BKSDA Kalsel: 12 Bekantan Tewas Akibat Karhutla HSS

- Penulis

Senin, 14 September 2026 - 21:29 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tim BKSDA Kalsel menunjukkan seekor bekantan yang tewas dari total 12 ekor yang terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Balimau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. (Foto: HO-BKSDA Kalsel)

Tim BKSDA Kalsel menunjukkan seekor bekantan yang tewas dari total 12 ekor yang terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Balimau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. (Foto: HO-BKSDA Kalsel)

SuarIndonesia — Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Kalimantan Selatan mengonfirmasi kematian 12 ekor bekantan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di habitatnya di Desa Balimau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).

“Dari keterangan Kepala Desa Balimau terdapat sekitar 60 ekor bekantan di kawasan tersebut, namun jumlah populasi itu masih perlu diverifikasi BKSDA melalui pemantauan lapangan setelah kebakaran melanda habitat satwa dilindungi tersebut,” kata Kepala BKSDA Kalsel Agus Ngurah Krisna di Banjarmasin, Senin (14/9/2026).

Ia mengatakan pihaknya menerima laporan pada Minggu (13/9/2026) dari petugas pemadam kebakaran Hulu Sungai Selatan dan masyarakat mengenai bekantan yang terdampak kebakaran di kawasan Area Penggunaan Lain (APL) Desa Balimau.

“Jadi, ada 12 ekor bekantan ya, kurang lebih, serta satu ekor ular piton dan satu ekor king kobra ikut terbakar,” ujar Agus dikutip SuarIndonesia dari Antara, Senin (14/9/2026).

Selain satwa endemik Kalimantan itu, Agus mengatakan bahwa kawasan tersebut juga menjadi habitat satwa lain, seperti lutung atau hirangan dalam bahasa lokal, serta monyet ekor panjang yang masih dipantau keberadaannya oleh tim BKSDA Kalsel.

Tim penyelamatan BKSDA Kalsel telah mendatangi lokasi untuk memeriksa kondisi habitat yang terbakar, luas kawasan terdampak, serta memastikan kemungkinan masih terdapat satwa yang selamat dan membutuhkan penyelamatan atau evakuasi.

Hasil pengecekan menunjukkan habitat bekantan di lokasi tersebut terdiri atas dua kawasan terpisah yang masing-masing memiliki luas sekitar dua hingga tiga hektare dan dipisahkan oleh jalan, dengan satu kawasan merupakan tanah desa dan kawasan lainnya milik masyarakat.

Agus mengungkapkan kebakaran, terutama terjadi di kawasan milik masyarakat dengan sekitar 80 persen lahan terbakar, sedangkan kawasan tanah desa aman dari kebakaran, sementara bekantan yang mati ditemukan berada di kawasan milik masyarakat tersebut.

Baca Juga :   PEMADAMAN Karhutla di Handil Bakti, Kapolda Kalsel Instruksikan Menyelidiki Penyebabnya

Kedua kawasan itu, kata dia, menjadi bagian dari wilayah jelajah bekantan, karena satwa menggunakan area tersebut sebagai jalur pergerakan, meskipun habitatnya terfragmentasi dan tidak membentuk satu hamparan ekosistem yang menyatu.

“Habitatnya memang terfragmentasi, jadi tidak satu hamparan habitat atau satu ekosistem yang menyatu, tetapi terpisah-pisah,” ucapnya.

Ia menyampaikan bahwa kondisi habitat yang terbatas, kemudian kebakaran dengan api cukup besar dan disertai angin kencang, diduga menyebabkan bekantan yang berada di kawasan tersebut tidak sempat menyelamatkan diri dari kobaran api.

BKSDA Kalsel telah menangani seluruh bangkai bekantan yang ditemukan dengan menguburkan, dan apabila ditemukan indikasi kematian akibat faktor lain, seperti penembakan, bangkai akan dibawa untuk diperiksa oleh dokter hewan.

BKSDA Kalsel selanjutnya berkoordinasi dengan pemerintah daerah, pemerintah desa dan kecamatan serta mengajak masyarakat menjaga habitat satwa dilindungi tersebut, sembari melanjutkan pemantauan terhadap kemungkinan adanya satwa yang masih membutuhkan evakuasi.

“Tim BKSDA masih mengecek kondisi bentang alam dan status lahan di kawasan APL tersebut untuk menentukan langkah penanganan berikutnya serta memastikan kondisi habitat dan satwa liar yang terdampak kebakaran,” ujar Agus. (*/ut)

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

DIPROSES Polda Kalsel 12 Korporasi Terkait Karhutla Ada Keterkaitan Saham Asing, 11 Orang Diperiksa
SEJUMLAH RELAWAN BPK Mendapat Voucer BBM Gratis
UNGKAP BELASAN KASUS, Polda Kalsel Tetapkan 18 Tersangka BBM Subsidi hingga Jutaan Rokok Ilegal
HIJAUKAN Lingkungan Lewat “Green Policing”
RAKORDA ASDEKSI Kalsel Tekankan Pentingnya Akuntabilitas Pendalaman Tugas Anggota DPRD
BAKAR TERPAL Warung Bakso, ABH 12 Tahun Dimediasi Polisi
PULUHAN WARGA-POLISI Aksi Donor Darah Wujud Kepedulian Terhadap Sesama
PEMUKIMAN di Jalan Batu Merah Sungai Andai Membara

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 21:59

PUNCAK MUSIM HUJAN antara Desember-Januari 2027

Kamis, 22 Oktober 2026 - 00:07

TERKAIT KARHUTLA, 6 Izin Perusahaan di Kalteng Dibekukan

Selasa, 20 Oktober 2026 - 00:26

DEMO KARHUTLA-KABUT ASAP Memanas! Mahasiswa Segel Kantor Gubernur Kalteng

Minggu, 18 Oktober 2026 - 20:42

KASUS KARHUTLA Kalteng: 46 Tersangka, 12 Laporan Seret Perusahaan

Minggu, 18 Oktober 2026 - 19:37

WATER BOMBING Dimaksimalkan atasi Karhutla Tanjung Puting

Jumat, 16 Oktober 2026 - 21:56

TIGA Fokus Utama Penanganan Karhutla Kalteng

Jumat, 16 Oktober 2026 - 19:54

PANGKALAN BUN Diguyur Hujan, BMKG: Tetap Waspada!

Kamis, 15 Oktober 2026 - 23:10

IRA Diselamatkan dari Area Karhutla Kotim

Berita Terbaru

Dua WNA Afghanistan dideportasi Imigrasi Balikpapan. (Foto: Imigrasi Balikpapan)

Kaltim

2 WNA AFGHANISTAN Dideportasi

Jumat, 23 Okt 2026 - 22:05

Foto ilustrasi hujan menyelimuti Kota Cantik Palangka Raya pada tahun lalu. (Foto: Istimewa)

Kalteng

PUNCAK MUSIM HUJAN antara Desember-Januari 2027

Jumat, 23 Okt 2026 - 21:59

Barito Kuala

SEJUMLAH RELAWAN BPK Mendapat Voucer BBM Gratis

Jumat, 23 Okt 2026 - 21:14

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca