HUTAN LINDUNG ‘Ibu Kota’ Orangutan Sumatra di Aceh Singkil Kian Kritis

- Penulis

Rabu, 24 Juli 2024 - 22:55 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Orangutan sumatra di Aceh Singkil terancam habitatnya karena pebabatan hutan di kawasan tersebut dalam 5 tahun terakhir. (Foto: Syifa Yulinnas/Antara Foto via REUTERS)

Orangutan sumatra di Aceh Singkil terancam habitatnya karena pebabatan hutan di kawasan tersebut dalam 5 tahun terakhir. (Foto: Syifa Yulinnas/Antara Foto via REUTERS)

SuarIndonesia — Perusakan terus-menerus terhadap hutan wilayah Aceh Singkil menyebabkan habitat lindung terbesar populasi orangutan sumatra semakin kritis. Sejak 2019, aktivitas pembukaan hutan berlangsung sangat masif meskipun wilayah ini merupakan suaka margasatwa yang dilindungi.

Pegiat konservasi mengkhawatirkan tingkat kerusakan ini akan merusak bukan hanya kekayaan hayati tetapi juga satwa ikonik seperti orangutan sumatra. Satwa dilindungi ini populasinya terus menurun dari tahun ke tahun. Pembabatan hutan berlangsung masif sejak maraknya pembukaan kebun sawit tahun 2019.

Manajer Sistem Informasi Geografis Yayasan Yayasan Hutan, Alam, dan Lingkungan Aceh (HAkA) Lukmanul Hakim mengatakan dalam catatan lembaganya, hingga Juni 2024 ini luas hutan yang hilang sekitar 2.030 hektare.

Ketua HakA Farwiza Farhan mengatakan bahkan tahun 2023 saja, dalam setahun 834 hektare hutan dibabat.

“Padahal ini adalah ibukota untuk orangutan sumatra. Satu-satunya di dunia. Menurut BKSDA (Badan Konservasi Sumber Daya Alam) populasi per kilometer mencapai 5 ekor orangutan di hutan ini. Bayangkan apa dampaknya kehilangan lebih dari 2.000 hektar hutan terhadap populasi orangutan di situ,” kata Farwiza Farhan, seperti dilansir laman CNNIndonesia.

Suaka margasatwa
Hutan Rawa Singkil ditetapkan sebagai suaka margasatwa sejak 1998. Selain habitat surga bagi orangutan, wilayah ini juga merupakan pelindung satwa endemik seperti harimau Sumatera yang juga sedang menghadapi krisis populasi dan 122 jenis burung.

Suaka Margasatwa Rawa Singkil juga bernilai sangat tinggi sebagai benteng perubahan iklim karena merupakan wilayah gambut yang mampu menyimpan kandungan karbon sebanyak 175 juta ton yang ditaksir setara dengan nilai Rp6,4 triliun.

Karena terletak di wilayah yang berbatasan langsung dengan tiga kabupaten, yakni Aceh Singkil, Aceh Selatan dan Subulussalam, suaka Margasatwa Aceh Singkil kerap dianggap seolah “wilayah tak bertuan”. Akibatnya pembabatan hutan besar-besaran tiap hari tak diketahui persis siapa pelakunya, meski diduga bukan merupakan warga lokal.

Baca Juga :   DPRD Minta Kontraktor Pelaksana dan Dinas PUPR Kalsel Memastikan Kondisi Jalan Jalan Veteran Sungai Lulut Bbenar-benar Siap

“Tiap kali kita bersuara soal ini, selalu ada upaya membenturkan usaha konservasi dengan warga lokal. Selalu dituduh kami mengutamakan hewan dari pada manusia,” kata juru kampanye HAkA Nurul Ikhsan.

Padahal menurutnya selama puluhan tahun, warga hidup berdampingan dengan hutan baik-baik saja. Baru setelah masif perluasan kebun sawit, eksploitasi hutan dilakukan besar-besaran.

Hutan di Aceh adalah kawasan yang krusial bagi populasi orangutan Sumatera. Orangutan hanya terdapat di sebagian kecil wilayah Malaysia dan Indonesia.

Dunia internasional diramaikan dengan pemberitaan tentang spesies “kera paling cerdas” yang terekam kamera tengah mengobati luka di mukanya sendiri dengan ramuan daun di hutan Mei lalu. Rekaman itu di dapat dari kamera pemantau di hutan Rawa Kluet yang berdekatan dengan Suaka Margasatwa Rawa Singkil, Aceh.

Populasi utama orangutan Sumatera saat ini terdapat di Rawa Kluet, Rawa Tripa dan Rawa Singkil. Orangutan Sumatera, Kalimantan dan Tapanuli saat ini masuk dalam daftar terancam kritis atau critically endangered (CR) dalam daftar Serikat Internasional untuk Pelestarian Alam (IUCN).  [*/UT]

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

EMPAT JENAZAH Kembali Teridentifikasi hingga 15 Oktober 2026 Total Sebanyak 81
BONGKAR BUKTI Dampak ke Masyarakat soal Gugatan Pemadamaan Listrik dan Begini Pendapat Ahli Hukum Administrasi Negara
PERKUAT LANGKAH Penanganan Karhutla, Polda Kalsel Kumpulkan Lurah dan Kades
KAPOLDA KALSEL Paparkan Inovasi Strategis di Hadapan Astamaops Kapolri beserta Tim
LESTARIKAN SUNGAI, Ikan Sapu-Sapu jadi Sasaran Pengendalian Karantina Kalsel bersama Warga
SOROTI SILPA dan Belanja Pegawai Kesbangpol 2027, Dewan Minta Lebih Optimal
KETAHANAN Kalsel Fondasi Pertahanan Nasional Menghadapi Ancaman Modern
PANSUS DPRD Kalsel Sampaikan 21 Rekomendasi BBM Subsidi

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 22:19

EMPAT JENAZAH Kembali Teridentifikasi hingga 15 Oktober 2026 Total Sebanyak 81

Kamis, 15 Oktober 2026 - 22:07

BONGKAR BUKTI Dampak ke Masyarakat soal Gugatan Pemadamaan Listrik dan Begini Pendapat Ahli Hukum Administrasi Negara

Kamis, 15 Oktober 2026 - 17:45

KAPOLDA KALSEL Paparkan Inovasi Strategis di Hadapan Astamaops Kapolri beserta Tim

Rabu, 14 Oktober 2026 - 21:54

LESTARIKAN SUNGAI, Ikan Sapu-Sapu jadi Sasaran Pengendalian Karantina Kalsel bersama Warga

Rabu, 14 Oktober 2026 - 21:37

SOROTI SILPA dan Belanja Pegawai Kesbangpol 2027, Dewan Minta Lebih Optimal

Rabu, 14 Oktober 2026 - 21:33

KETAHANAN Kalsel Fondasi Pertahanan Nasional Menghadapi Ancaman Modern

Rabu, 14 Oktober 2026 - 21:27

PANSUS DPRD Kalsel Sampaikan 21 Rekomendasi BBM Subsidi

Rabu, 14 Oktober 2026 - 21:13

AKIBAT KARHUTLA, La Jemo Alami Luka Bakar dan Meninggal Dunia

Berita Terbaru

Ira, orang utan yang diselamatkan dari area area karhutla di Kotim, Rabu malam (14/10/2026). (Foto: Istimewa)

Kalteng

IRA Diselamatkan dari Area Karhutla Kotim

Kamis, 15 Okt 2026 - 23:10


Hujan mengguyur Kumai, Kotawawingin Barat. (Foto: Istimewa)

Kalteng

KUMAI Diguyur Hujan

Kamis, 15 Okt 2026 - 22:53

Karhutla di Sampit. (Foto: Istimewa)

Kalteng

KOTIM Perpanjang Tanggap Darurat Karhutla

Kamis, 15 Okt 2026 - 22:48

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca