ANJLOK Harga Karet, Hilirisasi Industri Solusinya ?

SuarIndonesia – Anjlok harga karet, jika beberapa bulan lalu para petani karet bisa mengandalkan penghasilan dari hasil sadapan karet, sekarang kurang bisa diandalkan.

Saat ini harga karet di tingkat petani kisaran antara 5 sampai 7 ribu per kilogram. Sebelumnya harga karet di tingkat petani mencapai 9 sampai 10 ribu perkilogram.

“Harga karet turun, sehingga kami harus memutar otak agar mendapatkan penghasilan lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sebelumnya bisa mengandalkan penghasilan dari karet karena harganya lumayan, tapi sekarang turun drastis,” ujar Solfani, salah satu petani karet Desa Sungai Alang, Kabupaten Banjar.

Penurunan harga karet ini juga diakui Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kalsel, Suparmi.

Berdasarkan data Disbunak, karet dengan Kadar Kering Karet (K3) 100 persen, harganya hanya berkisar antara Rp18 sampai dengan Rp 19 ribu per kilogram.

Harga tersebut mengalami penurunan sekitar 3 ribu per kilogram dari harga normal di kisaran 21 sampai 22 ribu.

Di tingkat Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar {UPPB), karet dengan kualitas K3 60 sampai 65 persen, harganya tercatat sebesar Rp 10 hingga Rp 11 ribu per kilogram

“Dapat dikalikan kalau di tingkat petani langsung, K3 40 sampai dengan 50 persen harganya berkisar antara Rp6 sampai Rp8 ribu per kilogram,” ujar Suparmi.

Dijelaskan Suparmi, terjadinya penurunan harga karet ini dipicu oleh berkurangnya permintaan ekspor dar Kalsel.

Kondisi ini, sebut Suparmi, bisa terjadi karena stok karet yang berlimpah di negara tujuan ekspor.

“Penyebabnya karena berkurangnya permintaan ekspor.
Bisa jadi di negara tujuan ekspor stoknya masih ada,” beber Suparmi.

Untuk mengurangi beban petani karet, pihaknya lanjut Suparmi, bekerjasama dengan pihak terkait membantu dalam meringankan biaya produksi, salah satunya bantuan bahan pembeku lateks atau cairan pembeku getah karet.

“Kita bantu mengurangi beban petani karet, misalnya bahan pembeku lateks,” jelasnya lagi.

Dengan kondisi sekarang ini, Suparmi mendorong petani agar tidak hanya memproduksi karet dalam bentuk Lum maupun Sir Angin saja, tetapi bisa memproduksi karet dalam bentuk setengah jadi hilirisasi industri karet.

“Hak itu kewenangan teman-teman kami di Dinas Perindustrian,” ucapnya.

Hilirisasi industri diperlukan agar tidak bergantung harga pasar global.

Pemprov Kalsel menurut Suparmi terus mengupayakan agar produksi karet Kalsel tidak lagi diekspor ke luar negeri dalam bentuk bahan baku saja, melainkan barang sudah jadi.

“Kami tekankan ekspor Kalsel nanti tidak hanya sebatas bahan baku tapi kita arahkan ke barang sudah jadi,” papar Suparmi.(RW)

 389 kali dilihat,  3 kali dilihat hari ini

1 Comment

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.