BKSDA-YIARI Selamatkan Bayi Orangutan

- Penulis

Senin, 24 November 2025 - 19:51 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Randy, bayi Orangutan yang berhasil di selamatkan oleh BKSDA Kalbar dan IARI di lokasi PETI Desa Riam Dadap, Kecamatan Hulu Sungai, Kabupaten Ketapang. (Foto: IARI Kalbar)

Randy, bayi Orangutan yang berhasil di selamatkan oleh BKSDA Kalbar dan IARI di lokasi PETI Desa Riam Dadap, Kecamatan Hulu Sungai, Kabupaten Ketapang. (Foto: IARI Kalbar)

SuarIndonesia — Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menyelamatkan satu bayi orangutan jantan yang dipelihara secara ilegal di kawasan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) Sayan, Kabupaten Ketapang.

“Bayi orangutan yang diberi nama Randy itu diperkirakan berusia sekitar dua tahun. Ia dipelihara oleh seorang penambang bernama Hendro selama hampir satu bulan di dalam kandang kecil berukuran sekitar 120 x 50 x 50 sentimeter. Selama dalam pemeliharaan ilegal tersebut, Randy hanya diberi makan pisang, umbut, roti dan air putih,” kata Dokter hewan YIARI, drh Ishma di Ketapang, Senin (24/11/2025).

Dari pengakuan Hendro, kata Ishma, dia menemukan Randy sendirian di hutan sekitar lokasi tambang. Ia sempat berniat menjual satwa dilindungi itu, namun setelah mendapat informasi dari warga tentang ancaman hukuman dan kewajiban menyerahkan satwa liar yang dilindungi, ia kemudian melapor ke BKSDA dan menyerahkan orangutan tersebut.

Mengingat lokasi penemuan berada di area PETI yang rentan konflik satwa akibat kerusakan habitat, BKSDA Kalbar bersama YIARI bergerak cepat melakukan evakuasi.

Tindakan cepat ini penting karena bayi orangutan sangat rentan terhadap stres, malnutrisi, serta paparan penyakit dari lingkungan yang tidak layak.

Ishma, yang melakukan pemeriksaan awal, menyampaikan bahwa kondisi umum Randy cukup stabil, namun terdapat catatan medis yang harus ditindaklanjuti.

“Secara keseluruhan Randy dalam kondisi baik, tetapi terdapat bekas patah tulang pada paha kiri yang sudah mulai menyatu. Cedera ini diperkirakan terjadi lebih dari empat minggu lalu, kemungkinan sebelum ia dipelihara,” tutur drh Ishma dilansir dari AntaraNews.

Setelah dievakuasi, Randy dibawa ke Pusat Rehabilitasi YIARI di Desa Sungai Awan Kiri untuk menjalani karantina selama delapan minggu. Selama masa karantina, ia akan menjalani pemeriksaan lengkap guna memastikan tidak membawa penyakit menular yang dapat membahayakan orangutan lain.

Baca Juga :   MASUK GERBONG ROTASI Empat Kajari di Wilayah Kalsel

Kasus pemeliharaan ilegal satwa dilindungi masih kerap ditemukan di wilayah pedalaman Ketapang. Pada kasus bayi orangutan, para ahli memastikan hampir dapat dipastikan induknya sudah mati. Di alam liar, bayi orangutan hidup bersama induknya hingga usia 6–8 tahun sehingga keberadaan bayi sendirian menandakan adanya pembunuhan induk.

Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menyampaikan keprihatinan mendalam atas kasus ini.

“Kasus seperti ini bukan hanya soal pelanggaran hukum. Yang lebih menyedihkan, hampir pasti induk orangutan sudah dibunuh dan aktivitas PETI membuka ruang bagi perburuan dan meningkatkan peluang pemburu mengambil bayi orangutan. Setiap kasus seperti ini berarti populasi orangutan kehilangan dua individu sekaligus,” katanya.

Meski demikian, ia mengapresiasi warga yang bersedia menyerahkan Randy sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap upaya pelestarian.

Kepala BKSDA Kalbar, Murlan Dameria Pane, turut mengapresiasi masyarakat yang memberikan informasi mengenai keberadaan satwa tersebut.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang melapor. Habitat orangutan terus terdesak oleh aktivitas manusia sehingga dibutuhkan kerja sama semua pihak untuk menyelamatkan dan menjaga kelestariannya,” kata Murlan. (*/ut)

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

LANJUTKAN Penanganan Karhutla dengan Surfaktan dan Water Bombing di Kabupaten Banjar
BURUH BANGUNAN TEWAS, Tubuhnya Ditemukan Dalam Air di Bawah Proyek Padel
HUJAN TURUN, Paman Birin Ajak Peserta Pra Kongres KBB ll Sadunia Sujud Syukur
PERSONEL KPL Banjarmasin Mengurai Kepadatan Kendaraan, Keselamatan sebagai Prioritas
UTAMAKAN Tindakan Preemtif dan Preventif pada Operasi Patuh Intan 2026
SUJUD SYUKUR Relawan Karhutla saat Hujan di Martapura
KAPOLDA KALSEL, Gagas Forum Rektor dan “Crisis Center” Atasi Karhutla, Ciptakan Kamtibmas hingga Mendukung Pendidikan Unggul
SINERGI KAMTIBMAS Forkopimda Kalsel bersama Para Pimpinan Perguruan Tinggi, Begini Penekanan Kapolda

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 23:28

CHELSEA dan GUNDUL Terdampak Karhutla Tanjung Puting

Selasa, 27 Oktober 2026 - 19:49

BANPRES untuk Warga Gumas Terdampak Karhutla

Senin, 26 Oktober 2026 - 22:06

TNTP DIGUYUR HUJAN DERAS, Bara Api Masih Tersisa

Senin, 26 Oktober 2026 - 22:00

TANGANI KARHUTLA, 100 Personel Brimob Mabes Polri Dikerahkan

Minggu, 25 Oktober 2026 - 21:12

WARGA LAMANDAU ‘MENUGAL’ Padi Gogo di Lahan Bekas Karhutla

Minggu, 25 Oktober 2026 - 21:05

MEMBURU HUJAN TURUN, 7,2 Ton Bahan Semai Ditaburkan

Minggu, 25 Oktober 2026 - 20:54

VIRAL! Foto Menkes Pakai Oksigen, Menkes Bantah Sesak Napas

Jumat, 23 Oktober 2026 - 21:59

PUNCAK MUSIM HUJAN antara Desember-Januari 2027

Berita Terbaru

Potret Chelsea dan Gundul, orang utan terdampak karhutla Tanjung Puting. (Foto: Istimewa)

Kalteng

CHELSEA dan GUNDUL Terdampak Karhutla Tanjung Puting

Selasa, 27 Okt 2026 - 23:28

Nina (43), perempuan yang tergabung dalam Srikandi BPBD Samarinda. (Foto: dokumentasi pribadi)

Kaltim

NINA, Berjibaku Padamkan Karhutla

Selasa, 27 Okt 2026 - 21:18