SuaaIndonesia – Awal dari tragis dialami MR (34), Gitaris Band Kalsel, warga Kelurahan Guntung Paikat, Kota Banjarbaru yang diduga tuduh orang gasak handphone.
Enam tersangka diringkus jajaran Polres Banjar, Kalsel hingga adanya pengakuan pihak keluarga, Sabtu (26/7/2025).
Enam orang tersangka yang ditangkap pada Kamis (24/7/2025) dinihari berinsial AH (19), GM (33), KH (50), IB (48), MR (38) dan MF (36).
Mereka warga Desa Mekar, Martapura Timur, hanya serta GM, warga Jalan Dr Wahidin Sudiro, Kelurahan Dadi Mulya, Samarinda Ulu.
Mengenai motifnya, Kapolres mengatakan bahwa ke enam tersangka sempat dituduh korban mengambil ponsel serta kunci motornya.
Diduga, para pelaku tersinggung dengan ucapan korban dan memicu emosi para pelaku.”Terjadilah pengeroyokan yang diduga mengakibatkan korban terjatuh ke sungai dan meninggal dunia.
“Semua tersnagka menjalani proses penyidikan lebih lanjut,” kata Kapolres lagi.
Dimana penemuan pada mula ada mayat mengapung di perairan Sungai Martapura, Kabupaten Banjar pada Senin (21/7/2025).
Setelah diidentifikasi, mayat tersebut adalah gitaris band Radictra, berinisial MR. Pada mulanya, korban dianggap tewas tenggelam Belakangan diketahuiMR adalah korban pembunuhan.
“Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa sebelum meninggal korban terlibat perkelahian dengan sejumlah pria,” tambah Kapolres.
Saat pengeroyokan itu, para pelaku diketahui sedang di bawah pengaruh minuman keras.
Sementara Normiati, ibus korban mengataka, kjalau sang anak terakhir kali pamit untuk pergi memancing di bawah Jembatan Kampung Melayu, Martapura, Kabupaten Banjar pada Minggu (20/7/2025).
Namun hingga malam hari, tak kunjung pulang ke rumah. Normiati berusaha mencari keberadaan anaknya melalui teman-teman sang anak.”Teman satu bandnya menelpon nanya keberadaannya, saya bilang belum pulang,” ujarnya.
Normiati berusaha menghubungi ponsel milik Redho, tapi tak tersambung.”Tapi dia ada punya ponsel jadul, jadi dicoba hubungi itu nyambung,” ucapNormiati.
Namun, ketika telepon tersambung, ia tak mendengar suara anaknya. Yang ia dengar ialah suara Kepala Desa setempat yang mengamankan barang milik anaknya setelah penemuan mayat mengapung.
Tak ada barang berharga milik Redho yang hilang. Ponsel, kunci motor, dompet, uang, hingga joran pancing semuanya masih ada di lokasi kejadian.
Saat diperiksa awal, Normiati menyebut anaknya tidak ada mengalami tanda-tanda kekerasan. Ia menerima kondisi itu dengan ikhlas dan memakamkan jasad MR.
“Tidak ada tanda kekerasan, jadi hidung berdarah itu karena paru-paru kemasukan air. Lalu keluar darah,” ungkap Normiati.
Berselang beberapa hari, keluarga memiliki kecurigaan atas meninggalnya Redho. Laporan pun dimasukkan di Polsek Martapura Timur pada Rabu (23/7/2025).
Jenazah diperiksa ulang melalui proses ekshumasi (pembongkaran makam). Didapati hasil bahwa Redho merupakan korban penganiayaan oleh sekelompok orang.”Kami berharap pelaku dihukum berat,” ucap sang ibu. (ZI)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















