Smart City, Selain Soal Teknologi Juga Gaya Hidup

Smart City, Selain Soal Teknologi Juga Gaya Hidup

Ilustrasi

Suarindonesia– Program smart city yang selama ini digaungkan mengedepankan penggunaan teknologi informasi dalam banyak hal.

Namun, menurut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kalsel, smart city tidak hanya melalui persoalan teknologi.

Ia menyebut smart city juga berarti merubah gaya hidup atau pola pikir masyarakat.

Dikatakannya, konsep smart city seperti itu sudah dipraktekan di Kota Helsinki, Finlandia.

Fajar menyebut, bekas pelabuhan yang tidak digunakan lagi justru dibangun menjadi kawasan baru dengan konsep smart city.

“Hasil kami belajar ke Finlandia ada beberapa poin penting, salah satunya pembangunan smart city,’’ ujarnya.

Mantan Kepala Bappeda Kota Banjarmasin ini menambahkan, konsep Smart City Helsinki juga menyangkut gaya hidup.

Sebab, lanjutnya, jika gaya hidup tidak berubah maka sulit untuk mewujudkan smart city tersebut.

Ia mencontohkan gaya hidup masyarakat Helsinki terkait pemanfaatan mall atau sekolah menjadi ruang publik yang bisa digunakan selama 24 jam agar lebih efisien dan efektif.

Sebab biaya besar membangun sekolah atau mall kurang efektif jika tidak digunakan 24 jam.

“Sedangkan teknologi informatika  ataupun internet, software, program, dan sebagainya itu hanya tools (alat,red) untuk mencapai efisiensi.

Ini yang paling inti yang kita dapat dari Finlandia. Selama ini, yang terbayang di benak kita bahwa yang namanya smart city itu semua harus high tech (teknologi tinggi, red).

Tapi ternyata tidak, di sana justru tentang gaya hidup,’’ bebernya.

Selain itu, lanjut Fajar, di Helsinki juga menerapkan pemanfaatan bekas botol plastik. Setiap membuang sampah plastik di tempat tertentu maka masyarakat mendapatkan saldo yang bisa digunakan untuk membayar transfortasi dan lain sebagainya.

“Dengan begitu tidak ada lagi orang yang membuang plastik sembarangan,’’ bebernya.

Lantas bagaimana dengan aplikasi smart city di Kalsel?.

Fajar menyebut akan mendorong tiga daerah yakni Kota Banjarmasin, Banjarbaru, dan Kabupaten Tabalong yang sedang membangun smart city.

“Kalau pemprov tidak mempunya wilayah sehingga tidak bisa membangun itu, makanya nanti kita dorong daerah kabupaten kota,’’ ucapnya.

Rombongan Pemprov Kalsel yang ke Finlandia diikuti beberapa kepada satuan kerja perangkat daerah (SKPD).

Yaitu Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Hanif Faisol Nurofiq selaku pimpinan delegasi, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Kepala Biro Pengembangan Produksi Daerah.

Ada beberapa poin penting yang di bawa pulang dari Finlandia.

Selain konsep smart city juga ada tata kelola pengelolaan hutan lestari dan pengembangan energy dari limbah buah sawit.

Direncakan ada kerjasama antara pemprov dengan pihak perusahaan atau lembaga dari Finlandia.(RW)

 200 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: