Suarindonesia – Sebagian pasien karantina khusus di Banjarbaru dan Tanah Laut melakukan protes karena terlalu lama menunggu hasil uji swab.
Ketua Harian Gugus Tugas Percepatan Penangan Covid-19 Kalsel, Abdul Haris Makkie, mengakui proses pengujian spesimen swab melalui metode PCR membutuhkan waktu yang lama, sebab kapasitas PCR di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Banjarbaru sudah overload.
Permasalahan utama dalam penanganan covid adalah keterbatasan peralatan konfirmasi melalui metode PCR.
Ia menyebut saat ini sedang disusun pemenuhan penambahan alat. Ia berharap secepatnya bisa beroperasi.
“Kami mohon maaf bahwa kondisi ini harus dihadapi. Tidak ada maksud untuk memperlambat tapi memang karena peralatan yang kurang mencukupi dengan jumlah sampel yang ada.
Agar mempercepat mulai sekarang sampel spesimen swab dari Kalteng sudah tidak diperiksa di Banjarbaru lagi,” kata pria yang juga menjabat Sekda Prov. Kalsel ini.
Untuk mengatasi keterlambatan saat ini sedang ditambah peralatan uji spesimen. RS Ulin dan Ansari Saleh juga akan diaktifkan melakukan uji spesimen, sehingga tidak hanya mengandalkan BBTLKPP Banjarbaru.
“Saya kemarin sudah telepon kepala BBTKLPP sampel swab numpuk di angka 2.640 sekian, sedangkan kemampuan pengujian hanya 200 swab per hari,” kata Wakil Ketua Harian Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kalsel, Hanif Faisol Nurofiq, Kamis (4/6/2020).(RW)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















