SuarIndonesia – Pasca banjir, para petani di Kabupaten Banjar terancam tidak bisa melakukan penanaman akibat bibit padi mengalami pembusukan.
Anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kalimantan Selatan, Fahrani S,Pd.I, M.SI, Kamis (18/2/2021) mengatakan berdasarkan pantauannya dimana masyarakat Kabupaten Banjar, mayoritas sebagai petani tidak bisa melakukan penanaman padi.
“Hampir 70 persen lahan pertanian terendam banjir,
Pada masa tanam bibit padi, terendam dan membusuk, sehingga terancam penanaman benih padi lokal Banjar (Benih Siam)
Memang ada solusi di beberapa daerah dengan menggunakan rimbangun atau anakan benih yang tumbuh pasca panen untuk di semai kembali,” tambahnya
Selain itu, pada saat kunjungan Menteri Pertanian yang lalu bantuan yang dipedulikan hanya masalah pertanian.
Sedangkan untuk buah jeruk, rambutan, dan perikanan, tidak terakomodir bantuan pasca banjir.
Padahal salah satu pendapatan terbesar untuk masyarakat Kabupaten Banjar adalah pertanian jeruk dan perikanan.
“Saat ini bibit jeruk sangat langka, dan perikanan indukan untuk menghasilkan bibit ikan hampir semuanya terlepas, akibat banjir yang melanda di wilayah kita,” ungkapnya

Wilayah yang terdampak pertanian jeruk di Kecamatan Astambul yakni Desa Sungai Tuan, Kecamatan Sungai Tabuk di Lok bBntar dan Lok Baintan.
“Ini memasok keperluan kalimantan dan jawa. Masyarakat sangat mengharapkan bantuan bibit perikanan dan pertanian untuk dapat melangsungkan pemulihan ekonomi.
Kita ingin potensi Kabuoaten Banjar di bidang perkebunan dan perikanan berjalan kembali,” ucapnya.
“Melalui reses kemarin, kami menyikapi hal ini dan menjadi sebuah pokok pikiran (pokir) yang dimasukkan dalam pembahasan program Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan,” pungkasnya (HM)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















