SuarIndonesia.com – Penekanan tombol sirine oleh Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel) H Sahbirin Noor, di lapangan Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Hijrah Putra Cindai Alus, Martapura, Rabu (3/5/2023), dimulainya kesiapsiagaan menghadapi bencana tahun 2023.
Diperkirakan pertengahan Mei akan masuk musim kemarau, hingga September sangat rawan terjadinya karhutla.
Sahbirin Noor yang memimpin apel siaga menghadapi bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta peringatan hari kesiapsiagaan bencana tahun 2023.
Juga mengatakan, selain dihadapkan dengan situasi ekonomi yang tidak menentu karena pandemi Covid-19, kondisi global seta dihadapkan pada fenomena alam yang mengakibatkan cuaca ekstrem.

Dikatakannya, menurut data Badan Meteorologi dan Klimatologi dan Geofisikia (BMKG) mulai 1 Mei lalu, kawasan timur Indonesia diselimuti ultra violet kategori berbahaya dan ekstrem yang kemudian meluas hingga Kalimantan dan Sumatera.
Menurutnya fenomena tersebut mengharuskan semua pihak untuk waspada.
Karena disaat musim kemarau yang diperkirakan pertengahan Mei hingga September sangat rawan terjadinya karhutla.
Menurut data risiko bencana karhutla yang terjadi di Kalsel, 761 ribu hektare kategori rendah. 1,4 juta hektare kategori sedang dan 1,1 juta hektare kategori tinggi atau berbahaya.
Sementara catatan kejadian tahun 2021 di Kalsel dari 13 kabupaten/kota terjadi karhutla.
“Dengan sumber daya yang dimiliki, kita dapat mencegah dan mengendalikan karhutla, kabut asap, yang tidak hanya berdampak pada kesehatan juga dapat mengganggu kelancaran transportasi, terutama transportasi udara,” ujar dia.
Paman Birin sapaan akrabnya ini tak lupa memberikan apresiasinya kepada TNI/Polri, instansi vertikal, SKPD terkait, stakeholder, relawan dan keluarga besar ponpes Darul Hijrah atas kesediaan dan partisipasi dalam pelaksanaan apel.
“ Semoga melalui apel ini dapat mempertegas kesiapsiagaan kita, memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam mencegah karhutla,” harapnya.
Rangkaian ini juga dilakukan simulasi penanggulangan karhutla yang terjadi, serta pembukaan pintu air untuk mengaliri kanal-kanal dan lahan gambut, guna melakukan pembasahan lahan yang rawan terbakar. (*/HM)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















