rumah ia mengajak suami serta semua keluarga dan sejumlah prajuritnya menuju Juking Sopang untuk menuntut balas atas kematian putranya.
Setibanya di Juking Sopang, Nyai Balau meminta Antang mengakui kesalahannya serta meminta maaf.
Antang seorang yang angkuh itu tidak mau mengakui kesalahannya. Bahkan malah menyerang Nyai Balau.
Seranggannya bisa dihindari dengan mudah oleh Nyai Balau. Begitu Antang lengah Nyai Balau yang sakti itu segera melemparkan selendangnya ke arah dada Antang, seketika itu antang yang sombong jatuh tersungkur ke tanah.
Setelah merobohkan Antang, Nyai Balau lalu mengajak mereka untuk untuk berdamai dan membahas ketentuan adat yang berlaku atas kejahatan pembunuhan.
Ia menolak untuk membayar denda adat tersebut. Dengan sebagian sisa tenaga yang dimiliki, ia berupa bangkit kemudian kembali menyerang Nyai Balau.
Pertarungan sengit kembali berlangsung. Nyai Balau yang telah muak menyaksikan kesombongan pemuda itu segera menyerang dengan selendang saktinya. Antang pun tewas di tangan Nyai Balau.
Lalu Nyai Balau bersama suami serta rombongannya pulang dengan perasaan lega. Sejak kejadian itu Nyai Balau dikenal sebagai wanita sakti yang tidak sombong dan baik hati.
Dalam beberapa versi cerita, Nyai Balau bahkan diangkat menjadi pangkalima, pemimpin perempuan yang dihormati di Tewah.
Cerita Nyai Balau mengandung pesan tentang keteguhan hati seorang ibu, keberanian perempuan, dan kearifan lokal masyarakat Dayak.
Nyai Balau menunjukkan bahwa perempuan pun bisa menjadi pemimpin, penegak keadilan, dan pembawa kedamaian.
Dalam budaya Dayak, nama “Nyai” tidak sembarang diberikan. Gelar itu diperoleh bukan karena garis keturunan, tetapi karena kebijaksanaan, kemampuan, dan keberanian seseorang dalam membela kebenaran.
Maka tak heran jika kisah Nyai Balau terus diajarkan dari generasi ke generasi, bahkan diangkat dalam berbagai pagelaran seni dan budaya di Kalimantan Tengah.
Itu dia cerita perjuangan Nyai Balau. Sosoknya bukan hanya legenda, tetapi simbol bahwa perempuan Dayak memiliki peran besar dalam menjaga kehormatan dan keseimbangan hidup di bumi Kalimantan. (MC/ZI)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















