SuarIndonesia — Kualitas udara di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, kembali memburuk akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di wilayah tersebut menembus angka 722 dan menjadi catatan tertinggi selama musim kemarau 2026.
Dilansir detikKalimantan, angka ini tercatat pada Rabu (16/9/2026) pagi melalui stasiun pemantau kualitas udara di Selat Hulu, Kecamatan Selat. Partikulat PM10 menjadi parameter pencemar utama dengan angka 722, sementara PM2,5 tercatat 655.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kabupaten Kapuas dr Tonun Irawaty Panjaitan membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebut angka 722 merupakan ISPU tertinggi yang tercatat selama periode kemarau tahun ini.
“Iya betul sekali, catatan tertinggi,” kata Tonun, Rabu (16/9/2026).
Lonjakan kualitas udara tersebut terlihat cukup tajam jika dibandingkan dengan kondisi beberapa hari sebelumnya. Pada Minggu (13/9), ISPU di lokasi yang sama masih berada di angka 319 pada pukul 08.00 WIB, dengan PM2,5 sebagai parameter kritis.
Kondisi pada 13 September itu pun sebenarnya sudah menunjukkan pencemaran udara yang tinggi. Namun, angka tersebut kemudian melonjak lebih dari dua kali lipat hanya dalam kurun dua hari hingga mencapai 722.
“Rekor sebelumnya juga tercatat pada 6 September 2026. Saat itu, ISPU mencapai 363 pada pukul 06.00 WIB dengan PM2,5 sebesar 363 dan PM10 sebesar 343 sebagai parameter pencemar,” katanya.
Dengan demikian, dalam rentang kurang dari dua pekan, angka ISPU di lokasi pemantauan Selat Hulu meningkat dari 363 menjadi 722. Kondisi tersebut menggambarkan semakin buruknya paparan partikulat di udara Kapuas di tengah musim kemarau.
“Berdasarkan kategori ISPU, angka 722 berada dalam level Berbahaya. Kondisi ini membuat paparan udara luar ruang menjadi perhatian serius, terutama saat konsentrasi asap dan partikulat berada pada tingkat tinggi,” ujarnya.
Masyarakat pun diimbau terus memantau perkembangan kualitas udara dan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk. Upaya mengurangi paparan asap menjadi penting untuk meminimalkan risiko terhadap kesehatan.
“Memburuknya kualitas udara tersebut juga terjadi ketika penanganan kebakaran hutan dan lahan masih berlangsung di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah. Kondisi kabut asap dan tingginya konsentrasi partikulat menjadi salah satu dampak yang perlu diantisipasi selama puncak musim kemarau,” pungkasnya. (*/ut)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















