SuarIndonesia — Dua pria kembali menggelar aksi membakar Al Quran di luar gedung parlemen Swedia di Stockholm pada Senin (31/7) siang.
Salwan Momika dan Salwan Najem terlihat menendang dan menginjak kitab suci umat Islam itu dan kemudian membakar halaman per halaman sebelum menutupnya.
“Saya akan membakarnya berkali-kali, sampai Anda melarangnya,” kata Salwan Najem kepada surat kabar lokal, Expressen.
Pembakaran Al Quran memang terus berulang di Swedia dalam beberapa waktu terakhir. Aksi penghinaan terhadap Islam yang berlangsung hari ini pun kembali mendapat izin dari polisi Swedia.
Padahal, pemerintahan Perdana Menteri Ulf Kristersson tengah memutar otak agar dapat melarang aksi pembakaran kitab agama yang sudah membuat negaranya banyak dikecam komunitas internasional, terutama dari dunia Islam.
Selama ini Swedia memang hanya bisa mengecam pembakaran Al Quran tanpa dapat melarang aksi tersebut lantaran menerapkan undang-undang kebebasan berekspresi.
Dikutip AFP, Salwan Momika dan Salwan Najem juga telah menggelar aksi serupa dua kali. Kedua protes sebelumnya pun telah menyebabkan kemarahan dan kecaman yang meluas.
Swedia sampai-sampai memerintahkan 15 badan keamanan termasuk militer untuk berjaga-jaga mengantisipasi ancaman keamanan termasuk upaya terorisme akibat aksi pembakaran Al Quran yang berulang.
“Di sini, di rumah kita tahu bahwa negara, aktor dan individu seperti negara dapat memanfaatkan situasi ini,” kata Kristersson dalam sebuah posting di Instagram.
Iran Murka
Iran mengancam bakal menghukum habis-habisan siapa pun yang membakar kitab suci umat Islam, Al Quran, usai rentetan insiden pembakaran Al Quran terjadi di Swedia beberapa bulan terakhir.
Pemimpin Tertinggi Pasukan Al Quds Angkatan Bersenjata Iran (IRGC), Ali Mohammadi-Sirat, mengatakan orang yang tidak menghormati Al Quran harus merasa ketakutan sepanjang hidupnya.
Diberitakan CBS, menurut media pemberontak Iran Internasional, Mohammadi-Sirat meminta pihak berwenang Swedia untuk menyerahkan Salwan Momika, pelaku pembakaran Al Quran saat Iduladha, kepada mereka dengan alasan bahwa siapa pun yang menghina Nabi Muhammad dan Al Quran harus dieksekusi.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei juga menggemakan peringatan yang sama dan menuntut agar Swedia menyerahkan sang pengungsi Irak itu kepada mereka.
“Penghinaan terhadap Al Quran di Swedia adalah peristiwa pahit, konspiratif, berbahaya,” kata Khamenei dalam unggahan media sosial.
“Ini adalah pendapat semua cendekiawan Islam bahwa mereka yang menghina Al Quran pantas mendapatkan hukuman terberat,” lanjut dia, seperti dikutip CNNIndonesia, Senin (31/7/2023).
Di samping Iran, pemerintah Irak juga mengambil langkah tegas dengan memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Stockholm. Sejumlah negara mayoritas Muslim juga memanggil duta besar Swedia di negara masing-masing untuk mengajukan protes secara resmi.
Menteri Kehakiman Gunnar Strommer mengatakan langkah-langkah itu bakal memungkinkan Swedia untuk “mencegah dan menghambat terorisme dan ekstremisme.”
Meski tengah dilanda ancaman besar, warga Swedia justru semakin banyak yang mengajukan izin berdemonstrasi dengan membakar kitab suci.
Perdana Menteri Ulf Kristersson pun menyampaikan keprihatinannya dan khawatir bahwa jika izin semacam itu diberikan maka bisa memperburuk ancaman yang sudah ada.
“Jika diizinkan, kita akan menghadapi beberapa hari di mana ada risiko yang jelas dari sesuatu yang serius terjadi. Saya sangat khawatir tentang apa yang bisa menyebabkan itu,” kata Kristersson. (*/UT)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















