SuarIndonesia — Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispursip) Kalimantan Tengah (Kalteng) berupaya meningkatkan literasi digital melalui aplikasi Huma Betang, platform perpustakaan digital yang memungkinkan masyarakat mengakses ribuan buku elektronik kapan saja dan di mana saja.
Pelaksana Tugas Kepala Bidang Layanan, Teknologi Informasi, dan Kerjasama Perpustakaan Dispursip Kalteng Febrianto Budiman di Palangka Raya, Jumat (20/2/2026), menjelaskan aplikasi ini dapat diunduh secara gratis melalui Google Play Store untuk perangkat Android maupun App Store untuk iOS.
“Sejak 2012, Dispursip Kalteng telah mengimplementasikan sistem perpustakaan digital dengan nama iKalteng. Pada awal 2026, sistem tersebut berevolusi dan berganti nama menjadi Huma Betang, sejalan dengan semangat kebersamaan dan keterbukaan khas filosofi masyarakat Dayak,” kata Febrianto, dikutip dari AntaraNews.
Aplikasi Huma Betang dirancang bebas iklan, sehingga memberikan pengalaman membaca yang nyaman dan fokus. Saat ini, platform tersebut menyediakan sekitar 2.800 judul buku digital yang terbagi dalam 113 klasifikasi beragam, mulai dari pendidikan, budaya, hingga pengetahuan umum.
Data Dispursip mencatat pada 2025 jumlah pengguna aplikasi mencapai 1.500 orang, dengan tren peningkatan setiap tahun meski belum signifikan.
Sepanjang tahun yang sama, tercatat 600 kali peminjaman buku digital dilakukan melalui aplikasi. Fitur peminjaman dirancang sederhana, mudah dan praktis untuk digunakan.
Pengguna cukup memilih buku di dalam aplikasi untuk meminjamnya, dan buku tersebut akan secara otomatis dikembalikan setelah masa pinjam tiga hari berakhir. Jika buku masih tersedia, pengguna dapat langsung meminjam ulang tanpa hambatan.
Meskipun fitur-fitur sudah cukup lengkap dan memberikan kepuasan bagi penggunanya, masih banyak masyarakat belum mengetahui keberadaan perpustakaan digital ini.
Selain itu, kebiasaan masyarakat masih lebih condong ke buku cetak karena faktor habituasi.
Febrianto berharap, semakin banyak pemengaruh, pejabat, atau tokoh masyarakat yang turut memperkenalkan dan mempromosikan Huma Betang. Apalagi orang Indonesia dikenal dengan sifat FOMO (Fear of Missing Out), sehingga sosialisasi melalui figur berpengaruh bisa sangat efektif.
Seorang mahasiswa Angkatan 2022 Program Studi Agribisnis Universitas Palangka Raya Lia Dwi Anggraini mengaku sering mengunjungi perpustakaan daerah untuk mengerjakan tugas kuliah dan skripsi, namun sebelumnya tidak pernah mengetahui adanya layanan digital tersebut.
“Jujur, saya tidak tahu kalau ada sistem perpustakaan digital aplikasi Huma Betang milik Dispursip Kalteng ini, dan saya berharap aplikasi ini bisa terus digaungkan, karena sangat mudah, praktis dan tidak perlu ribet kalau ingin mencari buku literasi apa saja untuk referensi belajar,” katanya.
Dispursip Kalteng berkomitmen terus menggencarkan promosi aplikasi ini melalui berbagai kanal, termasuk media massa, elektronik, dan media sosial resmi dinas.
Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan minat baca digital, sekaligus mendukung pencapaian target indeks gemar membaca di tingkat nasional bagi Kalteng. (*/ut)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















