Suarindonesia – Empat Serangkai dari Tanah Jawi, begitu lah sebutan untuk empat Murid Syekh Samman Al Madani, yakni Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, Syekh Abdussamad Al Palembangi, Syekh Abdul Wahab Bugis, dan Syekh Abdurrahman Al Masri yang hidup antara 1700-1800 Masehi.
Makam Syekh Abdussamad sekarang berada di tengah kebun karet milik orang Budha, dulu masih hutan. Syekh Abdussamad gugur sebagai syuhada saat berjuang melawan kerajaan Siam Budha Thailand yang ingin merebut tanah Melayu Kedah, Kelantan, dan Melayu Pattani yang sekarang menjadi bagian Kerajaan Thailand.
Syekh Abdussamad Al Palembangi wafat syahid ketika berjuang bersama tentara Melayu Kedah melawan Tentara Kerajaan Siam Budha Thailand. Atas permintaan Raja Thailand kepalanya dipenggal dan dibawa ke Bangkok ditempatkan di musium kerajaan, di mana hanya pembesar dan orang kenamaan yang bisa berkunjung.

Salah seorang ustadz kenamaan Malaysia, Ustadz Dato Fauze Hassan DH menceritakan, tidak hanya Pattani yang dijajah Kerajaan Siam, tapi juga sampai Kedah dan Kelantan. Syekh Abdussamad bersama tentara Melayu Kedah berhasil mengusir tentara Siam dari Kedah. Dari sana terus dihalau sampai Sungai Kampung Rambung di Kelantan.
Saat itu usia Syekh Abdussamad 80 tahun. Badannya tinggi besar dengan janggut tebal. Kemudian tentara Siam Budha bisa diusir lagi keluar Muara Sungai Kedah hingga ke Pattani.

Perjuangan terus dilakukan hingga masuk wilayah Pattani. Saat usia 88 tahun ketika pertempuran terjadi di daerah Haj Yai sekarang, tepatnya di Cenak di daerah Bantrip, Syekh Abdussamad gugur sebagai syahid. Raja Cholalongkon minta kepala Syekh Abdussamad dipenggal dan dibawa ke Bangkok, sedangkan tubuhnya dikubur di hutan, yang sekarang menjadi kebun karet milik orang Budha.
Menurut Ustadz Dato Fauze Hassan DH, kepala yang dibawa ke Bangkok dan ditempatkan di musium kerajaan ternyata mengundang keanehan, janggut dan darah yang ada di kepala Syekh Abdussamad masih segar. Namun hanya orang ternama yang boleh masuk musium.
Dua orang, kata ustadz, melihat kepala yang umurnya hampir 200 tahun itu. Syekh Abdussamad meninggal 1829. Kedua orang itu adalah, pertama orang Budhis seorang ahli sejarah saat jadi narasumber di Seminar Kemerdekaan Malaysia menceritakan pejuang kemerdekaan negara itu, termasuk Syekh Abdussamad yang dia katakan, “Ajaib,” berulang kali karena pernah melihat kepala Syekh Abdussamad yang darahnya masih segar.

Orang kedua yang bercerita kepada Ustadz Dato Fauze Hassan adalah Perdana Menteri Malaysia Dr Mahathir Mohammad. Saat mengunjungi Dr Maharhir, ustadz menanyakan apa pernah mengunjugi musium kerajaan Siam di Bangkok dan pernah melihat kepala namun ada darahnya? Dr Mahathir mengatakan pernah melihat itu, dan dia juga berkata,9 “Ajaib-ajaib,” serta menanyakan siapa nama orang itu.
Kata Ustadz Dato Fauze, itulah yang bernama Syekh Abdussamad Al-Palembangi. Ustadz melanjutkan pernah ceramah di Palembang, saat ceramah tiba-tiba orang tinggi besar berdiri di hadapannya dan menceritakan dirinya merupakan zuriat Syekh Abddussamad pernah meminta kepala leluhurnya kepada pihak Kerajaan Siam melalui konsulat jenderal, namun tidak diberikan.
Kisah lain yang memperkuat keberadaan makam Syekh Abdussamad Al Palembangi di Chana Pattani utara dalah cerita Ustadz Abu Dzar dari Palembang yang bermukim di Thailand kepada tiga ustadz yang berkunjung ke makam di sana.
Menurutnya, hanya badannya yang dikubur di chana di Pattani utara, sedangkan kepalanya di musium Kerajaan Siam di Bangkok. “Hanya pembesar-pembesar yang bisa melihat,” ungkapnya.
Syekh Abdussamad memang sejak lama ingin ikut serta dalam peperangan melawan para penjajah di Nusantara. Namun setelah dipertimbangkan, dia lebih tertarik membantu umat Islam di Pattani dan Kedah melawan keganasan Siam
Syekh Abdussamad merupakan pengarang Kitab Hidayatus Salikin yang berbahasa Arab Melayu dan kitab Siyarus Salikin yang banyak diajarkan saat majelis-majelis pengajian di empat negara di Thailand Selatan, Brunei, Malaysia, dan Indonesia Termasuk pondok pesantren dan majelis pengajian di Kalimantan Selatan
Daftar Karya Syekh Abdul Samad al-Falembani:
1. Zahratul Murid fi Bayani Kalimatit Tauhid, 1178 H/1764 M.
2. Risalah Pada Menyatakan Sebab Yang Diharamkan Bagi Nikah, 1179 H/1765 M.
3. Hidayatus Salikin fi Suluki MaslakilMuttaqin, 1192 H/1778 M.
4. Siyarus Salikin ila ‘Ibadati Rabbil ‘Alamin, 1194 H/1780 M-1203 H/1788 M.
5. Al-‘Urwatul Wutsqa wa Silsiltu Waliyil Atqa.
6. Ratib Sheikh ‘Abdus Shamad al-Falimbani.
7. Nashihatul Muslimina wa Tazkiratul Mu’minina fi Fadhailil Jihadi wa
Karaamatil Mujtahidina fi Sabilillah.
8. Ar-Risalatu fi Kaifiyatir Ratib Lailatil Jum’ah
9. Mulhiqun fi Bayani Fawaidin Nafi’ah fi Jihadi fi Sabilillah
10. Zatul Muttaqin fi Tauhidi Rabbil ‘Alamin
11. ‘Ilmut Tasawuf
12. Mulkhishut Tuhbatil Mafdhah minar Rahmatil Mahdah ‘Alaihis Shalatu was Salam
13. Kitab Mi’raj, 1201 H/1786 M
14. Anisul Muttaqin
15. Puisi Kemenangan Kedah.
(rachman agus)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















