AKHIRNYA! Santri Irfan Berpulang, Jenazah Dipulangkan ke Kayong Utara

- Penulis

Jumat, 13 Maret 2026 - 22:33

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Santri Irfan Zaki Azizi meninggal usai diduga dianiaya. (Foto: Istimewa)

Santri Irfan Zaki Azizi meninggal usai diduga dianiaya. (Foto: Istimewa)

SuarIndonesia — Santri asal Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, Irfan Zaki Azizi meninggal dunia setelah sebelumnya dirawat intensif dengan kondisi tidak sadarkan diri dan luka lebam di wajah. Keluarga menduga remaja 16 tahun tersebut menjadi korban kekerasan saat menempuh pendidikan di pesantren.

Irfan mengembuskan napas terakhir pada Jumat (13/3/2026) sekitar pukul 07.00 WIB di RSU Santo Antonius Pontianak. Menurut Rio, jenazah Azizi telah dimandikan dan dikafankan di Pontianak sebelum dipulangkan ke kampung halamannya di Kabupaten Kayong Utara.

“Iya, ponakan saya meninggal sekitar jam 7 pagi tadi. Saya tidak sempat menyusul ke Pontianak. Jenazah sudah dimandikan dan dikafankan di Pontianak. Nanti akan dibawa pulang ke Kayong,” kata paman korban, Rio,  Jumat (13/3).

Keluarga berharap almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan sekaligus meminta kasus yang menimpa Azizi dapat diusut hingga tuntas.

“Semoga almarhum husnul khatimah dan mendapatkan keadilan di dunia,” tambahnya.

Irfan merupakan anak dari Ahmad Edi Santoso dan Nur Hasanah, warga Kayong Utara. Ia menjadi santri di Pesantren Labbaik Indonesia di Jalan Parit Kerakah, Desa Pal IX, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya.

Sebelumnya Irfan sempat menjalani perawatan intensif setelah diduga mengalami trauma di bagian kepala. Kondisi Azizi pertama kali diketahui orang tuanya, setelah pihak pesantren mengabarkan bahwa putra mereka mengalami alergi terhadap obat parasetamol.

Mendapat kabar tersebut, keduanya segera berangkat dari Kayong Utara menuju Kubu Raya untuk memastikan kondisi anak mereka. Namun sesampainya di rumah sakit, keluarga menemukan kondisi yang berbeda dari penjelasan awal.

“Kami awalnya diberitahu anak kami alergi parasetamol. Tapi setelah melihat langsung, wajahnya lebam dan bengkak parah. Ini terlihat bukan seperti alergi,” ujar Ahmad, Kamis (12/3).

Foto yang beredar memperlihatkan Irfan terbaring di ranjang perawatan dengan kedua mata bengkak hingga tertutup. Memar kehitaman terlihat jelas di sekitar mata dan pipinya, bahkan di bagian kening terdapat benjolan besar.

Melihat kondisi tersebut, keluarga menduga Irfan menjadi korban kekerasan saat berada di lingkungan pesantren. Dokter jaga di RS Bhayangkara Pontianak yang pertama menangani Irfan menyebut adanya dugaan trauma pada bagian kepala sehingga diperlukan penanganan medis lanjutan. Karena kondisinya dinilai serius, Irfan kemudian dirujuk ke RSU Santo Antonius Pontianak untuk mendapatkan penanganan dokter spesialis bedah saraf.

“Dokter mengatakan ada trauma di kepala,” kata Ahmad.

Sementara itu, Kepala Asrama pesantren, Ustaz Muhammad Aziz Shofiuddin memastikan tidak ada kekerasan di asrama. Pihak pesantren menyatakan masih menunggu hasil pemeriksaan medis dari dokter terkait kondisi Azizi serta berharap penyebab peristiwa tersebut segera terungkap.

Baca Juga :   SANTRI Diduga Alami Kekerasan, Wajah Lebam dan Belum Sadar

“Insya Allah tidak ada kekerasan,” katanya.

Kepala Sekolah SMA Pesantren Labbaik Indonesia Ustaz Aswandi Alfatih mengatakan pihaknya belum dapat memberikan keterangan pasti mengenai penyebab kejadian tersebut. Aswandi juga menyebut pihak pesantren telah meminta keterangan dari sejumlah santri. Namun hingga saat ini belum ditemukan indikasi adanya tindak kekerasan.

“Kita juga minta keterangan santri, cuma sampai saat ini masih belum ada indikasi adanya tindak kekerasan. Jadi kami belum bisa juga memberikan kesimpulan,” katanya.

Santri Irfan Zaki Azizi di Kubu Raya meninggal setelah sempat dirawat, diduga mendapat kekerasan saat di pesantren. (Humas Polres Kubu Raya)

CT Scan Santri Irfan Tunjukkan Pembengkakan Otak, Keluarga Tolak Otopsi

Sementara itu, dilansir dari detikKalimantan, dari hasil pemeriksaan CT Scan terhadap santri Irfan Zaki Azizi (16) menunjukkan adanya pembengkakan pada bagian otak. Meski begitu, pihak keluarga menolak tindakan otopsi sebagai upaya untuk mengetahui penyebab kematian.

Kasat Reskrim Polres Kubu Raya Iptu Nunut Rivaldo Simanjuntak melalui Kasubsi Penmas Polres Kubu Raya Aiptu Ade mengatakan, tim medis maupun kepolisian belum bisa menyimpulkan penyebab kematian korban. Saat ini, pihaknya sedang pengumpulan alat bukti.

“Saat ini kami juga masih menunggu hasil visum dari pihak rumah sakit sebagai bagian dari proses pengumpulan alat bukti,” kata ade, Jumat (13/3/2026).

Dari hasil CT Scan, tim medis menemukan adanya pembengkakan pada otak korban. Namun tidak ditemukan keretakan atau trauma pada tulang tengkorak kepala korban.

Selain itu, tim medis juga mendapati adanya pembengkakan di area wajah, terutama pada bagian dagu bawah, kedua mata, dan kening.

Ade melanjutkan, meski menduga korban mengalami kekerasan, namun pihak keluarga menolak dilakukan otopsi terhadap jenazah Azizi. Akan tetapi pihak keluarga tetap meminta pihak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus tersebut.

Saat ini, Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Kubu Raya bersama Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) masih mengumpulkan berbagai keterangan dan bukti terkait peristiwa tersebut.

“Kasus ini masih dalam tahap penyelidikan oleh Unit PPA Satreskrim Polres Kubu Raya bersama KPAI dan stakeholder terkait,” terangnya.

Ade menegaskan pihak kepolisian berkomitmen mengungkap penyebab kematian korban secara transparan dan objektif.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi ataupun menyebarkan informasi yang belum tentu benar di media sosial. Percayakan proses ini kepada pihak kepolisian yang saat ini masih bekerja maksimal untuk mengungkap fakta sebenarnya dan memberikan keadilan bagi pihak korban,” tegasnya. (*/ut)

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

DUA GADIS Asal Medan Diamankan, Diduga akan Dijual ke China
SEORANG PEJABAT di Lingkup Pemprov Kalsel Ditemukan Tak Bernyawa, Begini Kronologisnya
DIMENSI PEMAHAMAN Jadi Sorotan, Potensi Radikalisme di Kalsel Meningkat
POLISI BUBARKAN Sekelompok Pemuda Aksi “Cosplay Tuyul” di Jalan Raya
LAKA MAUT di A Yani Km 5 Banjarmasin Tewaskan Seorang Pria asal Palolo
3 PROVINSI di Kalimantan Rawan Karhutla
SEMBILAN WNI Korban Penahanan Israel Kembali ke Tanah Air
PERKELAHIAN Sekelompok Remaja di Depan Hotel Jalan A. Yani Km 2,5 Banjarmasin

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 23:16

KASUS Eks Bupati Kukar Berlanjut, Pejabat Kemenkeu Dipanggil KPK Jadi Saksi

Senin, 25 Mei 2026 - 23:09

DUA GADIS Asal Medan Diamankan, Diduga akan Dijual ke China

Senin, 25 Mei 2026 - 23:02

KASUS K3: JPU Tuntut Eks Wamenaker Noel 5 Tahun Penjara

Senin, 25 Mei 2026 - 22:48

DUA IKON Daerah di Kalteng Ditetapkan jadi Kawasan Berbasis KI

Minggu, 24 Mei 2026 - 21:50

LAHAN JADI TAMBANG, Warga Adat Barut Ajukan Banding ke PTUN-MA

Minggu, 24 Mei 2026 - 21:42

PECATAN Polisi Bawa Kabur Mobil

Minggu, 24 Mei 2026 - 21:33

3 PROVINSI di Kalimantan Rawan Karhutla

Sabtu, 23 Mei 2026 - 22:47

MOMENTUM BERSEJARAH Kesepakatan Hibah Pembangunan Rindam XXII/TB, Begini Penyataan Mayjen TNI Zainul Arifin

Berita Terbaru

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto (tengah) dan Ketua Umum Tim Penanggung Jawab Panitia SNPMB Tahun 2026 Eduart Wolok (kiri) dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (25/5/2026). (Foto: Antara/Sean Filo M)

Headline

SNBT 2026: 256.369 Peserta Lulus

Selasa, 26 Mei 2026 - 00:28

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca